“ Nes… Kamu dengar aku kan?” tanya Melia yang menggoyangkan tubuh Ines dengan lembut. Dengan perlahan ia memeluk tubuh Ines dan tahu apa yang sedang dirasakan sahabatnya tersebut. “ Mas Arya…” ucap Ines dengan lirih. Bibirnya bergetar dan kejadian siang tadi kembali terputar di dalam kepalanya. “ Iya, Nes. Aku yakin itu mas Arya. Mereka sangat mirip. Tapi… Entahlah… Dia hanya diam aja natap aku. Aku juga nggak berani bertanya tapi dia seperti sedang coba ngenalin aku.” jelas Melia yang mengusap air mata Ines dengan selembar tissue yang ia ambil dari atas meja. Kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka membuat Ines menunduk dan berusaha mengusap air mata yang tersisa di pipinya. Melia kemudian mengulurkan segelas minuman pada Ines agar sahabatnya tersebut sedikit lebih tenang. “ M

