Arti Sahabat

1555 Kata
Deru mesin motor terdengar dari luar. Tanpa melihat pun, Azkia yakin itu Esyana, karena ayahnya biasanya akan pulang pukul satu siang, sedangkan jam di dinding kamarnya masih menunjukkan pukul sepuluh pagi. Azkia terlihat masih betah dengan ponsel di tangan. Gadis itu sedang membaca setiap website yang menginformasikan lowongan pekerjaan. Namun, nihil. Tak satupun pekerjaan yang sesuai dengan jurusannya. Azkia telah menjelajah dari website ke website, bertanya ke sana ke mari, tapi tak ada hasil yang melegakan. Dari situ ia belajar bahwa apa pun takdir seseorang, semua ada waktunya sendiri. Tantangan semua mahasiswa yang baru lulus, sangat sulit mencari pekerjaan di zaman sekarang. Ah, Azkia kembali merebahkan tubuhnya. Terlalu pusing memikirkan banyak hal. Di luar sana, terdengar Esyana memberi salam yang dijawab oleh ibu Azkia. Rumah Azkia memang sudah seperti rumah sendiri bagi Esyana. Dua gadis cantik itu sudah bersama sejak kecil, mungkin terhitung sejak mereka masuk sekolah dasar. Pertemanan itu benrlanjut hingga mereka dewasa. Ketika SMA mereka pernah mendapatkan kelas yang berbeda, tapi jarak dua ruang kelas itu tidak berhasil memisahkan mereka. Esyana bukan tipe teman munafik yang berpura-pura tidak melihat kalau sedang bersama teman baru. Gadis itu level sahabat. Kalau kalian bertanya, pernahkah mereka marahan? Pernah sekali, ketika SMP Esyana tidak memberi contekan, untuk Azkia. Parah! “Kamu gak kerja?” Bu Siti bertanya ketika Esyana baru melangkah ke dalam. Esyana mendekat, di mana ibu sahabatnya berhadapan dengan mesin jahit. “Ada, Bu, cuma dua jam pelajaran.” Esyana menjawab. Berbeda dengan Azkia, Esyana sudah bekerja setelah dua minggu dinyatakan lulus sidang. Bermodalkan surat keterangan lulus, dia mendaftar di salah satu sekolah terbaik di kota Lhokseumawe, atas izin Allah dia lulus. Azkia ikut daftar juga waktu itu, tapi belum rezeki. Sekarang hari-hari Azkia hanya di rumah, ditemani Babang Lee Minho serta Oppa-oppa Korea lainnya. Ngenes bet memang. Esyana gadis yang cantik, ia bijak dan punya daya memikat. Bukan karena ia mengumbar aurat, tapi justru karena ia menjaga pakaiannya. Jujur kadang Azkia ingin menjadi sepertinya, lembut dan tidak blak-blakan, tapi perihal mengubah diri tentu tidak mudah. Beruntung sekali Ustadz Ali yang meluluhkan hatinya. Pasangan yang cocok. “Panjang umur serta mulia, jatah martabakku mana?” Tidak tanggung-tanggung, baru saja Esyana membuka pintu kamar, Azkia sudah menerornya dengan martabak. Ia merebut kresek dari tangan Esyana, bertingkah seolah ada yang akan meminta bagian jatahnya. “Ya Allah, emangnya kamu dikurung ya? Kok kaya orang sebulan gak makan.” Nah, yang begini nih, yang kadang bikin hati Azkia nyelekit. Untung teman. “Paan sih?” tanya Azkia sambil memajukan bibirnya. “Cara minta martabaknya”. Esyana tertawa geli melihat sahabatnya lahap dengan martabak. Lalu, Esyana menjatuhkan duduknya di kasur. “Ish, kalau pun aku belum kerja, aku masih mampu kali beli martabak beginian, minta ke ibu tapi.” Azkia tertawa dengan mulut yang penuh. Gadis itu seolah sedang mengejek diri sendiri. Hampir saja isi makanan dalam mulutnya tumpah keluar. Dasar! “Jadi, gimana?” Esyana mendekatkan diri bertanya, sambil menaik turunkan alisnya. Menggoda temannya yang sedang bingung tentang asmara. “Hmm ....” Azkia menarik napas pelan, mulai menceritakan semuanya. “Namanya Rafa Ardian, katanya sih dosen Metodologi Penelitian di Universitas Malikussaleh, lumayan sih, gak ancur-ancur amat, boleh lah kalau dibawa kondangan.” Azkia menjelaskan sambil cekikikan. “Astaghfirullah Kia, Dosen kok dibilang lumayan gak ancur-ancur amat, bagus dong! Pepet teroos. Orang berpendidikan.” Esyana meyakinkan. Mendengar jawaban itu, Azkia sedikit memukul lengan sahabatnya itu. Membuat Esyana mengelus lengannya yang terasa sedikit perih. “Ih, sakit tau.” Esyana mendelik pada gadis di depannya. “Eh, Mak Baedah, gak baca koran ya? Sekarang kan jaman banyak modus. Banyak juga berita dokter atau tenaga kesehatan yang terlibat kasus n*****a, emang kamu mau aku jadi mangsa modus?” Semprot Azkia berapi-api, sembari tangan itu mengambil potongan martabak yang tersisa. “Ya Allah, siapa sih yang mau sahabatnya jadi mangsa modus? Terus kamu jawab apa?” “Aku ngga tau, Syana. Dia orang asing yang sama sekali tidak kukenal, dia terlihat matang dan bijaksana sih. Aku, huaaaa ....” Azkia menggaruk kepala yang tidak gatal. “Aku cuma bilang butuh waktu untuk mikir,” lanjutnya. “Ingat nggak, orang yang waktu itu nyemprotin lumpur air hujan pas kita pulang? Rupanya waktu itu dia memang pulang dari rumahku.” Azkia mengambil sisa martabak dan mengunyahnya dengan mulut penuh. “Wait ... ingat! Pantes aja, waktu itu cuma senyum aja.” Esyana tampak mengingat kejadian lucu waktu itu. Lalu tertawa lepas saat menyadari betapa lucunya pertemuan sahabatnya dengan calon jodoh. “Haha.” Azkia tertawa mengejek tawa Esyana. Memangnya ada yang lucu ya? Ia menatap sahabatnya sedikit gemas. “Kia, gak semua orang menikah karena saling mengenal. Yang ada mereka saling percaya. Lihat kaya aku dan Ustadz Ali, no intruduction tapi udah nikah. Kia, coba belajar dari sejarah listrik, dulu ketika listrik pertama ditemukan, orang-orang takut dengan listrik karena asing, mereka belum pernah melihat apalagi menggunakannya. Tapi, coba lihat sekarang kalau listrik mati, gak tanggung-tanggung PLN yang dimaki. Begitu juga dengan pernikahan, sekarang kamu ngga kenal, pas nikah kalian udah saling terikat, belajar untuk setia, saling mengerti kemudian dekat, terus lupa deh sama aku, eh.” Esyana mencolek dagu Azkia, sambil tertawa geli hingga menampakkan barisan giginya yang rapi. “Kamu dengan Ustadz Ali mah abangmu yang jamin dia orang baik.” Azkia menanggapi. “Ssst," Esyana meletakkan jari telunjuk di bibir Azkia. "Jangan bilang dijamin, Kia. Siapa sih yang bisa menjamin baik atau tidaknya seseorang, kita hanya melihat yang nampak, dalamnya hati seseorang siapa yang bisa selam? Kita harus yakin dan mempercayainya.” Esyana melanjutkan lagi. Azkia hanya mengangguk pelan. Tampak mengerti apa yang baru saja dinasehati oleh sahabatnya. Namun, entahlah hatinya masih sulit menerima. Bukan tentang nasehat, tapi tentang siapa yang datang adalah yang bukan diharapkan. “Teman-teman kita kan banyak yang kuliah di sana, coba tanya Nafisah, mungkin dia kenal.” Gadis di depan Azkia memberikan saran. Bodoh! Kenapa Azkia tidak pernah terpikirkan untuk bertanya pada teman-teman yang kuliah di sana. Esyana memang sahabat yang sangat berperikesahabatan. Meskipun sulit bagi Azkia untuk memutuskan, setidaknya saran Esyana bisa menenangkan pikirannya yang kacau. “Btw, udah ada yang panggilan kerja, nggak?” Esyana menukar topik. Beberapa waktu lalu, ia menyarankan sekolah-sekolah yang sedang membuka lowongan pekerjaan. Berharap agar sahabatnya bisa segera mempraktekkan ilmunya untuk anak-anak bangsa. “Belum nih. Susah amat sih?” Azkia terlihat sedikit nelangsa. Meskipun belum lama menganggur, ia sangat tidak suka hanya berdiam diri di rumah tanpa aktivitas lain. Gadis itu kembali mengecek ponsel. Mengecek email tentang kabar surat lamaran pekerjaan yang telah ia kirimkan. Nihil. “Belum rejeki sih. Sabar.” Esyana menepuk pundak Azkia. Mencoba memberi kekuatan pada gadis itu. Sementara tangan Esyana juga sibuk berselancar. Berjuang mencari website resmi yang membuka lowongan pekerjaan untuk Azkia. * Malam ini, langit terlihat indah dihiasi cahaya bulan purnama. Azkia bisa melihat keindahan itu dari meja belajarnya. Ia merapikan kursi dan duduk di tempat tidur. Duduk memikirkan kisah cintanya yang akan berakhir entah seperti apa. Tiba-tiba mata itu beralih pada jam weker yang diletakkan di atas nakas. Jam kecil berbentuk kepala Hello Kitty. Melihat benda itu membuat lamunan Azkia melayang tinggi ke awan, berharap ada sinyal yang tersampaikan pada seseorang yang telah lama tersimpan di hatinya. Sinyal rindu. “Jam ini gak bisa jaga kamu, tapi bisa jaga waktumu.” Azlan berucap saat itu, tangannya menyerahkan sebuah jam untuk Azkia. Azkia dan Esyana saat itu sedang mengerjakan tugas seperti biasanya. Hujan turun dengan lebatnya hingga Azkia tak bisa pulang. Esyana menyuruh abangnya untuk mengantarkan sahabatnya. Meskipun jarak rumah keduanya terbilang dekat, tapi Esyana tetap merasa khawatir. Saat itulah, Azlan memberi hadiah jam untuk Azkia. Hal-hal kecil yang membuat Azkia merasa bahwa Azlan adalah lelaki yang tepat. Namun, lelaki itu masih berjalan di tempat. * Sejak Azkia menambahkan nomor WA Rafa dalam list kontak, belum sekalipun ia chat Rafa. Iyalah, gengsi dong. Masa perempuan duluan yang chat, suka juga enggak. Namun, malam ini Azkia mendapat pesan lelaki itu. Sekadar chat basa-basi yang menurut Azkia basi banget. Malam. Centang biru. Azkia sedang mengetik balasan. Iyalah, masa siang? Balasnya sok cuek. Udah makan? Satu chat lagi diterima. Belum. Balas Azkia singkat. Kok belum? Rafa bertanya. Mungkin di seberang sana ia benar-benar khawatir. Lama Azkia mengetikkan pesan. Bukan karena pesan yang terlalu panjang, tapi karena ia memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan lelaki itu. Belum dua kali. Emot tertawa lebar. Kumat. Boleh bicara sebentar? Bayar! Gubrak! Mungkin kalau ibu, Kak Nisa atau si bawel Esyana tahu Azkia kelakuannya begini, mampus deh dia. Bisa-bisa dikarungin dia. Dering telepon berbunyi setelah membalas pesan terakhir. Gadis itu menggeser tombol warna hijau untuk menjawab panggilan. Sejenak Azkia merasa jantungnya berpacu lebih cepat, mungkin terasa asing berbicara dengan orang yang berniat menikahinya. Tak banyak yang mereka obrolkan, hanya tentang perkenalan lebih lanjut, dan bercerita tentang rutinitas sehari-hari. Hingga Azkia meminta untuk mengakhiri panggilan dengan alasan mengantuk. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin Rafa katakan, tapi sudahlah berlama-lama di telepon dengannya membuat Azkia takut jatuh cinta dan melupakan rasa yang diperjuangkan. Rasa yang ia simpan sendirian, yang tak tahu kapan akan terbalaskan. Kadang cinta memang seaneh itu, mencintai dalam diam, lalu entah sampai kapan. Atau bahkan sewaktu-waktu harus siap dengan patah hati. Dan, saat patah dan perih datang bersamaan, baru seseorang menyadari bahwa harusnya tak menggenggam seseorang terlalu dalam. Azkia sendiri belum tahu kesimpulan mana yang akan mengakhiri kisahnya. Akan berakhir luka atau bahagia. Salah satunya pasti ada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN