Jasmin tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa terdiam menatap wajah Aurora yang terlihat begitu lelah. “Ra, ehm, buka dulu mukenanya. Habis itu mending juga kita turun bantu emak lo menyiapkan sarapan.” Jasmin beranjak, meletakkan ponsel di meja. Melangkah membuka pintu untuk keluar dari kamar. “Jas, gue belum selesai cerita.” Aurora membalikkan badan ke arah pintu. Tapi, memang benar apa yang dikatakan oleh Jasmin. Daripada pikiran semakin tidak beraturan, mending pergi ke dapur untuk mencari kegiatan. Akhirnya, Aurora melepas mukena, melangkah pergi ke dapur. Berdiri di depan air keran, dia mencuci piring kotor. “Ma, Aurora mau cerita, kenapa, ya, setelah panas tinggi itu, perut jadi sering banget enggak enak rasanya.” “Kok bisa, Ra?” tanyanya sembari menggoreng tempe. “Aurora

