“Ra, maaf buat apa?” tanya Jasmin yang mendengar suara Aurora, bahkan dia mengatakannya dengan keras. “Lo minta maaf karena sudah menolak Langit?” sambungnya. Aurora membelalakkan mata ke arah Jasmin. Dia tidak tahu dengan tingkah temannya yang suka sekali blak-blakkan. Tidak lama kemudian, Aurora merasa tidak nyaman dengan tatapan Langit yang terlihat antara senang atau malu dengan ucapan Jasmin. “Ayo, serius. Jangan mengadi-adi.” Aurora mengusap kepalanya yang tidak gatal dengan lembut, matanya menatap ke arah bawah. Dasar, mengajak untuk bersikap profesional, tapi dia sendiri pun sal-ting dengan candaan itu. Dua menit kemudian, Aurora memilih untuk pamit pergi ke toilet. Dia merasakan ada sesuatu yang harus dituntaskan, terutama rona wajah yang berubah. Berdiri di depan kaca yang ad

