5

1338 Kata
"Semua persiapan telah selesai, Tuan," ungkap seorang lelaki. "Bagus, kita akan mulai p*********n dengan teror kecil besok, jangan lupa tetap awasi gadis itu untukku," balas pria yang tadi di sebut sebagai tuan. "Baik, Tuan, saya permisi," ujarnya, lalu seseorang tadi berjalan meninggalkan tempat tuannya tersebut. ********** Di tempat lain dan di waktu yang sama Adrian tengah mengendarai mobil bersama Lily menuju pack-nya, Golden Moon pack. Lelaki itu merasa puas setelah berhasil memaksa sang gadis yang kini menyandang gelar mateーjodoh yang telah ditakdirkan oleh Dewi Bulan, pergi bersamanya. Sedangkan sang gadis terlihat sangat kesal lantaran orang tuanya lebih membela si lelaki dibanding dirinya sendiri sampai terjadi perseteruan kecil di Diamond Moon pack tadi. Tangan Lily terangkat , ia hendak menyalakan radio namun dicegah oleh Adrian. "Jangan nyalakan! aku lebih suka keheningan." Lily yang memiliki sifat keras kepala tetap saja menekan tombol power dan Adrian begegas mematikannya. Gadis itu berdecak sebal, sekali lagi ia menekan tombol yang sama untuk menghidupkan musik, namun lagi-lagi Adrian mematikan musiknya. Saat tangan Adrian akan menuju tombol tak sengaja tangannya menyentuh jari Lily. Mereka saling bertukar pandang selama beberapa detik sebelum akhirnya Lily memutuskan kontak tersebut. Dasar Mr. Membosankan dan pemaksa!!! batin Lily geram. "Dan jangan lupakan fakta jika Mr. Membosankan ini adalah mate-mu," celetuk Adrian membalas perkataan yang Lily ucapkan dalam hati. Gadis itu terkejut. "Kau membaca pikiranku?" Lily memicingkan matanya curiga. "Pikiran bukan sebuah buku yang dapat di baca Nona." Adrian berkelit. Lily mendengkus, "Dasar sok misterius!!" Adrian hanya melirik Lily yang kini diam dan menekuk wajahnya, ia tak menanggapi gadis itu dan hanya terfokus pada jalanan. Tak lama mereka telah sampai di Golden Moon pack. Lily turun terlebih dahulu dan berjalan memasuki mansion berniat melupakan kopernya. Di lorong, Lily tak sengaja bertemu dengan Geffrey. "Apa yang kau lakukan di sini Ely?" tanya lelaki itu. Ia mengangkat salah satu alisnya. Belum sempat Lily menjawab, Adrian datang membawa koper Lily dan berkata, "Dia mate-ku." dengan muka datar. Entah kenapa Geffrey tidak terlalu terkejut mendengarnya. Ia hanya ber oh ria menanggapinya dan langsung pamit, namun dalam hatinya lelaki itu tertawa, lebih tepatnya menertawai nasib Lily yang menurutnya sangat menyedihkan karena mendapat mate seperti Adrian. "Bawa sendiri kopermu, jangan manja!" Adrian menyodorkan koper pada Lily dan langsung diterima oleh sang gadis. "Ayo ke kamar!" Adrian melenggang pergi tanpa menunggu Lily. Mereka telah sampai di kamar yang bernuansa manly dengan wangi kayu jati. Dinding kamar didominasi oleh warna coklat dan hitam. Sangat suram. Sama seperti pemiliknya, batin Lily sambil melirik ke arah Adrian. Lily mengernyitkan dahinya, ia tak terlalu suka dengan aroma kamar ini. "Aku akan mandi terlebih dulu." Suara Adrian memecah keheningan. "Tunggu! kita akan tidur sekamar? Are you kidding me (kau bercanda, 'kan)?" Lily memekik tertahan. Adrian mengangkat sebelah alisnya. "Tentu saja," balasnya dan melenggang pergi ke kamar mandi. "Oh my God (ya Tuhan), siksaan apa lagi ini, Tuhan. Aku harus sekamar dengan makhluk es sepertinya," gerutu Lily lalu ia meletakkan koper miliknya. Lily membuka kopernya dan mengambil baju tidur, perlengkapan mandi dan bathrobe-nya kemudian berjalan menaruh kopernya di walk in closet, ia berpikir akan merapikannya besok saja karena malam ini ia masih terlalu lelah. Lily menggunakan sedikit sihirnya untuk mengubah aroma kamar ini menjadi semanis permen kapas, aroma kesukaannya. Cat dinding yang tadinya berwarna coklat sudah ia rubah menjadi warna ungu dan magenta persis seperti di kamarnya. "Kurasa ini cukup," ujar Lily bangga. Ia menyeret netranya untuk menjelajahi kamar, menepuk tangannya sendiri bangga akan hasil karya buatannya beberapa menit yang lalu. Tak lama, Adrian keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaos hitam polos yang berlengan pendek dan celana selutut. "Apa yang kau lakukan dengan kamarku?" Adrian terlihat menahan amarah setelah melihat perubahan drastis di kamarnya. "Aku hanya sedikit merenovasinya saja, kamarmu terlihat suram dan menyeramkan, satu lagi aku tak suka aroma kayu jati," ucap Lily dan ia berlari menuju kamar mandi agar tidak terkena amukan Adrian. "Mau ke mana kau? kembalikan dulu kamarku seperti sebelumnya!" teriak pria itu, wajahnya memerah karena menahan amarah. "Setelah aku selesai mandi, aku janji akan mengembalikannya seperti semula, tapi tidak dengan aroma kayu jati di kamarmu, " teriak Lily dari dalam. Beberapa menit berlalu dan Lily keluar dari kamar mandi dengan balutan gaun tidur berwarna putih gading. Ia melihat Adrian di ranjang sedng memandangnya dengan tajam. Lily akui ia merasa terintimidasi dengan tatapan pria itu. Ia menjentikkan jari tengah dan ibu jarinya lalu sedetik kemudian kamar Adrian berubah seperti semula namun aromanya masih semanis permen kapas. Lily berjalan menuju sofa dan berbaring di sana. "Apa yang kau lakukan di situ?" tanya Adrian tak acuh. "Tentu saja tidur, kau tidak berharap aku mau tidur satu ranjang denganmu,' kan?" Lily menaikkan sebelah alisnya berulang kali, berniat menggoda Adrian. "Terserah apa mau mu saja." Adrian tampak tak peduli dan menarik selimut untuk tidur, sedangkan Lily mengambil bantal dan selimut lain lalu bergegas tidur di sofa. "Dasar tidak berperasaan, teganya dia membuatku harus tidur di sofa," gerutu Lily lirih, takut jika Adrian mendengarnya. ADRIAN POV Aku terbangun saat merasakan sinar mentari menerpa wajahku, sedikit menyilaukan hingga menggangu tidurku. Kubuka mata perlahan, hal pertama yang kulihat adalah Lily yang sedang berdiri membelakangiku, membuka tirai jendela. Aku kembali menutup mataku saat gadis itu berbalik dan melangkah pergi. Kubuka lagi kelopak mataku, dan melihat gadis itu berjalan menuju kamar mandi. Aku bergegas mengambil pakaianku kemudian memutuskan keluar dari kamar dan mandi di kamar utama saja. LILY POV Aku keluar kamar mandi setelah menyelesaikan ritual pagiku, memandang ke sekeliling dan tak melihat Adrian di mana pun. Aku bergegas berpakaian. Memakai midi dress yang berwarna merah dengan lengan tiga perempat dan terdapat bordiran di bawah gaun. Aku menguncir kuda rambutku dan memoles sedikit wajahku. Terlihat simple namun masih tetap cantik dan anggun. Aku merapikan kamar dan barang yang di koper dengan sihirku. Tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah Adrian di baliknya. "Sarapan sudah siap," ucapnya. Aku berjalan ke arahnya dan dia menggandeng jemariku menuju ruang makan. Jangan pernah berpikir bahwa wajahku akan bersemu merah karena aku tahu lelaki itu melakukan hal ini hanya sebagai formalitas saja mengingat aku adalah Luna baru di pack ini. Kami sarapan dalam diam, aku memakan pancake dengan lahap karena lezat. Ya, aku hanya makan itu, berbeda dengan anggota keluarga lainnya karena aku tidak biasa memakan makanan berat di pagi hari. "Kapan kau akan mengenalkan Luna-mu di pack ini Adrian?" Dad yang bertanya. Adrian hanya mengendikkan bahu tak acuh dan pergi meninggalkan ruang makan. "Haish, anak itu," Mom mendesah. Tak lama, seorang warrior datang dan berkata, "Maaf Alpha, Luna. Betha dari Diamond Moon pack datang ingin menemui Luna Lily." "Biarkan dia masuk!" balas Dad dan warrior tersebut undur diri. Kami bertiga berdiri dan menghampiri Joe yang duduk di ruang tamu. "Ada apa Joe?" tanyaku. Joe berdiri, membungkuk dan memberi salam pada kami. "Saya hanya menyerahkan berkas yang harus Anda selesaikan dan tanda tangani Luna, mengingat Anda juga pemimpin di Diamond Moon pack." Aku mengangguk mengerti dan mengambil berkas tersebut. Setelah urusannya selesai, Joe pamit pada Mom dan Dad. Namun aku mencegah lelaki itu dengan mencekal tangannya. Joe menatap lengannya yang kucekal lalu pandangannya beralih ke arahku. "Ada yang bisa saya bantu, Luna?" tanyanya sopan. Aku hanya berdecak. "Bagaimana keadaan Ayah dan Ibu?" Joe mengerutkan dahi. "Kau hanya ingin bertanya tentang itu? Bahkan belum ada satu hari kau berpisah dengan orang tuamu. Dasar anak manja." Joe menoyor kepalaku lalu pergi begitu saja, meninggalkan aku yang masih tercengang melihat tingkahnya. Berani sekali dia memperlakukan atasannya seperti itu. Awas saja, akan kubalas kau, Joe. "Kau bisa menggunakan ruang kerja Adrian." Lily menatap kedua orang tua barunya lalu menggeleng, "tidak Dad, bolehkah aku mencari ruang lain?" Mereka menangguk. "Baiklah, kami akan mengubah ruangan yang kau pilih jadi ruang kerjamu setelah kau menemukan ruangan yang cocok." "Thanks (terima kasih), Mom, Dad," ujarku sembari tersenyum. Aku berjalan sambil membawa berkas tadi ke lorong di lantai dua karena di sana cukup sepi. Aku menemukan kamar yang letaknya paling ujung di lorong dengan pintu geseran dari kayu. Terkunci, batinku. "Apa yang kau lakukan di sana?" ucap seseorang yang berjalan ke arahku. to be continue ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN