bc

MANTAN 10 TAHUN

book_age18+
21
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
second chance
boss
heir/heiress
drama
bxg
office/work place
wild
like
intro-logo
Uraian

Sebuah kesalahan yang terjadi 10 tahun silam, membuat hidup Dewa Putra Hutama kacau. Disaat dia sudah berhasil melupakan cinta pertamanya dan bersiap untuk melangkah ke jenjang pernikahan dengan kekasihnya, cinta pertamanya muncul sebagai sosok yang mengatur segala kebutuhan pernikahannya.

Bukan hanya kemunculan perempuan masa lalunya itu yang membuat hidup Dewa berantakan. Satu rahasia terkuak, menjadikan pernikahan yang sudah di depan mata berujung gagal.

Aruna tidak pernah berpikir akan bertemu kembali dengan mantan 10 tahunnya.

Pekerjaan membawanya bertemu dengan pria yang masih menjadi satu-satunya cinta dalam hidupnya, yang terkubur di dalam memori yang terenggut. Dengan tangannya sendiri, dia membuat pesta megah untuk salah satu pewaris keluarga Hutama.

“Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja. Lingga punya Buma. Buma akan selalu ada untuk Lingga.”

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Klien Premium
“Runa, jangan lupa jam 11 ketemu klien premium kita.” “Iya, Mbak. Jangan khawatir.” Runa tersenyum kala bertemu tatap dengan Indira—bos tempatnya bekerja 2 tahun terakhir. “Ya sudah, berangkat sekarang saja. Jangan sampai dia yang datang duluan. Kita harus profesional.” Runa menggulir bola mata hingga bertemu tatap dengan sang atasan. “Bawa mobilku saja, Runa.” “Nggak apa-apa, aku bawa mobil kantor saja.” Runa menjawab. “Jangan. Klien kali ini beneran premium. Kita harus kasih personal branding yang bagus ke dia. Personal branding itu perlu banget loh, Run.” Runa mengerutkan bibir sebelum akhirnya mengangguk. “Oke, Mbak.” Runa segera membereskan meja, mengambil tas kemudian beranjak. Wanita yang kini sudah berusia 27 tahun itu menghampiri meja atasannya terlebih dahulu untuk mengambil kunci mobil, sebelum kemudian berpamitan untuk menemui klien yang dikatakan premium. “Premium,” ujar pelan Runa terkekeh geli sembari melangkah keluar dari kantor WO yang dua tahun menjadi tempatnya mengais rezeki. Wanita itu menarik napas panjang lalu tersenyum. Melempar pelan kunci di tangan kanan lalu menangkapnya kembali. “Jalan sekarang, Mbak?” Runa menoleh. “Iya. Ayo, Rin.” “Hati-hati di jalan, Mbak.” Runa mengangguk sambil tersenyum. Wanita yang hari ini mengikat ekor kuda rambut panjangnya tersebut membelokkan langkah. Kaki berbalut heels 10 centi warna coklat itu bergerak menghampiri sebuah mobil Audi seri terbaru warna merah menyala. Sebagai seorang marketing sekaligus desainer sebuah wedding organizer, Aruna paham pentingnya penampilan. Seperti hari ini, wanita itu memakai blus tanpa krah warna putih yang dilapisi blazer casual warna coklat senada dengan celana panjang slim fit yang membentuk sempurna lekuk tubuhnya. Salah satu jenis mobil mewah itu bergerak meninggalkan halaman perkantoran. Runa melirik kaca spion yang menggantung di depannya. Memperhatikan wajahnya. Tarikan napas dalam wanita itu lakukan. Runa kemudian fokus dengan jalanan, melajukan kendaraan roda dua tersebut menjelajahi jalanan bersama banyak pengguna jalan lainnya. Lima belas menit sebelum janji temu dengan sang klien premium, Runa sudah duduk di dalam sebuah ruang VIP yang sengaja ia pesan beberapa hari sebelumnya. Runa mengetuk-ketukkan ujung jari telunjuk kanan ke permukaan meja ketika satu menit sudah terlewat dari jam 11 siang, dan klien premiumnya itu masih juga belum muncul. Ia menghentak napas. Sabar, Runa … sabar. Namanya juga premium, suka-suka dia. Mungkin karena dia pikir dia punya uang untuk membeli waktu serta kesabaranmu. Kesabaran Aruna benar-benar diuji oleh sang klien premium. Wanita bernama Jingga itu tidak bisa dihubungi. Setengah dua belas. Rasanya Runa ingin kabur saja. Aruna beranjak dari tempat duduk. Saat itulah pintu ruangan VIP terbuka. Aruna menoleh. Menatap benda penutup akses keluar masuk ruangan tersebut yang kini sudah terbuka lebih lebar. Ia melihat dua orang bercakap sebelum kemudian satu orang dengan seragam pelayan berjalan menjauh, lalu seorang pria dengan setelan jas mahal memutar langkah kemudian berjalan masuk. Aruna masih berdiri di balik meja. Sepasang matanya tidak melepas pergerakan pria dengan tubuh tinggi proporsional. Bola mata wanita itu bergerak. Sepasang matanya mengedip. Runa buru-buru menurunkan pandangan ketika sepasang manik mata berwarna hitam itu menatapnya. Aruna mengatur tarikan dan hembusan napas pelan. Mengangkat kembali kepalanya, Aruna tersenyum. “Maaf, apakah anda calon suami mbak Jingga?” tebak Runa, tidak berharap ada orang salah masuk ke dalam ruangannya. Pria itu menghentikan ayunan kaki di depan Aruna. Berdiri terpisah meja. “Benar.” “Oh ….” Aruna menggerakkan kepala turun naik. Janji temunya dengan Jingga. Dia tidak tahu jika yang datang justru calon suami klien premiumnya itu. “Maaf, Jingga tidak bisa datang. Dia sakit.” “Oh ….” Lagi, hanya respon itu yang keluar dari mulut Aruna setelah mendengar informasi dari calon suami kliennya. “Apa kita pernah bertemu?” Runa mengedip. Wanita itu menatap pria yang masih berdiri di depannya terpisah meja. Mereka belum duduk. “Wajah kamu tidak asing. Rasanya saya pernah melihatmu.” Runa buru-buru menggelengkan kepala. “Tidak. Kita belum pernah bertemu. Ini pertama kalinya. Um, mungkin yang anda temui orang yang mirip dengan saya,” kilah Runa, sebelum kembali tersenyum tipis. “Kamu yakin?” Pria itu tampak tidak percaya. Ia menatap lekat wajah perempuan di depannya. Sepasang rahangnya terkatup erat. “Yakin sekali. Saya baru datang ke Jakarta dua tahun lalu. Sebelumnya saya tinggal di luar kota sedari kecil.” Runa mengernyit ketika melihat perubahan ekspresi pria di depannya. “Um … silahkan duduk.” Runa mempersilahkan sembari menggerakkan tangan kanan dengan sopan. Setelah melihat pergerakan pria di depannya, Aruna pun kembali menempati kursinya. Wanita itu menarik pelan napasnya. Pelayan datang sebelum Aruna memulai presentasinya. “Saya yang memesan.” “Maaf, saya pikir tadi akan memesan setelah mbak Jingga datang.” Aruna lalu diam sampai pelayan meletakkan minuman dan makanan ke atas meja. “Kalau kamu mau memesan yang lain, silahkan. Setahu saya di sini makanan itu yang paling enak.” Aruna menatap makanan di depannya. Tak butuh waktu lama wanita itu tersenyum. “Ini sudah cukup. Terima kasih.” Dewa—pria yang duduk berhadapan dengan Aruna itu mengalihkan pandangan kepada pelayan restoran, kemudian memberitahu jika pesanan mereka sudah cukup. Pelayan akhirnya meninggalkan ruangan. “Jadi begini, dari pembicaraan saya dengan mbak Jingga beberapa kali, kami sudah membuat beberapa opsi desain sesuai dengan penggambaran mbak Jingga.” Aruna menggeser piring di depannya lalu menarik mendekat laptop miliknya. Wanita itu membuka file untuk diperlihatkan pada calon suami klien premiumnya. “Siapa nama kamu?” Terkejut, Aruna mengangkat kepala. “Oh, maafkan saya. Saya lupa memperkenalkan diri.” Aruna tersenyum tidak enak hati. Wanita itu kemudian membuka tas lalu menarik keluar satu kartu nama. “Ini kartu nama saya.” Dewa menerima uluran kartu nama yang menggantung di depannya. Pria itu menatap sang pemberi sebelum menurunkan pandangan mata. “Aruna Cantika?” “Benar. Itu nama saya. Panggil saja Runa.” Aruna tersenyum, sementara pria di depannya terdiam dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca. **** 10 Tahun Lalu .... “Kita putus.” “Apa?” “Kita … pu-tus.” Gadis dengan seragam putih abu itu menekan kata terakhir. “Apa maksudmu? Jangan bercanda, Runa.” “Aku tidak bercanda, Dewa. Aku serius. Mulai sekarang, kita ... putus.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook