Chapter 6

1057 Kata
Chapter 6 “Sudahlah tidak apa. Justru aku yang minta maaf karena aku tidak bisa banyak membantumu. Tidak bisa memberi perlindungan kepadamu dan ikut memecahkan siapa yang tengah mengincarmu selama ini. Sudahlah jangan pikirkan aku. Aku akan baik baik saja, justru aku yang sangat mengkhawatirkamu” Axita mencoba untuk kuat. Sebenarnya ia sangat ingin untuk menangis, namun ia enggan. Ia tahan supaya teman temannya tidak terlalu sedih melihatnya. “Jaga diri kamu baik baik. Aku yakin kamu tidak akan lama di sana” Wulan berusaha untuk menghapus air matanya. Ia ingat kembali bagaimana pertemuan pertamanya dengan Axita. Teman pertamanya yang dengan kelembutan hatinya mendatanginya ketika tidak tenang. Axita, sosok yang berusaha menjadi pelindungnya untuk pertama kali. Felix tidak kalah sedihnya melepas perpisahan dengan Axita. Sosok sahabat yang sejak pertama ia kenal dan selalu bersama. Felix tidak kuat, namun ia berusaha untuk kuat. Bagaimana pun mau tidak mau, ini harus dilalui. Axita tersenyum untuk memberi salam perpisahan. Ia segera beranjak dari kamar dan menuju ke aula utama kembali. “Aku yakin kamu tidak akan lama di sana,” teriak Wulan yang di iringi oleh langkah Axita yang semakin jauh. Berbeda dengan Felix dan Wulan. Arimbi justru terasa tenang. Ternyata ada kelemahannya tersendiri yang ia sembunyikan dari semua orang. Ketika ia mengeluarkan air mata, maka butiran air matanya akan berubah menjadi mutiara hitam. Semakin banyak mutiara hitam yang tercipta dari air matanya, maka akan membahayakan orang orang di sekitarnya. Sehingga ia lebih memilih untuk menjaga perasaannya sehingga air matanya dapat ia kendalikan dan tidak sampai keluar dari kedua bola matanya. Mutiara hitam yang dihasilkan dari bulir air matanya ini juga akan melemahkan kekuatan orang orang di sekitarnya selama beberapa saat karena mengandung racun. *** Resmi sudah Axita sah menjadi salah satu anggota empat serangkai yang di tempatkan di ruang bawah tanah. Tempat yang akan menjadi tempat tinggal bagi mereka, pemilik empat nilai terbawah. Mungkin ini sepertinya dapat juga di katakan sebagai penghukuman. Hukuman atas kegagalan mereka mengendalikan kekuatan. Memang benar, mereka yang berada di sini adalah mereka yang tidak ada kemajuan dalam mengendalikan kekuatannya. Namun yang paling parah di sini adalah Axita. Sungguh malang nasibnya. Kekuatan yang dimilikinya apa saja belum terdefinisi. Hanya ia bisa mengendalikan benda yang tanpa sengaja ia ketahui kala evaluasi itu. Padahal ia si kutu buku. Mereka berempat mulai berjalan dengan pelan pelan. Rasa takut juga mereka rasakan. Suasananya sangat mencengkam. Lorong lorong gelap yang panjang. Jalannya tampak begitu mengerikan, tidak ada sumber cahaya sama sekali. Untung saja salah satu dari mereka membawa senter untuk membantu penerangan. Banyak beredar rumor ruang bawah tanah adalah ruang kematian. Ini membuat mereka menjadi semakin ketakutan. Pantas saja banyak yang berusaha mati matian meningkatkan kemampuannya. Istirahat bahkan mereka lupakan. Mereka rela kehilangan waktu istirahat beberapa hari dari pada harus tinggal di ruangan yang menyeramkan itu. Ketakutan mereka dibayar dengan penuh kebingungan. Bagaimana tidak? Setelah melewati lorong yang begitu mengerikan, tepat setelah mereka memasuki sebuah pintu, ruangan di baliknya sangat berbeda. Benar benar di luar dugaan.Mereka membayangkan jika tempatnya lebih mengerikan dari pada jalan yang mereka lalui. Bahkan ruangan ini terlihat begitu luas dan sangat menakjubkan. “Selamat datang di ruangan utama di ruang bawah tanah akademi ini. Selamat kalian terpilih menjadi siswa yang beruntung untuk melatih kekuatan kalian dengan lebih cepat. Perkenalkan, saya Mr. Axe yang akan mengarahkan kalian di sini” Laki laki berbadan kekar dan tampak berotot tiba tiba saja menyambut mereka dengan penuh antusias. Walaupun berbadan besar dan kekar, namun ia tampak begitu tampan, sepertinya usianya tidak begitu tua. “Maksud Mr?” Axita bertanya tanya. Mengingat ia sendiri menjadi siswa yang memperoleh nilai terendah. “Biar saja jelaskan. Evaluasi yang di lakukan itu hanyalah akal akalan saja untuk memindahkan kalian ke tempat ini” Mereka saling berpandangan. Masih tidak menyangka dengan apa yang sebenarnya terjadi Kenapa mereka yang terpilih? “Apa alasannya? Bukankah kami ini justru siswa yang mendapat nilai terendah?” Axita memberanikan diri untuk bertanya. Demi memecah kebingungannya. “Kenapa kami kami ini yang dipindahkan kemari?” lanjut Axita heran. “Memang kemampuan kalian untuk mengendalikan kekuatan kalian mendapat nilai yang terendah, namun demikian bukan berarti kalian tidak punya hal yang istimewa. Justru kalian ini memiliki kekuatan yang begitu besar yang tidak di miliki oleh mereka yang masih bertahan di atas!” “Ada kekuatan yang sangat besar pada diri kalian. Kalian tidak akan bisa melatih kekuatan kalian dengan maksimal apabila kalian tetap berada di kelas sebelumnya. Kekuatan kalian ini juga akan sangat membahayakan jika tidak dikendalikan secara benar” Mereka semua mengangguk mendengar paparan yang disampaikan Mr Exe itu. “Sudah beristirahatlah terlebih dahulu. Besok kalian akan menghadapi hal hal yang tidak pernah kalian duga” Kakinya kemudian melangkah membawanya pergi. Melewati pintu penghubung, tak berselang lama pintu itu tertutup dengan keras dan terkunci rapat. Mereka segera memasuki ruangan yang berbeda. Menuju pintu yang tertulis nama mereka si sisi tengahnya. Itu menunjukkan kamar tempat untuk istirahatnya. Sangat berbeda dengan kamar asrama yang harus dihuni oleh banyak orang. “Lik? Kamu merasakan sesuatu?” Wulan tiba tiba menghentikan langkahnya. Felix dan Arimbi pun ikut berhenti di tempat. Felix memejamkan matanya. Mencoba menerawang apa yang terjadi. Namun semuanya gelap. Ia tidak bisa membaca situasi. “SLET!!” Sebuah anak panah hampir saja mengenai tubuh Wulan. Wulan masih diam mematung. Tidak percaya apa yang barusan terjadi. “Huh Syukurlah aku tidak terlambat.” Arimbi bernapas lega. Andai saja ia telat satu detik saja untuk membuat pagar perlindungan dengan akar akar sihirnya di depan Wulan, bisa saja ia sudah terluka. “Ternyata masih saja ada yang mengincar kamu lan. Kamu ngga boleh lengah.” selesai berucap, Felix mencoba memejamkan matanya kembali. Lagi lagi gagal. Kekuatannya seakan langsung melemah. Aneh sungguh aneh! “Sudahlah kita segera ke asrama saja. Malam juga semakin larut” Arimbi memecah kepanikan. Felix segera menggunakan kekuatan lari super cepatnya. Hanya dengan beberapa detik, mereka sudah berada di kamar asrama. Semakin hari Wulan di buat semakin tidak tenang. Bagaimana ia bisa tenang? bahaya terus mengintainya. Ia sangat berharap kekuatannya segera dapat berdamai dengannya dan dapat dengan mudah ia kendalikan. Namun tetap saja selalu gagal. Mungkin benar, nasib baik tidak berpihak kepadanya. Hari demi hari selalu ia rasakan dengan panik. Pasti ada saja hal yang mengancamnya. Bahkan itu tidak peduli di mana ia berada. Bahaya seakan selalu mengikutinya ke mana ia pergi. Beruntung teman temannya selalu waspada dan menggunakan kemampuan semampu mereka untuk melindunginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN