“Hah? Tidak tidak, tidak ada masalah apapun yang aku alami” Wulan berusaha untuk menyembunyikan masalahnya, ia mengembangkan sedikit senyum dengan terpaksa di wajahnya. Ia ingin meyakinkan Axita kalau memang ia tidak memiliki masalah yang mengganggunya.
“Benarkah? Kamu yakin? ceritalah” Axita masih tidak percaya. Kegelisahan yang ia tangkap sebelumnya membantah jawaban Wulan.
“eeee”
“Ceritalah”
Sedikit ragu. Wulan menarik nafas panjang untuk memulai menceritakan. Ia menceritakan dengan runtut apa yang barusan ia alami dengan nada pelan. Ia tidak mau orang lain mendengarnya. Ia juga takut kalau orang yang mengikutinya tinggal di kamar asmara ini juga. Hal ini tidak menutup kemungkinan mengingat ruang tidur asrama hanya ada satu. Semua putri beristirahat di sini. Akan sangat bahaya jika yang mengawasinya adalah salah satu putri di sini.
“Sudahlah tenang. Hubungi aku kalau kamu ada masalah” Axita berucap sambil menyerahkan sebuah gelang hitam diam diam. Tampak gelang itu memiliki beberapa tombol.
“Pakailah. Pencet tombol merah kalau kamu butuh bantuanku. Jangan lupa pencet tombol biru supaya aku paham lokasimu”
Segera Wulan memakai gelang itu.
Ajiab!
Gelang itu langsung tidak terlihat kala menempel pada pergelangan tangan Wulan.
“Kenapa perginya gelang itu?” Wulan bingung.
“Tenang. Gelang itu sudah bersatu denganmu. Tombol itu akan muncul di telapak tanganmu kala kamu membutuhkan bantuanku”
Wulan mengangguk tanda mengerti.
“Ingat jangan sekali kali kamu memencet tombol hitam.”
“Ingat” Axita mengulang kalimatnya untuk mengingatkan.
“Baik”
Axita beranjak. Ia hendak kembali ke ranjangnya.
“Kenapa tiba tiba gelap ?” Axita mengurungkan langkahnya dan berpegangan tangan dengan Wulan.
“Ada apa ini gerangan? ” ucap Wulan dengan panik.
Para Putri yang berada di kamar asmara panik. Malam sudah larut. Mereka terbangun mendengar suara satu sama lain. Suara mereka memenuhi ruangan. Suasana menjadi ricuh dan mencengkram.
‘BRAKK!’
Suara pintu terbuka dengan paksa. Kepanikan terus menyelimuti mereka. Semuanya sibuk berusaha keras memanfaatkan kekuatannya untuk mengamankan diri.
Grave si putri dari matahari berhasil mengeluarkan api dari tangannya. Ini adalah kali pertama Grave berhasil menggunakan kekuatannya. Ia tidak mengetahui kalau ia memiliki kekuatan mengeluarkan api dari kedua tangannya.
Remang remang. Dari bantuan api yang menyala di tangan Grave, tampak berdiri di depan pintu. Sosok dengan jubah hitam. Petir menyambar. Melengkapi suasana mencengkram di kamar asrama putri. Siapa kah sosok itu? Mengapa membuka pintu kamar asrama putri secara paksa? Mengapa tampak sangat menakutkan?
Petir terus bergemuruh. Semua masih panik dan berusaha untuk mengeluarkan kekuatannya. Namun nihil. Tidak ada yang berhasil mengeluarkan kekuatannya selain Grave. Mereka hanya bisa ketakutan dan pasrah.
Sosok itu membuka tudung kepalanya. Mereka masih tidak dapat mengenali sosok tersebut.
“Ax! Apa sosok ini yang mengikutiku sebelumnya?”
“Mungkinkah ini? Apa kau yakin?” Axita masih ragu dengan sosok itu, apakah benar Wulan di awasi oleh sosok semenyeramkan ini? Axita bertanya pada dirinya sendiri dalam hati.
“Aku juga tidak tahu. Tapi kemungkinan selalu ada. Bukankah menghuni asrama ini sangat banyak? Kita juga tidak tahu isi asrama ini seluruh sisi”
“Sepertinya kamu harus berlindung di belakangku”
Wulan langsung memposisikan diri di belakang badan Axita. Berusaha untuk menyembunyikan tubuhnya di balik tubuh mungil dari sapuan pandangan sosok itu.
‘Tek’
Lampu kembali menyala dan menerangi ruangan kembali. Mereka bernafas lega dapat melihat seisi ruangan dengan jelas. Pandangan mereka masih tertuju pada pintu dengan rasa penuh ketakutan. Axita melihat dengan seksama. Berusaha untuk mengenalinya. Namun ia fatal untuk mengetahui siapa sosok itu.
“Selamat malam anak anak. Selamat buat Grave yang sudah berhasil memunculkan kekuatannya. Ibu bangga padamu”
“Huh”
Lega. Ternyata kepala asrama. Ia datang tiba tiba untuk menguji refleks anak anak. Ternyata baru Grave yang refleksnya sudah berfungsi sehingga bisa mengeluarkan kekuatannya.
“Sudah kalian kembali tidur, Besok kalian harus ada progres yang baik mengendalikan kekuatan. Semua harus ada perkembangan”
Kepala sekolah berjalan keluar. Pintu tertutup kembali dengan rapat dan terkunci. Salah satu kekuatan kepala asrama adalah mengendalikan suasana. Ia dapat dengan mudah mengubah suasana yang ada. Selain itu kepala asrama juga memiliki kemampuan untuk mengunci dan membuka kunci tanpa menegang kunci. Kekuatan yang sangat luar biasa. Kekuatan ini biasa ia gunakan untuk menguji kemampuan para putri di asrama.
“Ternyata kepala sekolah” Axita berucap. Wulan keluar dari balik tubuh Axita.
“Syukurlah bukan sosok itu. Lantas siapa yang mengikutiku sebelumnya ? apakah mungkin kepala sekolah?”
“Sepertinya itu tidak mungkin. Jika kepala asrama harusnya aku dan putri lain juga di ikuti. Tidak tidak sepertinya bukan kepala asrama”
Felix menyadari Axita tidak berada di sisinya. Ia mencari keberadaannya. Lini demi lini ruangan ia amati dengan seksama.
“Akhirnya”
Felix segera berjalan mendekati sahabatnya. Sepertinya sahabatnya itu tengah membicarakan sesuatu yang penting.
“Hey tidak bilang bilang kau ada di sini” ucap Felix kalau sampai di dekat Axita.
“Eh ini siapa? Kayaknya kalian sedang membicarakan hal penting” Felix langsung ponasaran dengan sosok yang sudah ia lihat beberapa kali itu, namun ia belum mengenalnya.
“Oh kenalin. Wulan”
“Felix, sahabat Axita”
“Sepertinya ada masalah serius yang kalian bicarakan? Mungkin aku bisa bantu?” felix berusaha untuk menawarkan diri memberi bantuan. Siapa tahu ia dapat membantu mereka menghadapi masalah yang ada.
“Ada sosok yang mengawasi Wulan.”
“Hah benarkah? Di asaram ini ada penyusup?”
“HUSST!” Axita berusaha menghentikan ucapan Felix yang terdengar keras.
“Kenapa?” Felix merasa bersalah bercampur penasaran. Kini ia berbicara dengan memelankan suaranya.
“Tidak apa dia tahu masalah kamu kan?” Axita bertanya kepada Wulan. Ia merasa bersalah dengannya karena menceritakan masalahnya kepada orang lain. Ia takut Wulan keberatan.
“Sudahlah tidak mengapa. Sudah terlanjur juga”
“Yang penting cukup kita saja yang tau ini. Aku khawatir salah satu putri di sini yang mengawasiku” lanjutnya.
“Siap aku pasti tutup mulut masalah ini” Felix berusaha untuk membuat Wulan tenang kembali.
“Sebentar” Felix langsung menutup kemua matanya. Dalam pejamannya itu ia tampak tenang.
Axita dan Wulan yang melihat ke arah Felix dengan seribu pertanyaan. Apakah gerangan yang ia lakukan.
“Ada tanda tanda siapa yang mengikutimu”
“Hah?”Axita kaget. Sejak kapan sahabatnya itu bisa menggunakan kekuatannya? Apa selain mengendalikan pasir dan benda benda Felix memiliki kekuatan lain yang tidak ia ketahui?
“Iya. Ada tanda tanda siapa yang mengikutinya. Sosok perempuan dari Klan Matahari. Hanya itu yang aku dapatkan. Aku belum bisa melacak informasi lebih jauh soal ini”
“Oh terima kasih banyak Felix. Kamu sangat membantuku” ada sedikit kebahagiaan yang tergores di wajah Wulan. Bagaimana tidak. Ini ia mendapat petunjuk walau itu masih sangat terbatas. Setidaknya ia bisa berjaga jaga dan berusaha menjauh dari putri Klan Matahari.
“Lix? Sejak kapan kamu punya kekuatan ini?” Axita menggeleng gelengkan kepanaya. Axita masih tidak percaya dengan kemampuan sahabatnya ini.