#ASMARA_TERULANG
#Part_67
Hadiah
"Kia, bangun! Rafa di ruang tamu tuh!” Samar Azkia mendengar suara seseorang memanggil.
Sedikit membuka mata, Azkia melihat ibu entah sejak kapan ia sudah di kamar. Gadis itu masih setengah tertidur, kadang kalau habis nonton drakor, ia jadi ketiduran, saking tidak ada yang bisa dilakukannya.
“Azkiaaa ... bangun! Rafa nunggu di ruang tamu.” Ibu membuka jurus membangunkan putrinya. Azkia tampak mengulus-ngulus p****t seksi yang baru saja kena pukul. Matanya membulat sempurna ketika menyadari ibu menyebut nama Rafa.
“Haaaah? Ngapain tuh orang kesini sore-sore begini?” Mengabaikan pertanyaan putrinya, sang ibu hanya menyuruh Azkia menemui calon tunangan.
Dengan gerak jalan yang malas, Azkia membasuh muka dan mengambil kerudung syar’i, bukan agar dibilang perempuan sholeha, tapi karena ia belum mandi dan gaya seperti itu sering dilakukan saat tiba-tiba ada tamu di rumah.
Perempuan harus bisa menjaga aurat, memakai jilbab bukan hanya ketika keluar rumah, tapi ketika ada lelaki yang bukan mahram di mana pun dan kapan pun. Kalau misalnya di dalam rumah ada lelaki yang bukan mahram, maka juga wajib memakai jilbab, menutup seluruh aurat. Ini salah satu nasihat Esyana yang selalu diingat Azkia.
Berjalan pelan, Azkia menemui Rafa di ruang tamu, oh tolong! Gadis itu masih menguap. Mungkin jika ada lomba lari dengan kura-kura, maka makhluk itulah yang menang. Begitu malasnya jalan Azkia.
“Assalamu’alaikum, Nona Ayu,” ucap Rafa sedikit tersenyum.
Mereka sudah duduk di atas sofa. Ibu mengawasi dari sebuah sudut di ruang keluarga di depan mesin jahitnya. Attar, adik Azkia masih asyik dengan serial kartun sore, entah ke mana bocah-bocah lain hari ini, halaman rumah terlihat sepi dari biasanya.
“Wa’alaikum salam, ngapain datang ke sini? Aku belum dapat jawaban. Jangan ditagih sekarang.” Langsung ke inti. Pikiran kalau ngantuk itu suka ambyar, biar cepat kelar, terus Rafa pulang. Azkia bisa lanjut tidur. Dasar!
“Kamu masih ngantuk? Rafa bertanya tampak menahan tawa. Ia beberapa kali melihat gadis itu menguap, tapi tetap bertanya.
“Hmm.” Azkia hanya mengangguk sambil menutup mulut menahan menguap.
“Tiduran jam segini, emang udah tunaikan ashar?” tanya Rafa. Azkia hanya mengangkat bibir ke atas memberi suatu isyarat.
“Kenapa?” tanya Rafa.
Ya Allah, nih orang kok gak ngerti sih, gerutu Azkia dalam hati.
“Aku ini kan perempuan, jadi aku lagi ....”
“Oow, jadi kamu lagi ...,” Rafa tertawa tanpa melanjutkan kalimatnya.
Melihat Rafa tertawa pelan seperti itu, Azkia memotong kata-katanya. “Datang bulan, ngerti?” Tuh kan berubah deh Azkia jadi cantik-cantik serigala, eh!
“Oke maaf, aku baru pulang kerja, terus buka f*******: dapat pemberitahuan bahwa calon istri sedang ulang tahun hari ini. So, happy birthday and this is for you,” ucap Rafa sambil menyodorkan bungkusan plastik bertuliskan sebuah nama toko pada Azkia.
Calon istri? Kepedean banget! Ini bulan apa, tanggal berapa? Azkia bahkan hampir lupa hari ini 16 Desember, begini rasanya kalau lama tidak kuliah, bahkan untuk mengingat tanggal saja malas. Azkia mengambil kotak itu yang tidak diketahui apa isinya.
“Apa ini, kodok se-populasi ya?” tanya Azkia sambil menggoyang-goyangkan kotak itu di telinga, siapa tahu ada makhluk yang bergerak.
“Nanti saja di buka.” Rafa tertawa pelan sambil menggelengkan kepala.
“Ibu sama adiknya mana? Abang mau pamit.”
Kok Azkia geli ya rasanya mendengar kata Abang. Azkia menghampiri ibu memberi tahu bahwa Rafa ingin pamit.
“Rafa udah mau pamit?” tanya Ibu.
“Iya, Bu. Udah sore. Attar ... sini!” Seperti biasa adik Azkia bersembunyi di belakang ibunya, malu kalau ada tamu.
Rafa mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan, diberikannya untuk Attar sambil mengusap kelapa bocah itu, “jangan nakal-nakal ya!” Ealah nih bapak-bapak, emangnya adik Azkia anak yatim? Udah kaya kampanye politik aja pake nyogok. Bocah malah senang banget dapat duit, kayak Pak Cik dapat undian motor.
*
Azkia sengaja menghabiskan tontonan drama korea di laptop kesayangan, kali ini Descendants of The Sun sudah end di episode 16, tak heran sesekali ia bertingkah sok dramatis, karena keseringan nonton drakor. Kadang Azkia berpikir ini adalah aktivitas yang tidak ada manfaat, tapi ia lebih menyukainya daripada playing game.
Usai menyimpan laptopnya, Azkia menarik selimut ingin tidur.
Tiba-tiba ponsel bergetar membuat gadis itu kembali menurunkan selimut, lalu mengambil benda itu di atas nakas.
Saat mengambil ponsel, ia melihat kotak yang diberikan Rafa masih terletak di sana.
Maaf, kalau sudah tidur, kamu suka hadiahnya?
Sebuah pesan dari Rafa.
Sebelum memejamkan mata Azkia memutuskan untuk membuka hadiahnya. Perlahan bungkusan pertama dibuka, sudah terlihat tutup kotak yang menutupi isinya, setelah dibuka tutup kotak itu Azkia membaca tulisan judul novel Surga yang Tak Dirindukan karya Asma Nadia. Meskipun sebenarnya ia berharap Rafa memberikan novel lain, karena sudah berulang kali membaca novel itu, meminjam dari si kutu buku Esyana. Namun, karena saking sukanya, Azkia tetap membuka lembaran-lembaran novel itu, menikmati kembali setiap kata yang dituangkan penulis.
Sore tadi, Rafa kebingungan mencari hadiah yang tepat untuk Azkia. Ia telah berada di toko pakaian, tapi masih bingung harus membeli hang bagaimana, ukuran apa. Sebab itu, ia mencoba menghubungi Nisa. Perempuan itu siap membantunya memilih pakaian melalu sambungan video call.
“Yang ini aja bagus, nggak?” tanya Rafa saat melihat gamis berwarna nabi yang tergantung di sebuah toko pakaian.
Melalui layar ponselnya, Nisa menggeleng. Ia sudah lebih dulu tiba di rumah, karena jadwal mengajar yang tidak terlalu sorean.
“Navinya terlalu gelap. Coba yang di samping itu,” ujar Nisa menyarankan.
“Bagus deh kayaknya.” Bisa berpendapat setelah Rafa menunjukkan gamis yang ia tunjuk.
“Oke,” Rafa membayar untuk satu set gamis yang akan dibeli untuk Azkia.
Keluar dari toko pakaian, Nisa kembali mengatakan sesuatu pada Rafa.
“Kia suka baca novel. Tapi aku gatau genrenya, aku Cuma sering liat dia megang novel.” Nisa berkata.
Rafa hanya mengangguk, lalu mematikan panggilan video call setelah mengucapkan terima kasih pada temannya.
Saat Azkia melanjutkan ke halaman yang secara acak dibuka, secarik kertas jatuh ke dalam kotak mengenai sebuah gamis berwarna marun yang masih terbungkus plastik. Azkia lebih tertarik membaca isi kertas yang terjatuh dari buku. Dengan diburu rasa penasaran, ia membuka lipatan kertas yang terlipat rapi.
Asslamu’alaikum Ayu Azkia.
Sebelumnya mohon maaf jika hadiah yang kuberikan kamu tidak menyukainya. Aku tahu hati tidak bisa dipaksakan harus berlabuh ke mana, tapi aku percaya Allah tidak pertemukan kita dengan sia-sia. Memang aku tidak pernah mengenalmu, kita hanya bertemu sekali tapi percayalah jika kamu adalah tulang rusukku, kita akan bersatu dengan cara yang Allah tentukan. Aku tidak bisa menjamin kamu akan bahagia jika bersamaku, tapi aku akan berusaha untuk menjadi imam yang terbaik untukmu. Aku juga percaya kamu bisa menjadi madrasah terbaik untuk anak-anakku. Bersama kita akan membangun kebahagiaan, bertemu pandang di dunia, berjabat hingga ke syurgaNya. Tapi kalau kamu meragukanku, katakan apa alasannya. Wassalam, Rafa Ardian. Menanti jawaban.
Bulir bening yang jatuh dari ujung mata Azkia membasahi kertas. Kebingungan yang luar biasa yang belum pernah dialaminya. Apa yang lebih menyakitkan saat kita tahu ada yang tulus mencintai, tapi hati masih berharap disapa oleh cinta yang lain?
“Ya Allah kenapa sulit sekali membuat keputusan kepada lelaki yang benar-benar mencintaiku.” Azkia mendesah kecil, menyeka air mata yang masih terasa hangat.
Gadis itu berjalan menuju meja belajar yang menghadap jendela, sedikit menenangkan karena ia bisa melihat taburan bintang di langit sana. Ia terbiasa duduk di sana entah saat bingung atau bersedih, karena melalui jendela itu ia bisa melihat pemandangan langit di luar sana. Indah, sedikit menghibur dirinya.
Azkia tidak menafikan kalau Rafa adalah lelaki yang mapan dan baik, tapi ia masih berharap orang yang dicintai membalas cintanya, yang namanya selalu disebut dalam setiap doa, berharap lelaki itu menyadari cintanya.
Azkia mengambil ponsel yang terletak di nakas. Ia membalas pesan w******p yang beberapa menit lalu baru tercentang biru.
Udah. Suka, kok.
Sengaja ia tak membalasnya tadi, karena ia sendiri baru mengingat tentang hadiah Rafa dan baru membukanya saat diingatkan lelaki itu.
Sementara di seberang sana, Rafa merasa ada bahagia yang menyelinap di hatinya. Mengetahui bahwa Azkia menyukai hadiahnya.
Selamat tidur!
Balas Rafa kemudian, karena malam sudah larut. Ia juga harus memberi hak untuk tubuhnya beristirahat. Lelaki itu menyimpan laptop dan beranjak ke peraduan.
Cinta menuntun seseorang untuk melakukan yang terbaik untuk dia yang dicintai. Seperti yang dilakukan Rafa, ia ingin menjadi yang terbaik untuk Azkia. Meskipun saat ini, hati itu masih terlalu keras untuk terbuka untuknya. Meskipun saat ini Azkia masih enggan melihat ketulusannya. Semua hanya butuh waktu, dan Rafa akan bersabar untuk itu.
Di kamarnya, Azkia masih sulit memejamkan mata. Ia takut Rafa terlalu berharap padanya, sementara hatinya tak pernah bergeser dari sebuah nama yang tentu bukan Rafa.
Sebagian perempuan dibekali keberanian untuk mengungkapkan rasa di hatinya. Tidak dengan Azkia. Gadis itu terlalu malu dan takut terluka. Padahal ia butuh kepastian segera, agar tak terkesan mengharap hal yang semu.
Mohon krisannya, guys ❤️