Ines memasuki kamar tidurnya bersama Sakha sambil membawa segelas kopi dan juga beberapa keping cookies yang ia buat tadi saat suaminya tersebut terlihat sedang bertelepon dengan seseorang. “Iya, pak. Mungkin bisa kita jadwalkan kembali karena kemarin kami sama- sama sibuk. Dan untuk calon pengantin, pastilah mereka cukup bersemangat untuk mencari tempat sampai lupa waktu. Kapan rencana pernikahannya, pak?” Tanya Sakha. “Bulan depan, pak Sakha. Dan kalian harus datang. Istri saya sangat menyukai istri anda. Irene juga.” jawab Septian. “ Tentu saja, pak. Kami pasti akan datang.” “ Kalau begitu saya akan minta asisten saya untuk kembali menjadwalkan pertemua kita. Dan maaf, pak Sakha… Puteri saya menanyakan apa bisa meminta nomor pribadi istri anda? Maklumlah… Dia tidak punya banyak tem

