Sebuah panggilan masuk ke ponsel Rizal. Nama Desti terlihat jelas, membuat Rizal menyingkir. “Ada apa?” Sahutan itu terdengar dingin. Tak seperti Rizal sebelumnya yang selalu hangat. “Mas, Papa sudah bicara kan sama kamu?” tanya Desti dari seberang. “Iya,” sahut Rizal pendek. “Jadi, apa keputusanmu? Kita rujuk kan? Aku masih mencintaimu, Mas.” Rizal tersenyum miring. Bahkan empat tahun lamanya saat mereka hidup bersama, kata-kata itu tak pernah keluar dari mulutnya. Selama empat tahun, Rizal hanya cinta sendiri. Dia mencintai Desti, tapi tidak sebaliknya. “Mas, kamu masih dengar aku kan?” “Maaf aku sibuk.” Rizal segera menutup sambungan teleponnya. Dia terduduk lemas di sisi ranjang di kamarnya. Saat dia ke rumah orang tuanya, dan sejak dia berpisah dengan Desti, Sasti sela

