Pertemuan

2605 Kata
Minggu yang cerah untuk dua hati yang dilanda gelisah asmara. Azkia akan kedatangan tamu hari ini, tamu yang berkabar akan meminang gadis cantik itu. Kali ini Bu Siti sendiri yang langsung terjun ke dapur, meninggalkan pola-pola jahitannya demi menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut tamu. Azkia masih mematung di depan cermin. Ia mengenakan gamis berwarna green bottle jahitan terbaru sang ibu, dibuat dengan tiga kancing yang bisa dibuka di bagian d**a, sisanya dibiarkan begitu sebagai pelengkap keindahan. Perpaduan hijab berwarna abu-abu soft telihat lebih kalem. Azkia memang tidak menyukai banyak dandanan, karena wajahnya rutin dirawat dengan aneka skincare. Menurutnya cantik itu tidak harus mengoles dengan banyak make up, tapi point utamanya adalah bersih. Jadi ia hanya mengoleskan cream pelembab dengan sedikit bedak dan mengoleskan lipstik. Pun pada dasarnya gadis itu tak pandai bergelut dengan alat make up. Azkia pernah ke toko kosmetik bersama Esyana, hanya ingin membeli lotion dan cleanser. Waktu itu, ada perempuan cantik sedang tawar menawar barang dengan abang-abang pemilik toko. “Bang, ini pas kan satu juta aja ya?” Gila! Wanita itu terlihat boros dengan belanjaannya terhadap kosmetik. Azkia tampak kebingungan melihat benda-benda di tangan perempuan itu. Maksudnya bingung cara memakainya. Suara rem mobil membuyarkan lamunan gadis yang tengah mematung di depan cermin. Azkia melirik dari jendela di dalam kamar, sebuah mobil berhenti di halaman rumah. Itu pasti mereka. “Assalamu’alaikum.” Azkia mendengar dengan jelas tamu itu memberi salam, karena kamarnya dengan ruang tamu itu bersebelahan. Lalu terdengar ayah dan ibu yang menjawab salam dan menyambut mereka masuk. Hati Azkia mulai berdetak lebih keras dari biasa. Rasanya gadis itu ingin pura-pura kerasukan setan saja. Ya Allah, tolonglah hamba-Mu yang cute itu. “Kak, ayo keluar tamunya sudah datang.” Ibu masuk ke kamar ketika Azkia yang masih menormalkan detak jantungnya. Berkali-kali ia melirik cermin, bukan untuk melihat riasan wajahnya, tapi mencoba berbicara dengan sosok di cermin, bayangannya sendiri. “Bu, apa gak bisa kita tukeran posisi gitu?” ucap Azkia sambil memegang d**a. “Ya Allah, nih anak kenapa sih? Yang dilamar kan kamu! Kalau ibu yang dilamar, ayahmu mau dibawa ke mana?” ucap Ibu menoyor kepala anak gadisnya. Azkia bergidik geli mendengar kalimat terakhir ibunya. Gadis itu jadi pengen nyanyi lagu Armada, eh! Perempuan bermata teduh itu memegang tangan sang putri dan menuntun keluar dari kamar. Meski berusaha tampil setenang mungkin, tapi jantung Azkia masih berdisko ria, gila! Azkia sampai memastikan kancing bajunya terkait dengan sempurna, jangan sampai jantung keluar melalui celahnya. Sedetik Dua detik Pandangan Azkia menyapu satu per satu wajah tamu itu. Deg! Azkia seperti pernah melihat salah seorang dari mereka. Memorinya memaksa mengingat sesuatu. Oh, s**t! Seminggu yang lalu, saat itu matahari menemani cerahnya perjalanan pulang dari kampus bersama Esyana. Azkia memboncengi sahabatnya dengan motor matic. Saat memasuki jalan kampung, sebuah mobil menyemburkan air sisa genangan hujan semalam karena lajunya yang lumayan kencang. Suara klakson dibunyikan bertubi-tubi, lalu Azkia menepikan motor di bahu jalan. Sebuah mobil ikut menepi di pinggir jalan yang berlawanan. Klakson itu memang ditujukan untuk mobil itu, tepatnya seseorang yang ada di dalam mobil. Azkia melepas helm dan melihat kondisi wajahnya melalui spion. Wajah cantik itu sedikit berlumuran becek jalanan. Merasa jijik, Azkia meludah ke samping. Entah bagaimana, lumpur itu sedikit masuk ke mulut, bikin mual, pengen muntah rasanya. Azkia memang tak menutup kaca helm, toh dia sedang ngobrol sama Esyana. “Mau ngapain, Ki?” Esyana memegang lengan sahabatnya saat dilihat Azkia mendekat ke arah mobil itu, agar tak memperpanjang masalah sepele ini. Bagaimana bisa, bahkan baju gadis itu ikut kotor. Pintu mobil terbuka, terlihat seorang pria bertubuh tegap yang ditaksir umurnya sekitar tiga puluhan. “Ki, ayo pulang saja!” Esyana merayu sambil menarik tangan Azkia. Azkia melangkah menuju tempat lelaki itu berdiri. Dilihat dari penampilannya sepertinya lelaki itu orang yang berpendidikan. Maka setidaknya Azkia harus mengajarkannya cara meminta maaf. Begitulah cara Azkia melupakan kesalahan orang lain. “Pak, kalau bawa mobil itu mikir orang dong!” Azkia kesal. Tak terdengar jawaban lelaki asing itu selain senyum yang coba ia perlihatkan. Tunggu! Beberapa detik kemudian Azkia meragukan kewarasan lelaki di depannya. Masa dimarah malah senyum? Gadis itu mengusap lengan sendiri, merinding jadinya. Ia berpikir mungkin saja yang di depannya kini adalah orang gila yang punya banyak warisan makanya punya mobil, kan bisa jadi! Sebenarnya bisa saja Azkia pulang, toh ini memang sudah masuk jalan menuju rumahnya. Ya, jalannya memang sering tergenang kalau hujan, tapi sebagai manusia kita bisa mengendalikan jalan, bukan? Sial! Pemikiran itu terbantah saat lelaki itu membuka suara. “Mikir sih, ini juga tadi gara-gara mikirin seseorang makanya gini.” Lelaki di depan Azkia tertawa pelan, sekilas matanya melihat Azkia dari ujung kaki yang mengenakan sepatu hingga ujung jilbab. Mungkin dalam hati sedang menertawakan penampilan gadis itu sekarang, itu terlihat dari cara lelaki itu menahan tawa. What the ...! Ingin sekali Azkia mengumpat, tapi rasanya yang diumpat juga tidak akan terpengaruh, jadi akan membuang energi saja. “Tau nggak sih rasanya disemprot pake air kotor?” Suara Azkia naik beberapa oktaf, menyadari bahwa mungkin ia sedang berbicara dengan orang kaya yang tak peka terhadap rasa. Melihat lelaki dengan reaksi seperti itu membuat Azkia semakin kesal. Dibilang kayak Mak lampir di siang bolong, mirip juga sih. Di sela-sela Azkia mengomel yang sama sekali tak dijawab lawan bicaranya, terdengar dering telepon lelaki itu. Tak memedulikan Azkia yang masih merengut, lelaki itu malah melambaikan tangan dan tersenyum tanpa mengucap maaf, lalu pergi melesat dengan mobilnya. Ngeselin banget kan? Lamunan Azkia buyar ketika sang ibu menyenggol lengannya. Azkia tahu aba-aba yang diisyaratkan ibunya, sebab itu ia bersalaman dengan Kak Nisa, menyentuh pipi ke pipi agar terkesan akrab. Juga dilakukan ibu. Hanya dengan kak Nisa, karena yang lain bukan mahram. Jadi Azkia hanya menangkupkan kedua tangan di depan d**a. Sementara ibu meminta diri untuk ke dapur. Ayah duduk bersebelahan dengan para tamu. Azkia duduk di samping ayah, berhadapan dengan seseorang yang terlihat paling muda diantara mereka. Hanya empat orang yang hadir, Kak Nisa dan suaminya. Seorang bapak berkemeja biru laut itu mungkin kerabat dari lelaki itu. Seseorang yang paling muda diantara mereka sedari tadi netra pekatnya menatap Azkia, lalu saat mata mereka bersitatap, lelaki itu hanya menyunggingkan senyum kepada Azkia dan berakhir dengan menunduk. Azkia memanyunkan bibir, sedikit melotot ke arah lelaki menyebalkan yang ternyata pernah ia temui. Mampus kalau terciduk sama yang lain. Setidaknya ia harus tahu kalau Azkia masih marah atas kejadian seminggu lalu. “Apa kabar Azkia?” Azkia sedikit tersentak saat Kak Nisa menanyai, lalu Azkia spontan membuat senyum termanis secara tiba-tiba. “Alhamdulilah baik, Kak” Nisa dan Azkia memang lumayan dekat, hanya saja dikarenakan Nisa tinggal di kota membuat mereka jarang bertemu. Hanya sesekali pulang kampung mengunjungi nenek, dulu, atau kalau ada acara saja. “Kuliahnya udah selesai?” tanya Nisa lagi. ”Alhamdulillah juga, kemarin baru selesai wisuda.” Azkia menjawab seadanya. “Owalah, pas banget jodoh datang setelah sidang munaqasyah, bisa langsung lanjut aja ke sidang munakahatnya.” Nisa terlihat menggoda. Kan jadi malu-malu meong gitu Azkia. Semuanya tertawa, sementara Bu Siti duduk di sebelah Azkia setelah membawa minuman dan kue-kue. Terlihat adik Azkia, Attar, bocah itu mengintip dari ruang keluarga, tidak dibolehkan ayah ikut-ikutan nimbrung bersama orang tua. “Saya pak Rahman, paman Rafa,” ucap lelaki paruh baya itu setelah susana basa-basi berakhir, sambil menunjuk pemuda di sebelahnya. “Maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk mempersunting putri bapak yang bernama Ayu Azkia untuk keponakan saya, untuk selanjutnya biar Rafa yang mengutarakannya,” lanjut Pak Rahman. Ayah Rafa sudah meninggal, sementara ibunya tinggal di Banda Aceh. Jarak yang membuat sang ibu tak dapat hadir sekarang. Sementara Rafa tinggal di Lhokseumawe, dekat dengan kampus tempat ia bekerja. Azkia tahu itu semua dari ibu berdasarkan cerita kakak sepupunya, Nisa. Sejenak lelaki itu memandang Azkia, sekarang pandangan calon pasangan itu saling bertemu lagi. Tak sampai hitungan dua detik Rafa memalingkan wajahnya ke arah ibu dan ayah Azkia. ‘Oh jantung, tolong berhenti dag dig dug. Kasian empunyamu kesulitan bernapas.’ Batin Azkia terus memohon. Gadis itu meremas jemari tangan, menetralkan laju jantung, pipinya terasa memanas. Azkia mengambil minuman yang dihidangkan ibu dan meneguknya hingga tandas, tetap saja di dalam sana berdendang. Ia menarik napas. Oke, come on Kia, kamu bukan tipe pemalu gini. Ya Allah, ada gak sih orang mati karena degup jantung yang berlebihan? “Seperti yang diutarakan paman saya, maksud kedatangan saya ke sini untuk meminang putri bapak, Ayu Azkia. Kalau lamaran saya diterima, saya akan musyawarah dengan keluarga dan InsyaAllah secepatnya akan membawa rombongan meminang.” Rafa mengutarakan maksudnya dengan tenang. Diakui Azkia pesonanya memang memikat. Sorot matanya begitu tajam, hidung bangir dan ada cambang tipis menghiasi rahang kerasnya. Membuat Rafa terlihat tampan. Azkia menelan ludah, lalu meraih gelas lain yang masih berisi minuman. Ini gelas kedua yang dihabiskan, tapi rasanya tenggorokan itu masih kering. Ayah Azkia mendehem kecil. Ia bukan tipe orang yang banyak bicara, bagi Azkia ia penuh wibawa, dan layak disegani. “Sebelumnya terima kasih atas kehadiran Nak Rafa dan semuanya, saya tidak keberatan dengan lamaran ini. Tapi, dikarenakan Kia yang akan menikah, maka biarlah dia yang memutuskan tentang masa depannya.” Semuanya mengangguk kecuali Azkia yang masih tertunduk. “Kia ini anaknya keras kepala, tapi terkadang suka manja. Lumayan egois kalau berseberangan pendapat. Tapi untuk masak dan beres-beres rumah, ibu udah sensorkan, deh!”. Ibu menambahkan penjelasan ayah, sedikit menjelaskan karakter putrinya. Semua orang tertawa kecil kecuali Azkia yang hanya memaksa senyum. ‘Elah bu, kenapa harus bilang Kia ini keras kepala sih, malu-maluin aja, nanti dikira gengster atau hamster gitu. Azkia ini kan anak baik budi, rajin nabung lagi. Masa dibilang egois. Image Bu, image, ah!’ Azkia membatin. “Kalau menurut Kia sendiri, gimana? Apa pengen langsung nikah aja?” goda Bang Dika, suami Kak Nisa, yang menimbulkan gelak tawa semua orang. “Semuanya kamu yang memutuskan, Kia.” Ayah menegaskan. Azkia menghela napas, sebenarnya ia tidak tahu bagaimana harus memulai jawaban ini. Jantung sudah semakin berdebar lebih dahsyat dari sidang skripsi beberapa bulan yang lalu. Tapi ia harus berbicara karena mereka menunggu jawaban. “Maaf ...,” Mendengar kata maaf, semua orang menoleh ke arah Azkia, netra mereka bagai anak panah yang berhamburan siap menusuk gadis itu. Tentu, karena semua dari mereka berharap Azkia mengeluarkan jawaban setuju. “Maaf, saya tidak ingin tergesa-gesa, karena tergesa-gesa datangnya dari syaitan. Beri saya waktu untuk berpikir. Lagipun, saya tidak mengenal bap... maksud saya Bang Rafa. Jadi saya mau kita saling kenal dulu, biar tau satu sama lain.” Azkia kembali menghela napas, ia merasa telah menjawab dengan bijak dan tepat. “Ya, mungkin Kia benar, lebih baik kenalan dulu.” Tampak Ayah setuju dengan keputusan Azkia. Disambut dengan anggukan semua orang. “Mikirnya jangan lama-lama Kia, sekali mikir umurnya jalan satu tahun, kalau udah tua nanti susah.” Ibu menimpali, kembali mengisyaratkan untuk menerima. “Iya, Kia, ibadah itu harus disegerakan apalagi jodohnya udah di depan mata.” Kak Nisa ikut-ikutan pula. Sementara di seberang Azkia, Rafa hanya melirik dengan tatapan yang teduh. Lagi-lagi curi-curi pandang. Keputusan yang Azkia ambil bisa diterima oleh Rafa dan keluarganya. Terlihat ibu dan Kak Nisa berjalan ke dapur menyiapkan santapan siang untuk tetamu, sementara yang lain mengobrol santai sambil saling mengisi cerita untuk perkenalan lebih jauh antara dua belah pihak. Azkia mengajak Rafa ke depan rumah, di mana ada kursi santai di teras. Hening terasa beberapa saat setelah keduanya menjatuhkan b****g di salah satu kursi. “Maaf ... untuk hari itu,” ucap Rafa membuka percakapan. Azkia memutar bola mata, “iya,” jawabnya malas. “Hari ini kamu terlihat lebih kalem,” ucap Rafa yang berhasil membuat pipi Azkia merah, tapi berusaha disembunyikan. Azkia menoleh ke arah lain untuk menetralisir keacanggungan karena hanya berdua dengan Rafa. Bukan berduaan sih, karena ia yakin mereka yang di dalam pasti mengontrol dia dan Rafa. Ya, tidak mungkinlah dia akan macam-macam. “Kamu gak salah orang?” tanya Azkia langsung ke inti. “Maksudnya?” Rafa menaikkan sebelah keningnya, bingung. Elah, nggak negerti apa pura-pura nggak ngerti sih? “Yakin mau nikahi aku?” lanjut Azkia. “Kenapa enggak?” “Ya, karena kita gak pernah kenal sebelumnya.” “Ya, sebab itu sekarang kita saling kenalan.” Niat hati, Azkia ingin membuat Rafa ilfil. “Tapi aku bukan perempuan idaman.” “Kenapa begitu?” Azkia berpikir akan menjawab apa. “Karena aku makannya banyak.” Plak! Jawaban yang keluar setelah Azkia berpikir lumayan lama. Rafa terkekeh mendengar itu. Beberapa menit mereka tenggelam dalam beberapa obrolan, sebelum ibu memanggil untuk makan siang. * Azkia melangkah ke kamar setelah para tamu itu pulang. Menghempaskan diri di atas kasur. Benar-benar hari yang melelahkan, tapi harusnya dengan suasana yang berbeda dan dengan orang yang dituju hatinya. Semua cerita itu bermula dari foto dan caption lebay Kak Nisa, ‘kecuali diriku, yang lain masih milik orang tuanya.’ Dasar lebay! Ya, foto bersama beberapa sepupu yang diupload Kak Nisa di story Whats-Appnya. Ketika ditanyakan kenapa memilih dirinya pada Rafa, dia menjawab bahwa orang yang pertama ia lihat dalam foto itu adalah gambar Azkia. That’s it! Klise kan? * Seusai shalat isya, Azkia meraih ponsel di atas meja belajar. Hal pertama yang ia lakukan adalah membuka pesan w******p. Entah berapa kali handphone itu bergetar setelah data seluler dihidupkan, maklum saja setelah tadi siang, Azkia baru sempat membukanya. Esyana tidak bisa datang karena ada jam mengajar yang tidak bisa ia tinggalkan. Gimana acaranya? Pesan dari Esyana dikirim jam 5 sore. Saat itu ia masih tertidur sepanjang sore.  Maaf, baru sempat pegang hape. Send. Diread, sedang mengetik. Dia datang tadi siang, kan, katamu. Terus kamu udah mutusin terima atau engga? Ga tau, Syana, aku bingung. Aku sama sekali ngga kenal sama dia. Dia asing banget. Aku bilang kita kenalan dulu, biar kenal satu sama lain. Kamu kerumah lah! Aku pengen cerita panjang, di hp ga bakalan muat! Oke, InsyaAllah aku besok ke rumah! Kamu cerita tuh sampe habis. Emot jempol terkirim dari Esyana. Hmm, ditunggu. Setelah memutuskan chat dengan Esyana, Azkia membuka halaman f*******: setelah beberapa hari tidak mengunjunginya. Banyak pesan, kebanyakan sampah. Chat dari laki-laki yang kurang kerjaan. Azkia membuka setiap pesan masuk dan menghapusnya dari messenger, sisa satu pesan yang dibaca berulang kali nama pengirimnya, Anisa Syakira, Kak Nisa. Tumben sekali pakai messenger, mungkin bu dosen sedang tak ada kuota, pikir Azkia. Pesan berisi sebuah nomor telepon yang tidak dikenali, ia menggeser perlahan ponsel ke bawah, membaca pesan itu dalam hati. Kia, ini nomor telepon Rafa. Azkia membiarkan pesan Kak Nisa terbaca tanpa membalasnya. Lalu, ia menambahkan nomor itu ke kontak WA. Azkia sudah tak punya alasan untuk menolak. Gadis itu pernah menolak dua laki-laki sebelum ini. Seorang lelaki datang meminang ketika Azkia baru tamat SMA, dengan banyak alasan ia menolaknya. “Ogah lah, Bu, nikah muda. Kia baru tamat SMA, Bu, SMA, ini bukan era 80-an, perempuan nikah tamat SMP, SMA. Kia pengen kuliah!” Selang beberapa tahun, ketika Azkia masih semester 4 ada lagi seorang pemuda yang datang melamar, mereka sempat bertunangan tapi diputuskan sebelah pihak. Alasannya klise, Azkia ingin menamatkan kuliah, dan tidak mau ada orang yang menunggu-nunggu. Menurutnya kalau mau nikah ya harus nunggu tamat kuliah, tapi ia tidak mau orang menunggu terlalu lama. Waktu itu ayah marah besar, masih kuat di memori Azkia ketika berhari-hari ayah tidak berbicara padanya. “Belum pernah ayah dipermalukan begini, dan sekarang oleh anak sendiri tanpa penyesalan.” Azkia hanya menjerit maaf dalam hati, maaf sudah membuat Ayah malu. Hingga akhirnya Azkia dimaafkan karena sudah kelamaan. Azkia merasa kejadian-kejadian yang sama akan menimpanya. Kebingungan yang akan berakhir dengan penolakan. Sebulan, tempo yang diminta untuk memberi jawaban kepada Rafa dan keluarganya. Jika nanti Rafa terus membujuk hatinya, Azkia harus bagaimana? Ketika hati lain yang diharapkan akan membalas rasa dalam diam, ia harus bagaimana? *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN