Chapter 4

1067 Kata
Sejak kejadian itu, mereka menjadi tiga serangkai. Wulan merasa sedikit terlindungi dengan keberadaan Axita dan Felix. Mereka selalu mengawasinya. Berusaha untuk melindungi dirinya dari ancaman yang selalu mengintainya. Apalah daya, Felix tidak memiliki kekuatan untuk melihat masa depan. Selain mengendalikan serbuk pasir, Felix juga memiliki kekuatan untuk melihat kejadian di waktu yang sudah terlihat. Ia seperti memiliki kemampuan mesin waktu, hanya saja ia hanya bisa menerawang ke belakang. Tidak bisa melihat kejadian yang akan datang. Andai saja Felix mempunyai kekuatan untuk membaca waktu yang akan datang, ia dapat mengetahui apa yang akan terjadi pada Wulan dan melindunginya. Di antara mereka tidak ada yang memiliki kemampuan untuk melihat apa yang akan terjadi dan bagaimana perasaan orang dan isi hatinya. Wulan selalu menghindari orang orang yang sekiranya berasal dari Klan Matahari. Ini demi keselamatannya. Hanya itu petunjuk yang ia tahu dari Felix. Sosok yang mengincarnya dari Klan Matahari. Kekuatan Felix untuk membaca masa lalu masih sangat lemah. Seandainya mereka sudah dapat mengendalikan kekuatannya, mereka akan sedikit tenang karena memiliki perlindungan diri. Mereka harus selalu waspada setiap saat. Putri Wulan yang di prediksi memiliki kekuatan untuk membekukan benda benda dan makhluk bernyawa belum juga menemui titik terang. Ia masih kesulitan untuk melakukannya, bahkan hanya untuk membekukkan benda benda yang begitu kecil ia belum mampu. Apalagi Axita si kutu buku. Ia lebih parah, kekuatan yang dimilikinya belum juga diketahui. Para akademisi juga heran. Mengapa selama ini mereka tidak bisa mendeteksi potensi kekuatan pada Axita. Atau justru Axita tidak memiliki kekuatan? “Aw!”teriakan Wulan mengejutkan Axita dan Felix. “Ada apa?!” “Kakiku!” suaranya menjerit. Terliha sekali ia begitu tertekan. Sepertinya ia menahan rasa sakit yang teramat sakit dari lilitan akar yang tidak tahu sumbernya dari mana. Reflek Axita bersamaan dengan Felix melihat ke kaki Wulan. Kakinya terjerat. Akar akar pohon terlihat melilit kakinya dengan kuat. “Siapa yang melakukannya?!”Felix dengan berani angkat bicara. Semua menoleh dan diam. Mereka saling pandang dan bertanya tanya apa yang terjadi. Felix memejamkan matanya dengan hidmat. Berharap ia dapat menemukan jawaban. Ah ini sosok yang berbeda!, gerutunya. Seisi kantin kini melihat ke arahnya dengan perasaan takut. Mereka diam seribu bahasa dan mematung. Semuanya bungkam. Felix berlari menuju aula utama. Lagi lagi kekuatannya muncul tanpa sengaja. Sebelumnya berhasil mendeteksi siapa yang mengikuti Wulan dengan melihat kejadian beberapa menit yang lalu. Kini ia bisa berlari secepat kilat. Di aula utama. Seorang putri terlihat anggun dengan rambut panjang yang terurai. Ia memakai gaun pendek berwarna merah maroon. Lehernya terlihat memakai syal. Ia terlihat sangat feminim. “Hentikan!” teriak Felix. Putri itu menoleh ke sumber suara, mendengar suara Felix. “Apa kamu sadar apa yang kamu lakukan hah?” suara Felix meninggi. Ia tampak sedikit kesal dengan kedatangan Felix. Raut wajahnya berubah. Belum berhasil ia berlatih, konsentrasinya sudah hilang di buyarkan oleh Felix. ‘Dasar Pengacau’ dalam batinnya protes. “Memangnya apa salahku? seharusnya aku yang bertanya, siapa kamu tiba tiba datang dan menghilangkan konsentrasiku? Apa urusannya denganku?” ucap Putri tersebut dambil berjalan mendekati Felix. “Jangan pura pura tidak tahu. Kamu yang mengeluarkan akar akar tanaman bukan, Apa maksud kau menyiksa sahabatku? Siapa kamu sebenarnya? Ada motif apa kau mencelakainya?” “Dari mana kau tau kekuatanku?” nadanya terdengar begitu terkejut. Felix membisu tidak menjawab. Ia segera mendekat dan menarik tangan sang putri yang masih kebingungan itu. Dalam batin putri, ia belum pernah memberi tahu apa kekuatannya kepada siapa pun. Ia sendiri adalah sosok yang pendiam dan suka menyendiri. Hanya hitungan detik Felix sudah berada di kantin. Tangannya masih mengandeng putri yang ia temui di Aula utama. Felix membawa putri itu dengan kekuatannya berlari secepat kilat. “Lihat? Apa kamu melihatnya?” Felix tampak kesal, telunjuk tangan kanannya menunjuk ke arah kaki Wulan yang masih terikat kuat oleh akar akar tanaman. “Ini ulahku? Maaf aku benar benar minta maaf. Aku tidak menduga kalau latihanku justru menyiksa orang lain. Sekali lagi aku benar benar minta maaf” kini ia merasa sangat bersalah. Ia tidak menyangka jika kekuatan yang sedang ia latih justru membahayakan untuk orang lain. Tanpa aba aba ia mulai menarik nafas panjang. Berusaha untuk fokus. Akar akar tanaman yang melilit kaki Wulan satu persatu mulai menghilang. “Huh! Akhirnya aku dapat mengendalikannya juga” ia melihat kedua telapak tangannya. Ekspresi wajahnya tampak bahagia sekali. Ia bernapas lega. “Siapa kamu sebenarnya?” Felix mencoba untuk mengintrogasinya kembali. Rasa kesal datang menyelimuti hatinya. Ia mencoba menenangkan diri, memejamkan mata, ingin mengetahui siapa sebenarnya sosok di depannya itu dan dari mana ia berasal. Ah! Felix masih saja gagal untuk menggunakan kekuatannya yang masih lemah itu. Mungkin karena hatinya yang sedang tidak tenang. “Maaf kalau apa yang aku lakukan menyiksamu. Perkenalkan aku Arimbi. Aku tidak bermaksud mencelakakan siapa pun. Aku hanya berlatih menggunakan kekuatanku. Aku sangat ingin segera dapat mengendalikan kekuatanku. Aku minta maaf sekali” Felix menerima permintaan maaf darinya. Memang terlihat dari bola matanya ia serius. Ia sungguh sungguh untuk meminta maaf. Dan tampaknya memang benar ia tidak memiliki niat jahat apapun. Arimbi, ya nama putri itu. Sejak saat itu dari tiga serangkain kini menjadi empat serangkai. Mereka selalu bersama ketika menuju ke aula utama atau pun menuju kantin. Bahkan di waktu luang mereka gunakan untuk mempelajari kekuatan mereka masing masing dengan berbekal buku yang mereka pinjam di perpusatakan bersama sama. Satu demi satu kekuatan mereka mulai dapat di kondisikan. Sungguh perubahan yang menyenangkan! Felix, kini ia sudah bisa membaca apa yang terjadi di suatu tempat bahkan kejadian satu jam yang lalu. Kemampuannya belum maksimal, setidaknya ia sudah dapat bernapas lega karena sudah mendapat titik terang. Kekuatannya lari super kilat pun kini sudah benar benar dapat ia kuasai. Dengan mudah ia dapat berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain dengan cepat. Namun kekuatannya belum juga dapat ia kendalikan dengan sempurna. Ia belum bisa memindahkan benda benda yang berat. Ia hanya bisa membawa lari benda benda yang ringan dan membawa satu orang bersamanya. Padahal berdasarkan apa yang ia baca dalam buku, jenis kekuatannya itu memiliki potensi untuk memindahkan benda benda yang super berat. Arimbi. Kini ia sudah bisa mengendalikan kekuatan sihirnya. Ia dapat dengan mudah membuat akar akar tanaman yang kokoh dan sesuai titik yang di harapkan. Besar kecil akar yang ingin ia ciptakan juga dapat ia buat sesuai keinginan. Kini ia tidak lagi menciptakan akar yang melesat jauh seperti tempo lalu kala ia ingin membuat akar di aula utama justru malah muncul di kantin dan melilit kaki Wulan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN