Viona jelas gelagapan. Ia meronta, tapi Derik di bawah sana malah semakin mendekapnya erat. Bibirnya yang dibungkam mulut Derik, tak bisa ia keluarkan teriakan. Makin lama, ia merasa terbuai. Tak ayal desahan lolos begitu saja. Meski ia tahu Derik tak sepenuhnya sadar. Kecupan terjadi begitu saja. Viona yang awam hanya mengikuti alur serta ritme yang Derik atur. Tangan Derik di belakang kepala menekan terus agar Viona yang hendak lolos langsung ia tangkap lagi. Menekan, menuntut, mencecap semua rasa hingga tangan Derik mulai merayapi ujung kaus Viona. Memasukkan tangannya ke belakang, menemukan tali pengait, ia lepas tanpa permisa. Viona merasakan tangan dingin tapi membakat tubuhnya itu merayap di dalam. Hinggal tali terlepas, gundukan yang ia sangga pun mulai bebas dari peraduan. Meng

