Chapter 7

1043 Kata
Aku tidak menyangka jika hari-hari di ruang bawah tanah justru terasa sangat menyenangkan. Kira kira sudah satu minggu lewat aku terasa dimanjakan oleh fasilitas di sini. Jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Mr. Exe, Bagaimana bisa kekuatan kami di sini akan semakin cepat meningkat sedangkan kami hanya bermalas malasan dan menikmati semua fasilitas yang ada? Ah aku tidak tahu dan tidak terlalu memikirkan itu. Aku berbaring di kasur yang super lembut. Belum pernah aku mendapati hal selembut ini. Tentu saja ini membuatku sangat nyaman. Mungkin bahanya dari sutera kualitas terbaik. Suara lonceng tiba tiba terdengar. Aku segera bergegas keluar. Menuju sumber suara ity. Sepertinya itu adalah panggilan yang harus segera di respon. Tampak juga mereka yang senasib denganku mencari sumber suara yang sama. Akhirnya kami bergabung menjadi satu kesatuan. “Bagus kekuatan kalian semakin meningkat di sini” Suara Mr Exe terdengar kala kami berhasil menemukan sumber suara yang ternyata dari lonceng yang ia pegang. Lagi lagi ia mengulang kalimat yang pernah ia ucapkan kala itu. ‘Kekuatan kalian akan semakin meningkat di sini’ memangnya kekuatan apa? Aku tidak merasakannya. Kekuatan yang mana ? kekuatan apa yang dimaksudkan oleh Mr Exe?. Padahal tidak ada kekuatan apapun yang kami gunakan. “Sudahlah tidak usah di ambil pusing. Sekarang kembali ke tempat kalian dan segera siapkan apa yang aku minta. Daftarnya sudah ada di meja kalian masing masing dalam kamar.” whatt? Daftarnya sudah di dalam kamar? Kapan ia masuk? Sedangkan aku selalu berada dii kamar. Ah sudahlah itu tidak penting. Waktuku tidak banyak. Aku harus segera bergegas. Berusaha lari secepat kilat. Namun apa daya kami tidak punya kekuatan itu. Kami memanfaatkan tenaga kami untuk berlari secepat mungkin. Sepertinya petualangan di bawah tanah akan segera di mulai. Sepertinya latihan ini sangat keras dan memberatkan, gerutuku dalam hati. Mr Exe juga beranjak pergi. Sepertinya ia juga akan menyiapkan apa yang akan kami hadapi nanti. Ketegangan demi ketegangan mulai muncul satu per satu. “Aw!” aku merintih kesakitan kala aku dapati sebuah ranjau di bawah ranjangku. Aliran darah mulai mengalir di sana. “Lagi lagi aku lengah” ucapku sambil mencoba membersihkan darah yang terus keluar dari kakiku ini. “Tring! Tring! Tring!” Suara lonceng kembali berbunyi. Kini sumber Suaranya itu lebih jauh dari sebelumnya. Mau tidak mau kami mengikuti suara itu. Semakin lama semakin keras yang menandakan jarak kami yang semakin dekat. Dengan terus mengendap endap kami terus berlari sekuat tenaga. Tanpa banyak berpikir, aku melupakan luka di kakiku. Rasa sakit tidak peduli lagi aku rasakan. Aku harus segera beranjak menuju sumber suara itu yang selalu berpindah pindah tempat. Lonceng itu ibarat panggilan yang memanggil kami dengan paksa. Aku terkejut. Ruangan yang baru aku masuki ini penuh dengan ranjau. Ujian apa lagi ini, aku menggerutu seakan tidak siap menghadapi materi pada hari ini. Untung saja apa yang harus aku bawah semuanya telah siap, aku berhasil membawanya hingga ke ujung ruangan. Ruangan kecil berbentuk segi empat. Tampak sudah Mr. Exe berada di sana. Mr Exe ternyata bisa berubah menjadi kejam dan bisa juga sangat lembut. Ini fakta yang baru kami dapatkan. Banyak sekali simulasi yang sangat bahaya di ruang bawah tanah ini. Ekstra hati hati harus selalu kami miliki. Lengah sedikit saja, bisa saja bahaya harus di terima. Memang benar, fasilitas di sini lebih baik dan bagus dari kelas sebelumnya. Namun tingkat bahayanya juga tidak main main. Aku baru sadar. Mungkin ini yang menyebabkan kabar yang sering beredar itu. Ruang bawah tanah sama saja dengan ruang kematian. *** (Sementara di gedung Akademi) “Andai tidak ada Arimbi! Pasti dengan mudah aku mata panahku mengenai Wulan” Greve menggerutu dengan kesal ditempat lain. Langkahnya untuk memusnahkan Wulan selalu gagal. Kepergian Fira ke ruang bawah tanah membuatnya kini menjadi seorang diri. Sedikit kesulitan memang. Keberadaan Fira ternyata cukup menguntungkan baginya. Kini ia harus bekerja sendiri. Greve melakukan komunikasi dengan ayahnya. Ia ingin mendapat petunjuk lebih bagaimana cara melukai putri bulan dan menyekapnya. Ini terasa sangat berat baginya. Teman temannya selalu saja melindunginya. Ia tidak di beri ruang dengan bebas untuk mendapatkan putri itu. Grave memutuskan untuk berkomunikasi jarak jauh dengan ayahnya. “Bagaimana bisa kamu salah?” “Maksud ayah?” “Orang yang kamu ceritakan bukan putri yang ayah maksud. Putri bulan ini tidak dapat menggunakan kekuatannya selain menggunakan benda pustakanya yang terlihat!” Ayahnya mendengkus dengan keras. “Ayah jangan marah marah dulu. Putri itu juga tidak bisa menggunakan kekuatannya kini. Ia juga memiliki kalung yang selalu tergantung di lehernya. Hingga kini ia juga belum bisa menggunakan kekuatannya!” Grave menjelaskan dengan detail kepada ayahnya. Jujur Grave tidak terima dimarahi oleh ayahnya. Ia membalas dengan membentaknya. “Iya sudah harusnya kamu akan mudah untuk melumpuhkannya jika dia belum bisa menggunakan kekuatannya!” “Tidak begitu ayah. Tidak semudah yang ayah pikirkan. Walaupun ia tidak bisa menggunakan kekuatannya namun teman temannya selalu melindunginya. Ini sulit untukku mencelakainya” “Sial!” Grave memilih menyudahi komunikasi dengan ayahnya. Bukannya mendapat bantuan, justru malah mendapat omelan. Ini membuat hatinya panas. Grave duduk termenung sendiri. Ia mencari cara bagaimana ia bisa melumpuhkan Wulan si Putri Bulan itu. Kini ia tidak memiliki bantuan lagi semenjak Fira masuk ke ruang bawah tanah. Andai saja kala itu ia bisa membantu Fira untuk meningkatkan kekuatannya, pasti sampai saat ini Fira masih bisa membantunya sedikit demi sedikit. Grave merasa lelah dengan tugas yang diberikan ayah kepadanya. *** “Bagaimana bisa hingga saat ini kamu belum bisa mengendalikan kemampuan terbesar kamu?” Mr. Exe kini mengintrogasiku. Wajahnya laku. Tidak ada senyum sedikit pun yang tergores pada wajah akademisi itu. Benar benar sosoknya yang tidak bisa ditebak. Kadang ia bersikap sangat lembut bagai sutra kadang juga bersikap begitu kasar bagai batu. Bisa berubah menjadi sangat menyenangkan dan juga sangat menakutkan. “Maafkan aku” Aku menunduk di ruangan kecil di sudut lorong. Hanya ada aku dan Mr. Exe. Rasanya sangat mencengkam. Ia tampak begitu tegas dan marah kepadaku. “Aku tidak butuh maaf kamu! Kamu harus segera bisa mengeluarkan kemampuan terbesar kamu. Mereka semua yang berada di sini sudah dapat mengendalikan kekuatan terbesar mereka. Hanya kamu saja yang belum bisa. Andai saja kamu tahu, tujuan kami membawa kalian ke sini adalah untuk memaksimalkan kekuatan kamu. Bukan mereka bertiga. Kekuatan terbesar ada pada kamu!” “Maaf, aku akan lebih berusaha keras untuk bisa mengendalikan kekuatanku.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN