Pendekatan

1350 Kata
#ASMARA_TERULANG Pendekatan Langit di luar tampak bersinar ditemani cahaya bulan purnama. Rafa menikmati keindahan alam itu dari balik jendela yang belum ditutup tirainya. Lelaki itu berjalan menuju tempat tidur setelah menutup tirai jendela. Ia merebahkan diri di kasur, lalu membuka kembali aplikasi w******p, di mana baru saja bergetar karena balasan chat dari Azkia. Bayar! Rafa tertawa membaca satu kata yang Azkia balas. Lelaki itu baru saja meminta waktu Azkia untuk mengobrol sebentar di telepon, dan balasan gurauannya berhasil membuat Rafa tertawa. ‘Baiklah, aku akan membayarnya dengan cinta.’ Batin Rafa. Kadang Azkia lebih mirip penyihir blak-blakan. Perempuan yang telah menyihir hati Rafa meski dengan sifatnya yang begitu kekanakan. Sebenarnya ia perempuan yang baik, itu dilihat dari cara ia berbicara dengan orang-orang dewasa, ayahnya dan paman Rafa waktu itu. Karena perempuan yang tak beretika tak akan tahu dengan siapa ia berbicara. Begitu Rafa menilainya. Rafa menekan tombol panggilan untuk nomor Azkia. Beberapa detik suara telepon tersambung, kemudian disusul suara Azkia yang memberi salam. Rafa menjawabnya santai. Sebenarnya ada debar yang berbeda, hanya saja ia berusaha menutup rasa gugup itu. Debar yang kembali ia rasa setelah sekian lama terkurung dalam derita. Tentang rasa cinta, siapa yang lebih dulu jatuh padanya, maka dia yang akan merasa debar yang berlebihan. Sebaliknya jika rasa itu biasa saja, maka getar itu juga tak ada. Biasa saja. Mungkin seperti itu yang dirasakan Azkia. “Sibuk nggak?” tanya Rafa, setelah mendengar Azkia menjawab salamnya. “Nggak sih, kalau cuma ngobrol. Tapi kalau diajak main bola, ya maaf udah malem ini.” Tuh, kan! Azkia memang ngegemesin. Siapa juga yang ngajak main bola malam-malam. “Can i call you, Ayu?” Ya, Rafa ingin memanggilnya dengan nama Ayu. Karena nama itu mencerminkan dirinya yang cantik. Juga nama spesial yang hanya akan ada Rafa yang memanggil. Rafa memang menyukai sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tak dipanggil orang lain untuk Azkia. “Elah, mentang-mentang dosen, ngomongnya pake Bahasa Inggris segala,” kekeh Azkia. Di seberang sana Azkia tertawa, entah untuk apa. Bukan Rafa ingin sok-sokan ngomong Bahasa Inggris, tapi apa ya namanya. Memulai basa-basi, tapi tak tahu yang menanggapi akan senang atau tidak. “Oke, boleh kok. Manggil apa aja boleh asal jangan Markonah.” Rafa mendengar lagi-lagi Azkia cekikikan. Menit-menit selanjutnya obrolan mereka mulai berjalan, tapi hanya seputaran kegiatan sehari-hari atau saling mengenalkan diri satu sama lain. “Ayu, abang boleh tanya sesuatu nggak?” Dosen muda itu bertanya hati-hati. Ada yang ingin ditanyakan gadis di seberang sana. Melihat respon Azkia saat mereka datang ke rumahnya. Saat gadis itu mengajak Rafa ngobrol di teras, berdua. Gadis itu selalu mencoba menghindar, seolah menganggap Rafa sedang bermain-main dengan keputusan. “Sebelumnya kamu punya pacar? Atau ada yang menunggumu, atau kamu pernah menyukai seseorang?” Seiring pertanyaan itu keluar dari mulut Rafa, ada ketakutan juga di dalam hatinya. Takut jika salah satu dari pertanyaan itu ada jawaban. Dan jawaban itu sama sekali tak diinginkan Rafa. Hening beberapa saat. Tak terdengar Azkia menjawab. Hingga beberapa kali Rafa memanggil nama dan menyapanya dengan kata ‘halo’, lalu dapat didengar Azkia menghembuskan napas berat. “Udah malem. Aku ngantuk, mau tidur. Udah ya! Night.” Azkia menutup telepon setelah mengucap salam. Rafa masih memikirkan jawabannya. Mungkin memang ada, tapi semoga tebakannya salah. Namun, apa pun itu ia telah mempersiapkan diri dari sekarang. Entah penerimaan atau penolakan, lelaki itu sudah siap dengan keputusan Azkia. * Pagi hari Rafa selalu disibukkan dengan aktivitas harian. Seperti mengulang-ulang hal yang sama untuk dilakukan setiap hari. Bangun tidur, menunaikan kewajiban dan beberes berangkat kerja. Motor N-max telah membelah jalan raya. Hari Senin pagi jalanan selalu padat, jadi Rafa berusaha untuk pergi lebih awal. Ya, memang tidak semacet Jakarta, tapi lumayan menguras waktu untuk menunggu lampu jalanan berganti warna. Kampus sudah ramai oleh mahasiswa dan dosen. Sebelum masuk ruangan, Rafa menuju perpustakaan. Mencari tambahan referensi untuk bahan ajaran di kelas. Setelah kembali dari perpustakaan, Rafa memasuki ruangan, mahasiswa telah menunggu dengan ramai. Canda tawa itu seketika melebur ketika dosen mereka memberi salam. Setelah membuka pelajaran dengan menyapa para mahasiswa, mengulang sedikit materi minggu lalu, kini Rafa mulai berdiri di depan mereka, mengajar tentang cara membuat judul penelitian. Sesuai dengan silabus yang dirancang, hari ini sudah masuk materi itu. Rafa mulai menjelaskan materi perkuliahan. Ia berharap mahasiswa bisa memahami penjelasannya secara detail. Judul penelitian adalah identitas penelitian. Ruh yang akan diteliti, judul harus berupa pernyataan bukan pertanyaan. Dalam sebuah judul penelitian itu harus memerhatikan ke dalam dan cakupan dari sebuah penelitian. Mewakili bobot sebuah hasil penelitian yang akan ditulis, juga merupakan gambaran mutu tulisan yang akan digarap. Nah, penelitian itu sendiri timbul karena adanya masalah. Maksudnya ada latar belakang ‘why’ seseorang meneliti tentang sebuah judul. Yang dimaksud dengan masalah dalam penelitian adalah terjadinya peristiwa yang tidak diharapkan. Das sain (yang seharusnya) berbanding terbalik dengan das solen (yang terjadi). Dosen muda itu menyimpulkan keseluruhan dari apa yang dijelaskan. “Paham?” Rafa menanyai mahasiswa-mahasiswanya. Memastikan mereka menyerap ilmu yang diberikan. Beberapa diantara mereka mengangguk sambil menjawab ‘paham’. Sebagian lagi sibuk menulis di buku catatan. Lalu sebuah pertanyaan muncul dari mahasiswa paling dekat dinding sisi kanan. “Contohnya, Pak?” “Oke, saya akan memberikan contoh.” Langkah Rafa bergerak menuju white board di depan kelas, lalu menuliskan jawaban dari pertanyaan seorang mahasiswa. ‘Penggunaan Media Pembelajaran Bahasa Inggris dalam Meningkatkan Minat Belajar Siswa SMAN 1 X’ Contoh judul penelitian yang dituliskan Rafa. “Nah, ini contohnya. Perlu digarisbawahi bahwa dalam sebuah judul itu terdapat variabel, dan itulah yang akan diteliti. Oke, coba kalian pahami dulu dan cari yang manakah variabel dalam judul yang sudah saya tulis?” Rafa mencoba memancing pemikiran mereka untuk memecahkan masalah. Beberapa menit setelah itu, seorang mahasiswi menjawab. “Media pembelajaran, ya,Pak?” “Exctacly!” Jawabannya tepat sekali. Dilihat wajah mahasiswanya tersenyum, mungkin bahagia karena bisa menjawab pertanyaan dari dosennya. Kelas selalu berlangsung dengan seru dan antusias. Mahasiswa menyukai cara penyampaian Rafa yang tak berbelit dan langsung ke inti. Sebagai mata kuliah yang sangat penting untuk mahasiswa semester akhir, mereka bersyukur Rafa mengampu mata kuliah itu. “Tapi, ada dua variabel di situ. Satu lagi apa?” tanya Pak Dosen lagi. Hening beberapa saat, semua sibuk berpikir. Mahasiswa tampak aktif mencari jawaban dengan pemikiran masing-masing. “Mutu pelajaran?” jawab seorang mahasiswa ragu-ragu. “Ya, benar!” Rafa menanggapi dengan mengacungkan jempol. “Jadi, dua variabel itulah yang harus diteliti, harus ditemukan masalah dan penyelesaiannya. Sampai sini paham?” lanjutnya. Serempak mereka menjawab “paham.” “Oke, sekarang saya tugaskan kalian untuk membuat lima daftar judul sesuai dengan yang saya jelaskan tadi. Terserah mau mengangkat masalah apa. Oke, start right now!” perintah Rafa. Mereka mulai mengerjakan tugasnya, ada yang menggerak-gerakkan pulpen sejajar kepala, ada juga yang menggoyangkan kaki. Ada yang mulai menulis beberapa judul yang akan diajukan. Terlihat kebiasaan-kebiasaan mereka saat sedang berpikir sesuatu. Lucu sekali. Rafa senantiasa menunggu mereka menyelesaikan tugas. Ia duduk di kursi depan kelas yang dikhususkan untuk dosen. Lelaki itu menenggak air putih dalam botol plastik yang tadi dibeli, pelajaran hari ini lumayan menguras suara, membuat tenggorokannya terasa kering. Rafa meraih ponsel yang terletak di meja, dan mulai berselancar di dunia maya sambil tetap mengawasi para mahasiswanya. Berbeda sekali mengajar mahasiswa dengan anak sekolah. Mahasiswa itu hanya perlu dimodali teori dan ilmu serta praktek, untuk akhlak mereka kelihatan sudah matang dan tidak ribut seperti anak sekolah. Mungkin karena kesadaran belajar sudah ada dalam diri mereka. Rafa tersenyum ketika melihat satu notifikasi yang masuk dari aplikasi berlogo biru. ‘Ayu Azkia dan 11 teman lainnya berulang tahun hari ini.’ Dengan sisa senyuman yang masih ada di wajah itu, Rafa memikirkan tentang kado untuk Azkia. Mendadak sekali, bingung ingin memberi kejutan apa. Sebuah panggilan dari seorang mahasiswa membuyarkan lamunan Rafa. Seorang mahasiswa membawa selembar kertas dan ditunjukkan padanya. Gadis yang memakai jilbab berwarna navy menyerahkan tugasnya, disusul beberapa teman lainnya. Rafa kembali meletakkan ponsel di meja, ia kembali fokus memeriksa tugas yang diberikan untuk mahasiswanya. Setelah kelas berakhir, Rafa langsung menuju parkiran di mana motornya diparkirkan. Ia akan menuju ke suatu tempat, meskipun belum tahu akan ke mana. Rafa ingin membelikan sesuatu untuk Azkia, tapi bingung tentang barang yang disukai gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN