“ Kenapa kamu bisa ada disana?” tanya Sakha dengan serius. Tentu saja ia marah namun ia masih menahan untuk tidak menampakkannya pada Ines. Lagipula istrinya pasti punya alasan sendiri. “ Aku… Aku kerja.” jawab Ines dengan sedikit menggigil meski Sakha sudah mematikan penyejuk udara di dalam mobil miliknya. “ Kerja? Kerja apa? Bukannya kamu ijin sakit?” tanya Sakha lagi sambil melirik pakaian yang Ines kenakan. “ Paruh waktu.” “ Paruh waktu? Buat apa? Jadi apa? Pelayan?” “ Iya. Aku kenal sama pemilik catering. Dan dia ngasih tahu kalau memang lagi butuh tambahan pelayan.” “ Dan kamu terima? Saat tangan dan kaki kamu masih sakit? Saat kerjaan tetap kamu aja sampai ijin? Gitu? Karena kenapa? Nggak enak? Nggak tega nolak? Sampai nggak ngabarin aku?” tanya Sakha dengan sarkas. “ Bukan…

