Chapter 5

1047 Kata
Chapter 5 “Sabar, sabar, sabar” suara Axita yang berusaha menenangkan diri. Tampak sesekali ia mengambil napas dan membuangnya kembali dengan perlahan. Berharap hembusan napas yang ia buang dapat menetralisir suasana hati yang melandanya. Kekhawatiran menyelimuti hati Axita. Bagaimana tidak. Ia belum memiliki perkembangan sama sekali mengenai kekuatannya. Kekuatannya masih belum juga dapat ia ketahui. Ia duduk dengan perasaan tidak tenang. Tampak sekali dari raut wajahnya yang tergambar. Ya hari ini adalah hari evaluasi. Hari di mana mereka harus menunjukkan kebolehannya menggunakan kemampuan mereka. Hari evaluasi ini cukup menegangkan, karena siapa pun dari mereka yang tidak ada perkembangan akan dipisahkan kamarnya. Dikumpulkan menjadi satu di kamar khusus di bawah tanah yang katanya sangat menyeramkan. Dan dari peraturan terbaru, bukan hanya mereka saja yang benar benar tidak ada perkembangan saja yang bisa masuk ke ruang bawah tanah. Namun mereka yang memiliki nilai perkembangan di urutan bawah bisa juga ikut terseret. Felix menoleh ke arah Axita, “Sudah jangan panik, semoga saja ada keajaiban” ucap Felix dengan lirih. Axita mengangguk. Ternyata apa yang ia rasakan disadari oleh teman teman serangkainya. Bukan hanya Felix, mereka juga tampak khawatir dengan nasib Axita. Mereka paham apa yang kini tengah dirasakan oleh Axita. Wajahnya tampak tegang. Meraka juga takut akan berpisah dengan Axita. Memang sungguh malang anak ini. Satu demi satu dari mereka mulai diperintah untuk menunjukkan kebolehannya. “Grave!” Dengan gagah berani Grave segera maju ke depan. Menunjukkan kebolehannya di depan jajaran para akademisi akademi ini. “Bim Bim Bimmm, munculkah!” Grave mulai mencoba mengeluarkan kekuatannya. “Grrrrr!” Grave si putri matahari sukses membuat jajaran akademi terpukau. Percikan api mulai keluar dari kedua telapak tangannya. Semakin lama api yang tercipta semakin besar. Bahkan ia juga dapat membuat bola api di tangannya dan ia permainkan sesuai dengan keinginan hatinya. Beribu ribu tepuk tepuk tangan mulai terdengar menyertai keberhasilannya. Apa yang ia lakukan berhasil menarik hati semua siswa di akademi ini. Mereka kagum dengan Grave yang begitu cepat dapat mengendalikan kekuatannya dengan sempurna. Ia kembali ke tempat duduknya di samping Fira dengan penuh percaya diri. “Yes akhirnya aku berhasil!” ucapnya sambil mengiringi langkahnya menuju tempat duduk. Fira sudah menyambutnya dengan bangga. Jajaran akademi juga tidak kalah terpukaunya dengan kemampuan Arimbi gadis anggun yang selalu memakai syal di lehernya. Ini ia dapat mengendalikan sihirnya untuk mengeluarkan dan menggerakkan akar akar tumbuhan. Mulai dari akar yang kecil hingga besar sudah bisa ia ciptakan. Kini giliran Axita untuk maju ke depan. Axita memandangi teman temannya dengan perasaan tidak yakin pada dirinya sendiri. Ia yakin, ia akan dimasukkan ke kamar khusus dan berpindah dengan teman temannya. Pandangan khawatir juga terpancar dari wajah mereka, namun mereka mencoba untuk meyakinkan Axita. Keajaiban pasti akan datang. Axita memejamkan mata. Ia mulai menarik napas dalam dalam dengan pelan. Ia berusaha untuk rileks walau ia sendiri juga belum tau apa kemampuannya. “Bim Bim Salabim!” Axita mengucapkan matra tersebut dengan pelan. Telapak tangannya mencoba menghadap ke arah benda yang ada di depannya. Sebuah apel merah jadi pilihannya. Semua mata melotot. Melihat apa yang akan terjadi dengan apel itu. “ZONK” Tidak terjadi apa pun pada buah itu. Semua hanya bisa terdiam melihat Axita yang tampak sangat menyesal pada dirinya. “Gagal lagi,” suaranya lirih penuh dengan kekecewaan. “Biar saya coba sekali lagi”Axita meminta kesempatan untuk mencobanya kembali. Para jajaran mengangguk tanda setuju. “Huh, kali ini harus berhasil” Axita mulai serius kembali. Berusaha fokus, ia memejamkan matanya. Beribu harapan ia hadirkan pada diri sendiri. “Bim Bim Salabim!” namun kali ini tangan diam. Dibiarkan berada di samping badannya. Matanya terus terpejam. ‘Semoga saja ini berhasil,’ batin Axita. Suara tepuk tangan dan teriakan bahagia terdengar. Axita membuka mata. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Namun kala matanya terbuka, ia menyadari apel itu kini sudah bergeser. Kemungkinan sekitar lima senti meter. Hatinya sedikit lega. Setidaknya ia dapat menggeser apel itu, yang ia kira itu tidak berhasil. Teman temannya tampak sangat bahagianya. Mereka bersorak. Akhirnya ada kemajuan pada Axita. Ia ini dapat memindahkan apel itu dengan pikirannya. **** Evaluasi telah selesai dilakukan. Kini saatnya jajaran akademisi akademi mengumumkan siapa yang harus masuk ke ruang bawah tanah. Axita tidak bisa menenangkan hatinya. Memang ia tidak gagal, namun menjadi urutan terbawah bisa saja ia peroleh. Terdapat empat orang yang gagal menunjukkan kemampuannya mengendalikan kekuatan diri. Dua di antara mereka zonk, belum mengetahui apa sebenarnya kekuatan mereka. Sedangkan satu orang yang diketahui namanya adalah Hend berhasil mengeluarkan kekuatannya, namun ia tidak mengalami kemajuan sehingga ia di kategorikan gagal. Masih ada satu kandidat lagi yang belum di sebut. Siswa dengan urutan nilai terbawah. Ada beberapa kemungkinan. Kalau tidak Axita, urutan terbawah bisa diperoleh oleh Wulan, karena ia juga tergolong masih sangat rendah kemampuan untuk mengendalikan kekuatannya. “Untuk siswa dengan perolehan nilai terbawah jatuh kepada Axita” Apa yang di takutkan Axita benar terjadi. Ia memang berhasil mengalami kemajuan mengenai kekuatannya. Dari yang sebelumnya tidak diketahui sama sekali apa kekuatannya sampai tanpa sengaja kekuatannya berhasil muncul saat hari ujian tiba. Sangat tidak diduga memang. Namun apa boleh buat, kemampuannya masih di bawah yang lainnya. Sehingga ruang bawah tanah pun tidak bisa bisa jauh jauh darinya. Ia menjadi salah satu yang akan menghuni ruang tersebut. Mau tidak mau Axita harus berpisah dengan teman temannya. Kini ia juga tidak bisa lagi untuk membantu menjaga Wulan. Semua kembali ke kamar asrama. Kecuali empat orang yang gagal ini. Mereka tidak lain adalah Axita, Fira Hend dan Salsabila. Axita yang pendiam bingung untuk memulai obrolan dengan teman yang senasib dengannya. Siswa di akademi ini sangat banyak, mana mungkin ia dapat mengenal semuanya. “Segera bereskan barang barang kalian. Saya tunggu sampai dua puluh menit kemudian di sini” ucap pria yang sangat dingin. Ia adalah akademisi yang akan mengajarkan mereka nanti di ruang bawah tanah. “Baik!” jawab mereka berempat dengan kompak. Axita segera menuju kamar asramanya. Teman temannya yang menunggunya dari tadi tampak senang melihat kedatangan Axita. “Axita!” Wulan langsung menyambar tubuhnya yang mungil. “Sudahlah. Kalian akan baik baik saja. Aku harus segera berkemas. Waktuku tidak banyak” Axita langsung melepaskan pelukan sahabatnya itu dengan berat hati. Axita segera mengemasi barang barangnya. Mereka membantu Axita dengan penuh ketulusan. “Maafkan aku, aku belum bisa ikut menjagamu” Axita memeluk erat wulan yang tampak sedih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN