Bab 10. Lingga Tidak Suka Om Dewa

1045 Kata
“Om … Om Dewa, ya?” Lingga yang sudah mendongak dan menatap sosok pria yang baru saja datang itu tersenyum. Dia mengingat wajah pria ini, tapi pria ini bukan seseorang yang pernah mentraktirnya makan. Maka ia menyimpulkan jika pria yang kini menatapnya tersebut bernama Dewa. Kembaran om Kala yang baik hati. “Benar, kan? Om … Om Dewa, kan?” Anak itu mengulang pertanyaan yang belum dijawab oleh sosok pria dewasa yang hanya diam menatapnya. Aruna buru-buru menarik sang putra ke arahnya ketika melihat perubahan ekspresi Dewa. Membuat Lingga sedikit kerepotan untuk menjaga keseimbangan tubuh. “Maaf, kemarin tidak sengaja kami bertemu dengan kembaran pak Dewa. Saya salah mengenali beliau. Akhirnya dia memperkenalkan diri sebagai kembaran pak Dewa.” Runa buru-buru menjelaskan, takut Dewa akan salah paham. Mengira dia mencari tahu tentang pria itu dan memberitahu putranya. Tidak. Ia sama sekali tidak mencari tahu siapa itu Dewa. Runa memutus pautan mata dengan Dewa yang terasa begitu menusuk. Apa dia melakukan kesalahan? Lingga menatap sang ibu, lalu pria bernama Dewa itu bergantian. Ia bingung, kenapa ibunya harus meminta maaf? Dewa menekan katupan rahangnya. Bola mata pria itu bergerak ke bawah, ke arah sosok anak laki-laki yang baru saja menyebut namanya. Tangan yang tersembunyi di dalam saku celana sudah mengepal kuat. Dewa buru-buru mengatur tarikan dan hembusan napas untuk bisa mengembalikan ketenangannya. Dia harus mengingat tujuannya keluar dari dalam mobil dan menghampiri mereka. Dengan tangan mengepal, Dewa menarik paksa dua sudut bibirnya. “Oh … jadi kamu sudah bertemu dengan om Kala?” Dewa bertanya sambil menatap anak laki-laki kecil yang langsung mengangguk dengan senyum cerah. Dewa berdehem lalu mengalihkan perhatian dari anak kecil yang tidak ingin ia ketahui siapa namanya. Pun dia tidak ingin peduli pada anak mantan kekasihnya. Dewa merangkul calon istrinya. Menoleh, pria itu tersenyum. “Yuk,” ajaknya sebelum mengayun kedua kaki. Jingga menoleh ke belakang. Tersenyum tidak enak hati ketika bertemu tatap dengan Runa. Jingga melanjutkan ayunan kaki mengikuti langkah sang calon suami. Di belakang mereka, Runa berjalan sambil menggandeng tangan sang putra. Lingga mendongak menatap sang buma. Anak itu mengerjap. Meluruskan pandangan ke depan, Lingga menggenggam tangan sang buma lebih erat. “Selamat datang.” Seorang pria berdarah India berjalan cepat keluar dari balik tumpukan kain. Berjalan cepat menghampiri beberapa orang yang baru saja masuk ke dalam toko kainnya. “Runa,” panggil pria tersebut. “Oh … jadi ini calon pengantinnya?” “Iya. Kenalin. Ini mbak Jingga yang sebentar lagi mau nikah. Dan ini calon suaminya. Pak Dewa.” Runa memperkenalkan sepasang calon suami istri yang datang bersamanya. Mereka mengobrol beberapa saat, sebelum kemudian pemilik toko mengajak mereka melihat beberapa jenis kain yang dipilih oleh Runa. “Ini tiga macam kain yang dipilih Runa kemarin. Ini lace brokat, kelihatan klasik romantis, anggun.” Pria berdarah india itu memperlihatkan kain berwarna putih tulang dengan lace brokat yang cantik. "Nah, kalau sutranya ini yang paling bagus." “Kalau yang ini Tulle. Kainnya ringan, jatuh, bagus banget. Nah yang ini Chiffon organza. Kainnya lembut, melayang, anggun.” Pria itu menjelaskan. Jingga menggerakkan kepala turun naik beberapa kali. Wanita itu terlihat bersemangat menyentuh jenis-jenis kain yang disebutkan. “Bagus-bagus, sih.” Jingga menyugar rambut panjangnya yang tergerai. “Bisa nggak sih dua kain dipaduin jadi satu, Runa?” “Dikombinasi? Bisa.” Runa mengerutkan bibir dengan kening yang mulai berlipat halus. Memikirkan bagian mana yang akan bagus memakai kain berbeda. “Kita bisa pakai kain Tulle dan lace untuk melapisi kain sutranya, pasti cantik.” “Begitu, ya?” Runa mengangguk. "Sebentar.” Runa membuka tas kemudian mengeluarkan laptopnya. “Sebentar saya buatkan desain yang mbak Jingga pilih pakai kain itu.” Lalu Runa mengedarkan pandangan. “Kasih saya waktu sepuluh menit.” Jingga mengangguk. Wanita itu kemudian berjalan mengikuti Runa, meninggalkan Dewa bersama pemilik toko serta anak kecil yang menoleh ke kanan kiri, tampak kebingungan. “Jadi rencananya kapan?” Pemilik toko membuka obrolan. “Oh … masih enam bulan lagi.” Sang pemilik toko tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. Berdehem ketika merasa atmosphere berubah. Rasanya tidak nyaman lantaran orang yang diajak bicara tampaknya kurang menyambut hangat. Sementara Dewa menunduk, menatap anak yang kini sedang menggulung-gulung ujung kain. Sesekali anak itu mengangkat kepala hingga tatapan mereka bertemu. Dewa memasukkan sebanyak mungkin oksigen untuk mengembangkan paru-parunya yang mengempis. “Kamu ….” Lingga kembali mengangkat kepala, membalas tatapan pria dewasa di depannya. Sepasang mata bening itu bergerak, mengedip. “Om … Dewa tidak suka sama Lingga, ya?” Dewa terdiam dengan sepasang mata tak beralih dari wajah kecil seorang anak yang ternyata bernama Lingga. Pria itu menekan katupan rahangnya. Ada rasa tidak nyaman di dalam d*da mendengar pertanyaan Lingga. Bagaimana anak itu bisa tahu? Padahal ia sudah berusaha untuk berekspresi normal, bahkan sudah memaksa tersenyum. Tapi … anak itu sadar jika dia tidak menyukainya? “Lingga bukan anak nakal.” Lingga sekali lagi mengedip. “Om Kala baik. Om Kala suka sama Lingga.” Lingga melepas ujung gulungan kain. Anak itu menoleh sebelum memutar langkah, kemudian dengan kaki pendeknya berlari ke arah bumanya sedang duduk. Runa memutar laptop ke hadapan Jingga, memperlihatkan hasil modifikasi gaun pengantin untuk Jingga. Wanita itu tersenyum. “Gimana? Mbak Jingga suka, tidak? Desainnya masih terlihat anggun dengan kain Tulle yang lembut, dan terlihat lebih mewah dengan tambahan kain lace di lapisan luarnya. Jingga yang sedang memperhatikan satu desain gaun pengantin di layar laptop tersenyum puas. Wanita itu menggerakkan kepala turun naik. Benar-benar puas dengan hasilnya. “Suka, Runa. Suna banget.” “Buma!” panggil Lingga dengan suara yang cukup keras. Membuat Runa dan Jingga menoleh bersamaan. Runa menatap sang putra yang sedang berlari ke arahnya itu dengan alis terangkat. “Ada apa, Sayang?” tanya Runa seraya menyerongkan posisi duduk lalu menangkap tubuh sang putra yang menghambur ke arahnya. “Buma … Lingga tidak suka om Dewa. Lingga sukanya sama om Kala. Ayo kita pulang. Lingga tidak suka om Dewa, Buma.” Mendengar apa yang dikatakan sang putra, Runa meringis. Refleks, wanita itu menoleh ke arah Jingga lalu mengucapkan, “Maaf.” Runa tidak enak hati. Sang klien premium harus mendengar apa yang dikatakan oleh putranya. Entah apa yang membuat Lingga tiba-tiba saja menyampaikan ketidaksukaannya pada Dewa. Runa menoleh ke arah sosok laki-laki yang ternyata berdiri menghadap ke arahnya. Dengan ekspresi wajah datar, pria itu menatapnya lurus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN