Laras—ibu Langit—terkejut melihat putranya yang sudah pulang. Padahal, pagi tadi, dia mengatakan akan pulang sore hari. Langit menatap ibunya yang masih kaget tidak percaya. “Iya, sudah pulang. Tadi, hanya sebentar. Enggak ke mana-mana lagi langsung pulang.” Langit beranjak mengambil air minum. Tidak lama kemudian, pria itu datang kembali ke tempat ibu dan gadis pujaannya itu duduk. Ikut duduk di sebelah Laras turut ikut serta dalam obrolan mereka yang terkesan tidak jelas. Hingga, akhirnya acara makan itu telah selesai. Memang, acara makan yang sebenarnya hanya sebatas makan dan bertemu, tanpa ada acara spesaial apa pun. Akan tetapi, hal ini telah menjadi sebuah kebiasaan setiap dua bulan sekali. “Saya pamit, ya, Tante,” kata Aurora sembari menjabat tangan wanita itu. “Nanti, kapan-k

