Pov Mahesa.
Aku merasakan Kanaya berusaha memindahkan dekapan tanganku dari tubuhnya. Aku merasa curiga hendak kemana dia akan pergi? Apakah Kanaya mencoba untuk kabur dari ku? Itu tidak mungkin bisa. Penjagaan diluar rumahku sangat ketat, semenjak ada beberapa orang yang mencoba ingin membunuh ku. Itulah sebabnya aku tidak membiarkan Kanaya untuk lepas dari ku.
Sebab menurut informasi dari James saat ini para musuh ku sudah mengetahui kalau Kanaya adalah kekasih ku. Karena itulah aku tidak ingin Kanaya celaka sehingga aku menyembunyikan semua tentang keluarga Kanaya dari dunia luar. Baik pamannya dan Ibunya aku juga sudah menjelaskan hal ini kepada paman Kanaya. Untunglah pamannya tidak menganggap ku sebagai seorang musuh baginya. Beliau malah meminta agar aku menjaga Kanaya dari setiap orang jahat. Entah siapa yang paman Kanaya maksud. Namun yang jelas siapa pun orangnya tidak akan aku biarkan menyentuh dan mencelakai wanita ku.
Aku tau maksud Kanaya meminta ijin kepada ku untuk bertemu dengan paman Diego. Aku mengijinkannya agar Kanaya tidak mencurigai kalau paman Diego dan diriku sudah saling sepakat dan tidak ada rahasia diantara kami mengenai Kanaya.
Aku mengikuti Kanaya hendak menuju kemana? Kanya ternyata menuju dapur dengan mengendap-endap. Sesaat aku ingin tertawa melihat sikap Kanaya saat ini. Dia persis seperti seorang maling yang hendak mencuri sesuatu dari lemari pendingin.
Oh...tidak minuman apa itu yang diteguk oleh Kanaya? Dia meneguknya sangat rakus dan hampir habis. Tungu dulu sepertinya aku mengenal botol minum yang diteguk Kanaya? Astaga...itu adalah botol Mansion, Kanaya sepertinya salah meneguk minuman dibotol itu. Aku harus menghentikannya sebelum dia menghabiskan semua isi botol minuman itu. "Kanaya...!" teriak ku sambil meraih botol Mansion ditangannya. Aku lalu menyalakan lampu dapur dan benar saja dugaan ku kalau Kanaya sudah merasakan mabuk. Pipinya sudah memerah dan cegukan serta cara matanya memandangku sudah terlihat berbeda.
Kanaya mendekati ku dan meraba d**a ku, "Hai...pria tampan. Apakah kau sedang menunggu ku!" ucapan dan sikap Kanaya seperti seorang w*************a dan aku hampir saja terpengaruh olehnya. Aku segera tersadar saat bibir Kanaya mendekati hidungku dan aku mencium aroma bau minuman keras dari mulutnya.
Aku lalu menggendongnya dan Kanaya seolah menikmati apa yang aku lakukan lalu merangkulkan tangannya keleherku dan membisikkan kata-kata yang menggairahkan ke telingaku, "Apakah kau akan membawa ku pria tampan! Aku sudah menantikan mu sejak tadi!" bisik Kanaya dengan suara manjanya. Gairah ku seolah bangkit tetapi aku harus manahannya ini bukanlah kemauan Kanaya tetapi ini adalah pengaruh minuman yang diteguknya barusan dan menyebabkan Kanaya mabuk berat.
Aku membanting tubuh Kanaya di ranjang saat Kanaya menggigit telinga ku. Aku semakin terpancing dan tidak dapat menahan diriku. Lalu aku mencium bibirnya dengan penuh gairah dan Kanaya menyambutnya. Aku berusaha menahan tangan ku untuk tidak menyentuh yang lainnya. Namun Kanaya semakin agresif dia tidak hanya menggigit telingaku bahkan leher dan d**a ku. Aku hampir akan melahap Kanaya bulat-bulat namun Kanaya tiba-tiba menjadi tenang dan tertidur pulas.
Aku memutuskan untuk kembali ke kamar ku saja. Agar tidak terjadi adegan yang lebih jauh lagi yang Kanaya lakukan kepada ku. Aku biarkan Kanaya tertidur sendiri kali ini dan aku memberikan kecupan selamat tidur untuknya. Namun lagi-lagi Kanaya masih mengigau dengan mengatakan, "Pria tampan jangan pergi, temani aku!" mendengar itu aku tertawa geli. Tidak aku sangka Kanaya dapat bersikap nakal seperti itu bila sedang mabuk.
Dikamar lagi-lagi aku tidak dapat tidur. Mungkin aku sudah terbiasa untuk tidur satu ranjang bersama Kanaya. Mencium aroma tubuhnya saja sudah membuat ku merasa nyaman untuk tertidur pulas.
Aku kembali membuka dokumen yang kemarin James berikan kepada ku. Semua isi dokumen itu berisi tentang Kanaya yang ternyata bukanlah anak angkat ayah dan ibunya. Kanaya tidak mengetahui kebenaran tentang dirinya. Aku tau Kanaya pasti menganggap diriku sebagai seorang pria yang kejam. Namun Kanaya tidak mengetahui kalau semua yang aku lakukan adalah untuk kebaikan Kanaya.
Entah siapa orang yang berusaha menghancurkan perusahaan milik keluarga Kanaya. Aku juga masih menyelidiki motif dan tujuan orang itu. Aku sangat yakin saat ini mereka pasti mengetahui kalau akulah yang menyelamatkan perusahaan milik ayah Kanaya namun seseorang mengambil keuntungan dari kematian ayah Kanaya. Sehingga banyak orang mengatakan kalau ayah Kanaya melakukan bunuh diri karena diriku atas dendam ku kepada keluarga Kanaya.
Esok harinya aku mengijinkan Kanaya untuk bertemu dengan pamannya. Aku sudah mengetahui niat Kanaya yang mengirimkan surat kepada Diego pamannya dengan sembunyi-sembunyi. Aku berpura-pura seolah tidak mengetahuinya. Aku menemani Kanaya menemui paman Diego. Setibanya disana tangis Kanaya tumpah ketika memeluk pamannya. Ingin rasanya aku menghapus air mata dipipinya saat ini.
James sudah memprediksi akan ada suatu hal terjadi ketika aku dan Kanaya berkunjung ke rumah paman Diego. James dengan sigap mengarahkan penjagaan yang sangat ketat di sekeliling rumah paman Diego. James yakin apa pun akan dilakukan setiap musuh-musuh ku kepada ku. Namun aku pastikan mereka tidak akan melukai kekasih ku ataupun keluarga dari Kanaya.
Ketika pulang aku melihat kebahagiaan tersirat diwajah Kanaya. Perjalanan yang cukup jauh membuat kepalanya terjatuh bersandar pada bahu ku tanpa dia sadari karena lelah. Aku pun juga merasa lelah dan mengantuk sehingga kami berdua tertidur di mobil dalam posisi duduk. Secara aku tidak dapat tidur semalaman karena ulah Kanaya yang mabuk.
James membangunkan diriku dan mengatakan kalau kami telah tiba dirumah kediaman ku. Aku memberi isyarat kepada james agar tidak membangunkan Kanaya. Aku lalu menggendong Kanaya dan dia nampaknya sangat lelap tertidur. Sehingga tidak mennyadari kalau saat ini aku sedang menggendong tubuhnya.
Aku merebahkan tubuh Kanaya diatas ranjang miliknya. Aku mengecup keningnya lalu menyelimutinya. Aku menatap terus wajahnya yang tertidur nyeyak tanpa beban layaknya seperti bayi yang sedang tertidur. Andai Kanaya tau kalau aku melakukan semua ini adalah untuk menjaganya. Andai Kanaya tau kalau bukan akulah yang menyebabkan ayahnya meninggal dunia.
Aku menatap jam pada tanganku sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Aku hanya duduk memandangi Kanaya dari sofa kamarnya. Menatapnya saja aku sudah merasakan kepuasan. Aku semakin mencintai wanita yang sedang tertidur pulas dihadapan ku ini. Aku menusap-usap bibirku pikirku tidak ada wanita yang mampu membuat aku tergila-gila hanya dengan ciumannya saja. Dan itu adalah Kanaya wanita yang sejak dulu aku cintai. Wanita yang menjadi cinta pertama ku saat aku masih kanak-kanak.
Hari sudah semakin larut malam dan aku masih belum dapat memejamkan mata. Barusan paman Diego menghubungi ku dan mengatakan bahwa ada dua orang yang mendatanginya dan menanyakan tentang hubungan paman Diego dengan Kanaya. Aku segera memerintahkan James untuk mencari tau siapa kedua orang tersebut dan apa tujuan mereka menanyakan hubungan Kanaya dengan pamannya.
James memberikan saran kepada ku agar paman Diego pindah dari kediamannya saat ini. Dan Kanaya tidak boleh lagi menemuinya. Ini semua untuk keselamatan paman Diego dan juga Kanaya dan aku akan melakukan hal itu. Aku akan memberikan sebuah rumah tinggal baru untuk paman Diego dan menghindari dirinya dari orang-orang yang sudah mengetahui identitas dari paman Diego.
Meski aku harus membuat Kanaya menyetujui apa yang aku mau dan menutupi tentang keberadaan paman Diego dari dirinya.
Bersambung.