Aruna menatap bingung pria yang masih berdiri di sisi pendek meja sembari menatapnya. 500 juta atau satu miliar katanya? Aruna tidak mengerti. Jumlah sebesar itu apakah benar untuk menghargai hasil desainnya?
Tapi, kenapa ia mendengar sesuatu yang lain? Kenapa nada suara pria itu terdengar seperti sedang ingin menunjukkan seberapa kaya dirinya? Mungkinkah ia hanya salah sangka?
"Sayang, duduklah dulu. Lihat ini. Aku cuma butuh satu untuk acara resepsi."
"Kalau kamu mau, kita bisa buat resepsi tiga hari tiga malam."
Jingga menatap calon suaminya dengan kernyit di dahi yang semakin jelas terlihat. Sungguh, ia merasa aneh dengan tingkah Dewa. Ada apa dengan pria itu?
"Mas Dewa, duduklah dulu," pinta Jingga.
"Kamu tahu aku bisa berikan semua yang kamu mau, Sayang. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Calon suamimu ini bukan orang susah. Kamu bisa--"
"Maaf, saya permisi ke toilet sebentar." Runa tidak nyaman mendengar kalimat-kalimat yang meluncur dari mulut calon suami klien premiumnya.
Wanita itu beranjak dari tempat duduk. Mengangguk kecil pada Jingga sebelum menoleh dan melakukan hal yang sama pada Dewa. Setelahnya, Runa langsung mengayun kaki menjauh.
"Mas kenapa, sih? Kok aneh. Kenapa ngomongin soal tender sampai mau bayar 1 miliar buat gaun pengantin?" tanya Jingga mengeluarkan apa yang mengganjal di dalam kepalanya. Wanita itu tampak menarik napas panjang. Terlihat dari gerak dadanya.
Dewa mengerjap. Pria itu kemudian berdehem. Tidak mungkin ia menceritakan pada calon istrinya. Ah, apa dia cerita saja? Mungkin Jingga akan membantunya balas dendam.
Tapi, bagaimana jika Jingga justru marah dan memutus kerjasama dengan Runa? Sialan, kenapa dia harus memikirkan sejauh itu? Bukan urusannya. Pria itu tanpa sadar geleng kepala sendiri.
"Kenapa? Kok geleng kepala? Kamu beneran aneh loh, Mas. Apa ada masalah di kantor?"
"Hah?"
"Nah kan, kamu melamun. Ada masalah apa, sih?" desak Jingga yang sudah sangat penasaran. "Kamu sampai bikin Runa tidak nyaman, loh tadi."
Dewa bergerak kikuk. "Tidak ada. Tidak ada masalah kok. Sebaliknya, perusahaan sekarang sedang bagus-bagusnya. Banyak kontrak baru."
"Trus, kenapa kamu aneh? Seumur aku kenal kamu, tidak pernah sekalipun aku dengar kesombongan soal kekayaanmu. Tapi yang barusan itu apa? Sombong sekali. Kamu terkesan sedang berusaha mengkerdilkan seseorang."
"Siapa yang sombong? Yang aku katakan tadi itu kenyataan. Jadi tidak bisa dikatakan sombong. Aku juga sama sekali tidak berusaha mengkerdilkan orang lain," bohong Dewa. Padahal memang dia ingin menunjukkan keberhasilannya pada seseorang.
"Siapa bilang? Nyatanya tadi itu kamu terdengar amat sangat sombong, Mas." Jingga mengeluhkan sikap Dewa kali ini.
Dewa terdiam seraya memasukkan pelan oksigen dari celah mulut yang sedikit terbuka. Pria itu melirik ketika mendengar suara ponsel.
Benda yang tergeletak di atas meja itu bergerak-gerak.
"Kayaknya itu anaknya Runa," ujar Jingga setelah melongok ke arah layar ponsel yang menyala dan memperlihatkan wajah seorang anak laki-laki.
"Anak?" tanya Dewa dengan nada terkejut.
"Iya. Runa ternyata nikah muda. Anaknya kembar laki-laki seperti kamu. Sayangnya yang satu meninggal waktu lahiran. Sekarang umur anaknya sudah 9 tahun."
Mendengar cerita panjang lebar Jingga, jantung Dewa berdegup kencang. Pria itu terdiam kaku di tempatnya berdiri.
"Hebat, ya. Dia berani nikah mudah dan nyatanya berhasil." Jingga tersenyum.
Suara ponsel yang sempat berhenti, kembali terdengar. Bertepatan ketika Runa mendorong pintu dari luar setelah mengetuk dua kali.
"Sepertinya putramu, Runa," ujar jingga memberitahu.
Runa mempercepat ayunan kaki lalu segera meraih benda penghubung tersebut. "Maaf, saya terima dulu sebentar."
"Oke, santai saja."
Runa segera menerima panggilan dari nomor ponsel putranya.
"Assalamu'alaikum, Bude. Ada masalah dengan Lingga?" tanya Runa langsung. Lingga bersekolah di sekolah program khusus, dimana jam sekolah anak itu sampai sore.
Masih siang ketika nomor yang menghubunginya adalah nomor milik putranya, maka sudah pasti yang menghubungi adalah orang yang menjaga Lingga.
"Apa? Berkelahi lagi? Dia dibuli lagi?" Runa menarik pintu kemudian keluar lagi dari dalam ruang privat. Meninggalkan Jingga dan Dewa yang saling menatap mendengar sekilas pembicaraan Runa dengan seseorang yang dipanggil bude.
Sementara Runa menghembus panjang napasnya. Wanita itu sudah menghentikan langkah di samping pintu.
"Baiklah. Tolong beritahu wali kelasnya, sebentar lagi aku ke sekolah, Bude." Runa hanya bisa mendesah dalam hati mendengar cerita dari orang yang masih terhubung dengannya.
Lingga meminta gurunya memanggil wanita itu, bukan dirinya langsung. Mungkin putranya itu takut dia akan marah.
"Iya, Bude. Wassalamu'alaikum." Runa menurunkan ponsel. Menghembus keras napasnya, sebelum memutar langkah lalu segera mengayun kedua kakinya. Runa mengetuk pintu sebelum mendorongnya.
Wanita itu menatap dua orang yang duduk bersebelahan. Berdehem kala ayunan kakinya sudah berhenti di depan meja.
"Ada masalah?" tanya Jingga langsung.
"Um, iya ... ada sedikit masalah. Um, Mbak, saya minta maaf. Saya harus ke sekolah anak saya. Misal nanti Mbak Jingga sudah memutuskan memilih desain yang mana, bisa kabari saya. Nanti saya cari kainnya dulu."
"Itu namanya kamu tidak profesional. Seharusnya kamu tidak mencampurkan masalah pribadi dan pekerjaan."
Jingga menoleh, menatap tak percaya pria yang lagi-lagi memperlihatkan sikap aneh.
"Maaf, Pak. Tapi, saya harus ke sekolah anak saya." Jingga meremas ponsel yang masih berada di dalam genggaman tangan kanannya.
"Kamu bisa minta bapak anak kamu untuk mengurusnya. Jangan remehkan calon istri saya."
"Mas," peringat Jingga yang merasa kali ini Dewa sudah keterlaluan.
"Dia meremehkanmu, Sayang. Aku tidak suka kamu diperlakukan seenak hati."
"Mungkin suami Runi sibuk. Tidak masalah kok, aku tinggal diskusi sama kamu untuk memilih desain gaunnya."
"Aku tetap tersinggung--"
"Suami saya sudah meninggal." Runa memutus kalimat yang belum selesai Dewa ucapkan.
Suara Runa akhirnya menghentikan perdebatan Jingga dan Dewa.
"Benar kata em .. pak Dewa. Seharusnya saya profesional. Saya akan menghubungi guru anak saya."
"Pergi saja, Runa. Saya tidak apa-apa. Maafkan mas Dewa. Dia hanya tidak paham kondisimu. Sudah sana, sekarang urus putramu. Kasihan dia. Pasti dia sudah menunggumu."
"Kami juga akan pergi. Nanti aku hubungi kamu kalau sudah bisa memilih " Jingga beranjak dari tempat duduk, lalu menarik sebelah tangan Dewa. "Ayo, Mas. Aku tidak bawa mobil "
Dewa akhirnya berdiri.
Runa yang melihat dua kliennya berdiri pun akhirnya mengangguk. Mengambil tas, lalu menyampirkan ke bahu kiri. Sambil menggenggam ponsel, Runa menarik langkah. Berjalan di belakang pasangan yang bergandengan tangan.
"Kamu bawa mobil kan, Runa?"
"Tidak, Mbak. Tadi bareng sama teman. Saya di drop di sini."
"Oh." Jingga menoleh ke samping. "Mas, kita antar Runa dulu sebentar, ya?"
"Eh, tidak perlu, Mbak. Saya bisa naik ojol," tolak Runa tidak ingin merepotkan. Apalagi sepertinya calon suami kliennya itu terkesan tidak menyukai dirinya.
"Jangan ... jangan. Kelamaan. Kasian anakmu sudah nunggu."
"Biasanya cepat kok, Mbak."
"Sudah, jangan menolak." Jingga tetap memaksa. Tidak peduli sekalipun Dewa menahan geraman. Menurut Jingga, Dewa sudah melukao hati Runa dan dia ingin memperbaiki keadaan. Dia tidak suka perlakuan Dewa pada Runa.
Tiga orang itu keluar dari restoran setelah Dewa menyelesaikan pembayaran. Tentu saja Jingga yang memaksa calon suaminya yang membayar, meskipun Runa ingin membayar.
Entah kenapa dia menyukai Runa. Ia merasa seperti mendapat teman baru.
****
Runa duduk di kursi penumpang belakang dengan punggung tegak. Sebenarnya tidak merasa nyaman mendengar perbincangan calon pengantin di depannya. Runa memutar kepala ke samping.
"Arah mana? Kanan atau kiri?"
Runa mengedip, lalu kembali meluruskan pandangan ke depan.
"Kiri, Pak."
"Pak ... Pak. Memangnya saya bapakmu?"
"Kan tidak mungkin dia panggil kamu abang atau mas." Jingga menyahut sebelum mencebik. Membuat Dewa akhirnya terdiam. Runa mengatur tarikan dan hembusan napas pelan. Empat puluh menit yang terasa begitu lama bagi Runa.
Wanita itu menghembus napas lega begitu melihat sekolah putranya tak jauh di depan sana.
"Itu kan, sekolahannya?" tanya Jingga sambil menoleh ke belakang
"Iya, Mbak."
"Oh, di sini putramu sekolah. Siapa nama putramu?"
"Kalingga. Panggilannya Lingga."
Mobil berbelok. Masuk ke pelataran sekolah lalu berhenti di depan aula sekolah.
"Terima kasih banyak, Mbak Jingga ... Um, Pak ... Dewa. Saya permisi." Runa cepat-cepat mendorong pintu lalu keluar. Menutup kembali daun pintu, sebelum berjalan cepat menjauh.
Seorang anak kecil dengan seragam SD berlari lalu menabrak tubuh Runa. Memeluk sang ibu erat.
"Lingga minta maaf. Buma jangan marah, ya?" Anak itu mendongak menatap sang ibu dengan wajah memelas.
Sedangkan di dalam mobil, jingga dan Dewa menatap ke depan. Melihat apa yang terjadi di depan sana.
"Putra Runa tampan sekali. Pasti suaminya tampan." Jingga tersenyum. Meskipun ia tidak bisa melihat wajah anak kecil yang masih memeluk sang ibu, tapi, tadi dia sempat melihat fotonya pada layar ponsel Runa.