Derik tak bisa tidur nyenyak. Apa benar yang barusan tadi adalah dirinya? Apa ia mabuk? Apa kafein membuat kesadarannya menghilang sampai tak bisa membedakan mana istrinya, Adel dan perempuan kampung Viona? Kenapa juga ia mencium gadis itu? Ah, mungkin memang gadis laknat itu yang menggodanya. Tak habis pikir dengan yang ia lukukan barusan, Derik membiarkan tubuhnya berbaring dan matanya memejam. Berharap kejadian barusan hanya mimpi belaka. Tapi, bibir gadis itu masih saja membuatnya gelisah. Ciuman amatir yang membuatnya jadi dominan. Ia biasa saling memagut, karena Adel sudah terbiasa berciuman. Dua-duanya selalu ingin dominan. Sedang yang tadi ... ah Derik merasa sombong. Ia pagut dan tuntut bibir ranum dan manis itu. Malu-malu, takut, tapi desahan lirih gadis kecil itu seketika mem

