"Ambil ini dan lemparkan ke tempat yang sepi!" ucap seorang lelaki sembari menyerahkan sesuatu pada bawahannya.
"Apa ini, Tuan?" Seorang wanita yang menerima benda berbentuk bulat itu mengernyitkan dahi.
"Itu adalah bom ilusi. Setelah kau melemparkannya, akan terdengar suara ledakan besar namun tidak akan membuat wilayahnya hancur." Wanita yang mendengar itu hanya mengangguk mengerti.
"Jangan lupa bawa surat ini dan ikat ke benda itu!" titahnya tegas lalu melemparkan kertas gulungan kecil pada si wanita.
"Baik, Tuan, saya permisi undur diri." Wanita tadi menunduk hormat lantas berlalu dari sana.
LILY POV
Aku berjalan sambil membawa berkas tadi ke lorong di lantai dua karena di sana cukup sepi. Aku menemukan kamar yang letaknya paling ujung di lorong dengan pintu geseran dari kayu. Mendekat dan mencoba membukanya. Terkunci, batinku.
"Apa yang kau lakukan di sana?" seru seorang lelaki yang berjalan ke arahku.
Aku terkesiap dan berbalik, ternyata Adrian yang tadi berteriak, ia sedang menatapku tajam saat ini.
"Aku hanya ingin mengerjakan berkasku di sini. Mom bilang aku bisa menggunakan kamar yang aku sukai untuk aku jadikan sebagai ruang kerja," kataku jujur.
Adrian menghela napas kasar, kurasa ia sedang kesal namun aku tak mengerti alasan kekesalannya itu. "Kau tidak boleh masuk ke ruangan ini, ini ruangan milikku jadi kau cari saja yang lain!"
Kini giliran aku yang mendengkus "Aku menyukai kamar ini karena suasana yang hening dan damai tanpa keributan."
Tiba-tiba Adrian membentakku. "Kenapa kau sangat keras kepala, hah? Jika kubilang kau dilarang masuk ke sin itu artinya kau tidak boleh masuki. Ini ruangan pribadiku. Pergi sekarang sebelum aku benar-benar marah!!"
Aku menghentakkan kakiku kasar dan meninggalkan Adrian dengan perasaan kesal, hatiku sakit saat dibentak olehnya. Bukan karena aku menyukainya, namun baru kali ini aku dibentak oleh lelaki padahal di dunia manusia aku selalu di kagumi dan digilai kaum lelaki. Harga diriku sudah diinjak-injak oleh dirinya di sini.
Aku berlari menuju taman belakang dan bersiap untuk berteleportasi menuju Diamond Moon pack. Aku bahkan lupa memberitahu Mom dan Dad karena sedang dalam suasana hati yang buruk. Kurasa rumah adalah tempat yang tepat untuk kutuju saat ini.
Tiga detik kemudian aku telah sampai di taman yang dekat dengan tempat pelatihan warrior.
Duarr!!
Baru beberapa langkah berjalan, aku mendengar suara ledakan dari tempat latihan. Tanpa pikir panjang aku berlari menuju tempat itu karena khawatir.
THIRD POV
Seorang gadis tengah bersembunyi di balik pohon setelah melemparkan benda yang tadi meledak di tempat latihan Diamond Moon pack. Setelah merasa situasi aman, ia pun segera melarikan diri.
Sedangkan semua orang juga berlari ke arah suara ledakan. Tidak terjadi kerusakan apa pun di sana. Namun terdapat gulungan kertas yang tertinggal di sana, membuat penasaran penghuni Diamond Moon pack. Jonathan sang Betha mengambil gulungan tersebut dan menyerahkannya pada Emily serta James yang juga ada di sana.
Belum sempat gulungan dibuka, sebuah suara membuat semua orang menoleh. "Apa yang terjadi di sini?" Ia adalah Lily.
"Apa yang kau lakukan di sini, Luna? Sejak kapan kau datang?" Joe bertanya pada Lily, terkejut melihat gadis itu yang tiba-tiba ada di sana.
"Itu tidak penting, sekarang katakan apa yang tadi terjadi!" Joe menceritakan bahwa ia mendengar suara ledakan di tempat latihan yang memunculkan asap putih, namun saat asap menghilang tak ada apa pun yang terjadi dan muncullah gulungan kertas yang sekarang dipegang oleh Emily.
Joe menyuruh semua orang bubar. Kini ia, Emily, James dan Lily tengah berada di ruang kerja James.
Emily membuka gulungan kertas yang diberikan Joe tadi.
Emily dan James yang membaca gulungan tersebut tampak shock dan termenung di tempat. Lily yang melihat ekspresi dari orang tuanya langsung mengambil alih gulungan tersebut dan membacanya dengan suara yang sedikit keras agar semua yang ada di ruangan mendengarnya.
Katakan padaku cara membuka segel Diamond's Wizard! Aku tau Diamond's itu ada pada gadis kecilmu.
Kira-kira begitu isi gulungan kertasnya. Lily mengernyit bingung. Ia menatap orang tuanya dengan pandangan yang seolah bicara 'jelaskan padaku!'
Emily mengembuskan napas resah, ia tak yakin akan mengungkapkan hal itu pada putrinya, Emily menoleh pada suaminya meminta persetujuan dan di balas anggukan lemah oleh James.
Akhirnya Emily menceritakan segala hal pada Lily mulai dari Diamond's Wizard yang merupakan berlian sakti milik keluarga Maylafaizh yaitu keluarga dari sang ibu yang disegel dalam tubuhnya karena banyak yang mengincar diamond itu untuk tujuan yang salah.
Menurut keluarga besarnya, tubuh Lily yang paling cocok dan fleksibel untuk digunakan sebagai wadah Diamond's Wizard itu.
Berlian tersebut dapat mengobati berbagai macam penyakit, meningkatkan kekuatan sihir dan dapat memberikan keabadian bagi si pemilik dengan melakukan sebuah ritual.
Emily gusar karena ia sendiri bahkan tak tahu bagaimana caranya membuka segel itu, bahkan bentuk berlian aslinya saja ia tak tahu, ia hanya mendengar bahwa berlian tersebut berwarna biru oval dan terdapat sayap dari emas putih di kanan kiri berlian.
Bahkan ia sendiri kini bingung karena tidak ada orang yang tahu jika berlian itu sengaja disembunyikan di dalam tubuh Lily selain keluarga besarnya.
Ia takut jika yang mengetahui hal itu adalah seorang warlcok atau witch jahat yang memiliki niat buruk dengan kekuatan berlian. Ia takut jika Lily akan terluka.
Lily terkejut dengan penuturan sang ibu. Ia jadi merasa bersalah karena selalu marah pada ibunya. Karena Emily terlalu protektif terhadap putri tunggalnya itu sehingga Lily memilih pergi ke dunia manusia untuk study dan bersenang-senang.
Seakan tersadar dari pikiran masing-masing. James membuka mulut, "Apa yang kau lakukan di sini Lily? Tempatmu di Golden Moon pack."
Lily terlihat jengah, kenapa semua orang kini mempertanyakan dirinya hanya karena kembali ke rumah? Apa kini ia adalah orang asing di rumahnya sendiri?
Jujur saja ia malas mengingat peristiwa tadi. "Aku tidak suka di sana ayah. Di sini lebih nyaman, tak ada yang berani membentakku atau berbicara tak sopan padaku." Emily mendekat ke arah putrinya.
"Adrian marah padamu?" Lily mengangguk. "Kau pasti telah berbuat salah entah itu sengaja atau tidak," ungkap ibunya.
"Aku hanya berkeliling untuk mencari ruangan yang bisa kugunakan sebagai ruang kerja, aku bahkan sudah mendapat izin dari Mom dan Dad. Namun tiba-tiba Adrian datang dan membentakku karena aku memilih ruangan di lantai dua lorong paling ujung dengan alasan itu ruang pribadinya. Padahal ia bisa saja bicara baik-baik padaku, 'kan?"
Emily tercengang, ia menatap mata suaminya lama seakan-akan bisa bicara lewat tatapan tersebut. "Aku ingin tinggal sementara di sini Ibu, Ayah. Aku ingin menenangkan diri sebentar," pinta Lily.
**********
Lily tengah berkutat dengan berkasnya di kamar. Satu berkas lagi dan tugasnya selesai.
Ia membaringkan tubuh dan memejamkan mata sejenak. Ia berpikir siapa kiranya yang mengincar diamond's wizard itu? Di lain sisi ia juga ingin tahu ada apa dibalik kamar di lorong ujung lantai dua Golden Moon pack. Ia sangat penasaran kenapa Adrian bahkan sampai membentaknya, apa kamar itu menyimpan rahasia Adrian?
Sementara di Golden Moon pack. Renata memarahi Adrian habis-habisan karena kelalaiannya dalam menjaga mate-nya. Bagaimana bisa ia membentak dan membiarkan mate-nya pergi sendiri tanpa pengawalan.
Kenapa Renata bisa tahu? Karena James me-mindlink dirinya dan memberitahu bahwa Lily berada di Diamond Moon pack dan ingin menetap di sana selama beberapa hari.
"Mom tidak mau tahu, kau harus menjemput Lily jika besok ia tidak mau kembali ke sini!" titah Renata.
Wanita itu tampak marah, ia kesal dengan Adrian. Dirinya sendiri yang meminta agar Lily tinggal di Golden Moon pack karena gadis itu adalah pasangannya, Luna dari pack yang dipimpinnya, namun dia sendiri tampak enggan memperlakukan Lily sebagai mate.
"Mom, dia sudah besar, dia bisa menjaga dirinya sendiri," Adrian kesal bukan main karena di hadiahi tamparan dari sang bunda tercinta.
"Kau yang membawanya ke sini, Adrian. Kau sendiri yang bilang jika dia adalah mate-mu, pasangan yang telah ditakdirkan oleh Moon goddes yang harus kau jaga. Seperti inikah caramu menjaga sang Luna? Kenapa tidak kau reject saja dia agar dia bebas tanpa ikatan apa pun denganmu!"
Karena dalam keadaan marah, Renata tanpa sengaja mengatakan hal yang sangat mustahil untuk dilakukan oleh seorang werewolf pada mate-nya. Ya, reject.
Adrian tercengang mendengar ucapan ibunya. Bagaimana mungkin sang ibu menyuruh putra untuk me-reject pasangannya sendiri? Grey yang mendengar itu melolong pilu di dalam kepala Adrian.
Ia memilih pergi ke kamar yang berada di lantai dua untuk menenangkan diri. Ia berjalan menuju ranjang dan berbaring di atasnya hingga tertidur pulas.
to be continue ....