Pov Kanaya.
Sudah sebulan lamanya aku tidak bertemu dengan ibu. Aku tidak bisa keluar dari rumah ini. Aku juga tidak dapat menghubungi dokter yang merawat ibu. Bahkan tidak mengetahui bagaimana keadaan paman Diego.
Setelah aku menyetujui untuk menjadi kekasih Mahesa, dia semakin lembut terhadap ku. Meski sesekali kasar karena aku selalu menentang apa yang dia mau. namun dia tidak sekasar seperti hari-hari kemarin. Dia juga mengatakan kalau dia sudah menyerahkan paman ku kepada dokter ahli yang dia bayar untuk mengobatinya. Aku percaya karena yang aku dengar selama ini, kalau seorang Mahesa tidak akan pernah mengingkari apa yang sudah dia janjikan.
Aku ingin meminta kepada Mahesa agar memberikan ku kesempatan untuk bertemu dengan paman ku sekali saja. Setidaknya aku dapat mengetahui kondisi paman dan memberitahu paman agar mengutus seseorang untuk mencari tau keadaan ibu ku di rumah sakit jiwa. Tetapi apakah Mahesa akan menuruti apa yang aku minta? Aku takut dia akan meminta yang lain jika aku menginginkan permintaan ku untuk dia penuhi.
Akhirnya aku memberanikan diri untuk hal itu. Saat itu aku sedang menemani Mahesa makan malam. aku pun mulai menyampaikan niat ku kepadanya, "Mahesa boleh aku bicara?" ucapku dengan ragu. "Silahkan. Aku malah senang bila kau banyak berbicara kepada ku!" jawabnya sambil tangannya terus memainkan garpu dan pisau serta melahap steak yang ada dihadapannya.
Aku mencoba melanjutkan perkataan ku, "Aku ingin menjenguk pamanku. Aku sangat merindukan dan mengkhawatirkannya!" tukas ku setengah berhati-hati kalau-kalau dia marah akan keninginanku ini.
Sesaat Mahesa menghentikan makannya lalu meneguk minuman yang tinggal sedikit dan meletakkan kembali gelas tersebut sambil menatap ku, "Boleh saja aku ijinkan!" ucapnya sambil membersihkan bibirnya, Tetapi aku harus ikut bersama mu!" ucapnya lagi dengan tatapan mata yang tajam. "Aku setuju, kau akan ikut. aku juga tidak akan kabur dari mu!" jawab ku sedikit ketus. Mahesa tersenyum tipis, "Aku senang kata-kata itu keluar sendiri dari bibir manis mu itu. Kay!" Mahesa mencubit dagu ku dan hampir saja menciumku saat wajahnya dia dekatkan kewajah ku.
Aku kesal sebab jawaban Mahesa tidak seperti yang aku harapkan. Aku lalu mencari cara bagaimana agar aku bisa menyampaikan kepada paman Diego nomor dokter yang dapat paman ku hubungi untuk menanyakan khabar tentang ibuku. Akhirnya terlintas cara ini dalam pikiranku. Aku akan berpura-pura memberikan sebuah hadiah kecil untuk paman ku. Aku akan menyelipkan secarik surat untuk paman Diego didalam kotak hadiah itu. Aku rasa Mahesa tidak akan mengetahuinya.
Aku lalu meminta ijin kapada Mahesa untuk membelikan aku sebuah hadiah yang aku tunjuk dari aplikasi belanja online. namun wajah Mahesa seolah tidak suka dengan barang yang aku pilih atau mungkin bukan selera Mahesa berbelanja secara online. Mahesa memanggil James asistennya "Berikan kartu itu James!" perintah Mahesa dan James segera mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada Mahesa dengan sopan, "Kau bisa membelinya sendiri!" ucap Mahesa sambil meletakan kartu itu ketanganku "Pergilah! beli semua yang kau suka. James akan menemani mu!" ucap Mahesa setengah mendekati wajahku. Aku tidak menyangka dia akan memberikan kartu platinumnya nya kepada ku. Melihat hal ini aku semakin tidak mengerti akan maksud dari sikapnya ini.
James mengikuti kemana aku pergi. James memang tangan Kanan Mahesa yang setia. Namun aku merasa risih dan tidak bebas untuk berbelanja. Semua mata para pengunjung butik itu menatap ku. James seolah seperti bodyguard yang sedang menjaga ku ketat.
Aku membelikan sebuah syall dan sweeter untuk paman. Aku tau sebentar lagi cuaca akan menjadi semakin dingin karena memasiuki musim penghujan. Aku ingin paman memiliki pakaian yang hangat untuknya.
Aku terus memperhatikan sikap James dan mencoba mengajak James untuk berbincang-bincang. Siapa tau nantinya James bisa menjadi teman dekat ku lalu kasihan kepada ku dan akan membantuku keluar dari rumah Mahesa. Terdengar naif memang tetapi apa salahnya jika aku mencobanya, "James! Kau umur berapa sekarang?" tanya ku mengawali pembicaraan. "Umur saya dua tahun lebih muda dari tuan Mahesa nyonya!" jawabnya datar dan kaku seperti biasa. "Jangan panggil aku nyonya. Panggil saja Kanaya" ucapku mengakrabkan diri. "Kamu sudah lama bekerja dengan Mahesa?" tanya ku lagi.
"Cukup lama. Sudah sepuluh tahun saya bersama tuan Mahesa. Beliau sangat baik kepada saya" aku merasa ingin tertawa saat mendengar James memuji Mahesa dan mengatakan kalau Mahesa sangat baik. "Baik terhadap mu, kepada ku tidak. orang seperti serigala itu kamu katakan baik?" sahutku setengah mencibir. "Bagaimana jahatnya?" kataku lagi dan James hanya tersenyum walau sebenarnya aku tau dia mungkin memaki ku dalam hatinya karena telah membicarakan yang tidak baik tentang bos nya.
Mobil berhenti dan Mahesa sudah berada ditaman depan rumahnya, dia sedang membaca majalah dan menikmati secangkir kopi hangat. Dia menatap kearah ku saat aku turun dari mobil. Mahesa melempar senyum dari kejauhan dan melambaikan tangannya kearah ku. lalu James mengatakan kalau Mahesa ingin melihat hadiah apa yang hendak aku berikan kepada pamannku. Sepertinya James sudah memberitahukan apa yang sudah aku beli untuk paman. Aku menyerahkan kantung tas tempat belanjaan ku kepada James agar Mahesa semakin percaya kepada ku, "Kenapa kau hanya membeli sedikit barang untuk paman mu?" tanya.Mahesa heran. "Menurut ku itu sudah cukup untuk pamanku" ucapku menanggapi pertanyaannya barusan. "Maaf Mahesa aku merasa sedikit lelah" kataku dan memasang wajah lelah dihadapannya.
Mahesa lalu memegang tanganku dan mengatarku kekamar ku, "Kau istirahatlah Kanaya. Malam nanti aku akan menemani mu tidur" ucap Mahesa dan mengecup tanganku. "Terserah kau saja!" jawab ku sedikit ketus dan aku mulai membaringkan tubuhku diranjang.
Ketika Mahesa telah keluar dari kamarku. Aku segera mengeluarkan semua barang yang aku belikan untuk paman ku. Aku mengubah sedikit rencanaku. Tadinya hadiah itu akan aku kemas didalam kotak. Tetapi pikir ku Mahesa nantinya akan mencurigai ku. Lebih baik surat itu aku selipkan pada saku switeer ini. Aku yakin Mahesa tidak akan memeriksanya sampai sejauh ini.
Aku merasakan ada sesuatu yang menyentuh perut ku. Oh...tidak ternyata aku sejak tadi tertidur hingga aku tidak tau kalau Mahesa sudah tidur dan kami berada satu ranjang. Mahesamendekap ku Sepertinya aku terlalu lelah sehingga tidak menyadari kalau aku sejak tadi sudah tertidur. Aku merasakan haus yang sangat dalam dan tenggorokan ku terasa kering. Tetapi bagaimana aku akan beranjak dari ranjang ini sementara tangan Mahesa mendekap ku sangat erat.
Aku menatap wajah Mahesa dan hendak memastikan kalau dirinya tidak akan terganggu bila aku melepaskan dekapannya. Namun ketampanannya seolah memperdaya ku dan membuat tatapan ku tidak mau beralih dari memandangi wajahnya. Alis mata yang lebat dan teratur, hidung yang mancung dan terbentuk sempurna. Serta bibir yang sedikit merah. Tidak seperti menggambarkan bibir seorang laki-laki. Tergambar jelas lengkungan bibirnya dan tergaris lebar saat dirinya tersenyum tipis.
Bila menatap wajah Mahesa aku seakan berpikir saat ini aku sedang berada dalam dekapan seseorang yang bukan Mahesa yang terkenal kejam dan arogant serta tempramental itu. Wajah Mahesa terlihat seperti seorang bayi yang sedang tertidur pulas.
Aku mulai tersadar saat rasa haus ku mulai mengingatkan ku lagi. Aku perlahan mulai memindahkan lengan Mahesa dan mencoba keluar dari dekapannya secara perlahan. Aku melangkahkan kaki ku dengan berjinjit agar suara langkahku tidak terdengar. Aku membuka pintu secara perlahan dan aku berhasil keluar dari kamar lalu berjalan menuju ke dapur dan membuka lemari pendingin hendak mencari sebotol air dingin. Aku sengaja tidak menyalakan lampu dapur, pikirku nanti akan membangunkan para pelayan dan merepotkan mereka.
Akhirnya aku menemukan satu botol minuman dingin. Aku rasa ini bisa menghilangkan rasa hausku meski ini bukanlah air putih. Setidaknya air dingin yang mengandung rasa ini dapat mengurangi rasa haus ku malam ini.
Aku akan menghabiskannya dalam sekali teguk dan membasahi tenggorokanku yang kering ini. Sehingga dahaga yang tidak tertahan ini dapat terobati. Pikir ku sambil terus meneguknya tanpa banyak berpikir lagi.