DL-16

1052 Kata
Pustin hendak mengambil baju yang dia bawa. Akan tetapi wanita pilihan Pustin memaksa untuk membawa baju tersebut. Dan dia menarik tangan Pustin untuk mengikuti dirinya. Bagaikan kisah pasangan pengantin yang hendak berbulan madu. Mereka berempat dibawa ke arah yang berbeda. Hal ini membuat Pustin cukup curiga, “Ke mana kau akan membawa kami?” “Aku tidak akan membocorkannya. Itu nanti tidak akan menjadi kejutan,” jawab wanita itu berhenti sejenak dan memegang tubuh Pustin dan mendekatkan bibirnya ke muka Pustin. Suara jantung Pustin terdengar cukup kencang. Wanita itu menarik kembali tangan Pustin. Nyaris saja Pustin membuat kesalahan ingin mencium wanita tersebut. Beruntung wanita itu segera menarik mukanya dari wajah Pustin. Wanita ini mengajak Pustin ke sebuah lorong dimana terdapat beberapa pintu dengan ukuran besar. Area ini cukup berbeda dengan barak. Interior dan juga tampilan lorong tersebut cukup menarik. Pustin sudah memikirkan hal-hal yang tabu di pikirannya. Wanita itu membuka pintu, lalu dia mempersilahkan Pustin untuk masuk. Di dalam ruangan tersebut terdapat 1 buah tempat tidur di tengah dan juga sebuah bak air dingin yang ada di dalamnya. Jantung Pustin berdegup kencang. Dia harus menelan ludahnya beberapa kali. Dia tidak bisa memikirkan apa yang ada di benaknya. Pustin takut mengkhianati Salsa. Wanita itu memeluk Pustin dari belakang. Dia lalu membalikkan badan Pustin agar bisa saling bertatapan. Wanita itu memegang tubuhnya dan kembali wajah mereka saling berdekatan. Namun lagi-lagi wanita itu menarik wajahnya menjauh. “Kau tunggu sebentar. Berbaringlah. Ada yang spesial untukmu,” ujar wanita itu keluar dari ruangan dan menutup pintu sembari membawa baju Pustin. Sementara Morcant, Shelby dan juga Brabham juga di bawa ke ruangan yang sama seperti Pustin. Meski di lokasi yang berbeda, tapi ruangan tersebut mempunyai desain dan bentuk yang sama. Shelby dan Morcant senasib dengan Pustin yang merasa deg-degan ketika wanita-wanita tersebut mendekatkan wajahnya. Sedangkan Brabham lebih bernafsu. Dia langsung mencium wanita yang dipilih. Wanita itu juga membalas ciuman dari Brabham. Dengan penuh nafsu wanita tersebut mendorong Brabham ke sebuah dinding dan terus menikmati hadiahnya. Brabham terus membalas ciuman wanita tersebut dan mencoba memegang tubuh wanita itu. Akan tetapi sang wanita menampik tangan Brabham dan mendorong kedua tangannya ke arah dinding. Tiba-tiba sebuah belenggu besi muncul dan mengikat tangan Brabham. Setelah terkunci, wanita ini menjauh dari Brabham. Wajah ayu nan cantiknya berubah menjadi bengis. Brabham cukup terkejut dengan perubahan mimik muka sang wanita. Dan dia juga cukup kaget bahwa kedua tangannya sudah terbelenggu besi dengan rantai yang cukup pendek, “Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Brabham terus berontak. Namun usahanya sia-sia. Wanita tersebut tersenyum licik. Dia mengibaskan rambut kuncir kudanya. Brabham tidak bisa berbuat apa-apa. Dia terus meminta wanita ini melepaskannya dan mengancam wanita tersebut. Tidak ada jawaban apapun dari wanita ini. Dia hanya menggerakkan jarinya di bibir membentuk simbol untuk tutup mulut. Rupanya wanita ini lidahnya sudah terpotong dan tidak bisa bicara. Brabham yang melihatnya bergidik ngeri. Dan sedetik kemudian wanita ini melepaskan tendangan tepat ke area pribadi Brabham dengan kencang. Di kamar lain. Pustin ditinggal sendiri di ruangan tersebut. Hanya dia dan sepotong handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Wanita yang menemani dirinya keluar dari ruangan. Tidak berapa lama lampu di ruangan tersebut mati. Sehingga ruangan gelap gulita. Hanya ada sinar cahaya dari bawah pintu. “Aduh! Kenapa lagi ini? Ujian kah?” gumam Pustin yang tidak bisa melihat apapun. Hanya pencahayaan dari bawah pintu saja yang menjadi lampu penerangan. Tidak berapa lama, gas mulai masuk ke dalam ruangan tersebut. Gas itu muncul dari atas plafon ruangan. Pustin sontak merasa kaget dengan munculnya gas ini. Gas ini dengan cepat menyeruak ke dalam ruangan. Mata Pustin perih, dia tidak bisa membuka matanya. Hidung berair juga mulai dirasakan Pustin. Batuk-batuk dan napas sesak mulai dialami oleh Pustin. Gas tidak berhenti, terus menerus masuk memenuhi ruangan. Sesak napas dialami Pustin. Dia terduduk dengan kedua tangannya menutupi hidung. Dia teringat ada sebuah bak air dingin di salah satu sudut ruangan. Dan sesuai buku yang dia baca tadi di teras, air dingin bisa menetralisir gas di tubuh dan wajahnya. Pustin meraba-raba di sekitar ruangan untuk menuju ke bak tersebut. Pustin akhirnya menemukan bak tersebut. Dia memasukkan handuk tersebut ke bak air dingin. Kemudian dia mengusapkannya ke wajahnya. Wajah Pustin cukup segar. Dia bisa melihat posisi pintu, Dengan cepat Pustin berlari menuju ke pintu tersebut. Beruntung pintu ini bisa dibuka dari dalam meskipun di kunci. Pustin akhirnya membuka pintu tersebut dan keluar. Di luar ruangan Pustin terkapar dan tergeletak di lantai dengan handuk basah di tangan kirinya. Tidak lama kemudian, wanita yang membawanya ke ruangan tersebut datang. Pustin hanya pasrah. Dia sudah tidak kuat. Jika wanita ini adalah ujian berikutnya, maka Pustin sudah pasti akan gagal. Akan tetapi wanita tersebut justru memberikan baju milik Pustin yang bersih dan baru, “Pakailah. Aku akan membawamu ke aula.” Pustin heran. Tapi dia tidak mau menunggu lama. Cuaca yang dingin membuatnya menggigil. Pustin dengan cepat mengenakan baju seragam miliknya yang baru dan bangkit. Wanita itu berjalan menjauhi Pustin. Sedetik kemudian Pustin mengikuti langkahnya. Di aula, terlihat Kolonel Horton, Letkol Hustings dan Letkol Herbert berdiri di sebuah meja besar dengan aneka makanan yang lezat. Entah rencana apa yang dimiliki mereka bertiga, Pustin tidak bisa membayangkannya lagi. “Selamat, Pustin. Kau menyelamatkan kedua rekanmu,” ucap Kolonel Horton ketika melihat Pustin masuk ke aula. “Tugas saya sudah selesai, Kolonel,” pamit wanita tersebut kepada Kolonel Horton. “Baik. Kau boleh pergi, Sophie,” jawab Kolonel Horton, “duduk, Pustin.” Pustin mengikuti perintah Kolonel Horton. Dia duduk di sebuah kursi. Tidak lama kemudian Shelby dan Morcant keluar. Tampak wajah mereka sangat kacau. Mata merah, hidung berair dan juga air liur yang menggantung di sudut bibir, menandakan bagaimana muka mereka benar-benar berantakan. Ditambah kulit wajah yang memerah bak kepiting rebus. “Selamat, kalian berhasil diselamatkan oleh Pustin. Silahkan duduk,” ucap Kolonel Horton kepada Shelby dan Morcant. Dengan langkah gontai, mereka duduk di seberang Pustin. Shelby, Morcant dan Pustin saling berpandangan. Namun mereka tidak berani bersuara. Tepatnya tidak sanggup bersuara karena efek gas yang cukup dahsyat. “Kalian berhasil melewati ujian. Pertama kalian tidak bernafsu kepada godaan para wanita tersebut. Yang kedua, Pustin menyelamatkan kalian karena dia berhasil keluar dari gas chamber.” Kolonel Horton berbicara dan bergerak mendekati mereka. “Gas Chamber?” gumam Pustin yang akhirnya tahu ruangan apa yang dia tempati tadi. Ruangan eksekusi untuk para penjahat dengan menggunakan gas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN