Bab 12. Janji Dewa

1006 Kata
“Kok ada suara anak kecil. Kalian sama siapa, Dewa?” Dewa seketika mendesah dalam hati. Mamanya mendengar suara anak itu yang memang cukup keras. Pria itu menatap kesal Lingga. Sementara yang ditatap tidak sadar. “Kok kenal Kala?” Nah kan, ibunya jadi penasaran mendengar suara anak itu menyebut nama Kala. Sialan Kala. Kenapa dia tidak bercerita kalau bertemu dengan mereka? Dan untuk apa juga saudara kembarnya itu sok baik pada mereka. Padahal Kala yang mendorongnya untuk balas dendam. Awas saja, batin Dewa kesal pada sang saudara kembar. “Dewa.” “Oh … iya, Ma. Kami baru selesai melihat kain buat gaun pengantin Jingga. Sebentar lagi kami jalan. Tungga, ya.” Dewa mengalihkan pembicaraan sang mama. Berharap mamanya akan melupakan pertanyaan soal anak kecil tersebut. “Dewa … itu tadi–” “Assalamu’alaikum, Ma.” Mendengar gelagat sang mama yang ternyata masih penasaran pada suara anak itu, Dewa langsung mematikan sambungan. Dewa buru-buru menurunkan ponsel dari telinganya. Tidak ingin menjawab rasa ingin tahu sang mama tentang siapa anak kecil yang menyebut nama Kala. Dewa lalu menarik langkah mendekati sang calon istri. Dewa meraih sebelah tangan Jingga, membuat wanita itu menoleh. “Yuk, sudah ditunggu mama.” “Oh ….” Jingga mengangguk. Menahan tarikan tangan Dewa, Jingga menoleh. “Duluan ya, Runa. Daadah Lingga.” Wanita itu tersenyum tulus. Melihat senyum Runa, Jingga akhirnya berjalan menjauh bersama sang calon suami. Runa memperhatikan keduanya seraya memasukkan sebanyak mungkin oksigen melalui celah mulut untuk mengisi paru-paru yang terasa mengempis dengan cepat. Entah kenapa ia merasakan perasaan aneh setiap kali bertemu tatap dengan pria itu. Dari pertama kali mereka bertemu. “Buma, kapan kita ketemu om Kala lagi?” Dengan cepat Aruna menurunkan pandangan mata. Menatap sang putra yang sudah mendongak menatapnya penuh harap. Sepasang bibir wanita itu terbelah. Hembusan karbondioksida lolos perlahan. Runa meraih kedua baru Lingga lalu sedikit memutar hingga benar-benar berdiri menghadap ke arahnya, kemudian menurunkan tubuh. Runa menumpu satu lutut ke lantai. Wanita itu menatap lekat sepasang mata yang masih menatapnya dengan harapan begitu besar dalam sorot mata polosnya. Runa mengerutkan sepasang bibirnya, sebelum kemudian mulai berbicara. “Lingga sayangnya Buma,” panggil Runa membuat dua kelopak mata sang putra bergerak turun naik. “Mulai sekarang–” Runa tidak langsung menyelesaikan kalimatnya. Tangan kanan wanita itu terangkat mengusap pelan kepala bagian belakang Lingga. Runa tersenyum. “Tolong jangan sebut-sebut nama om Kala lagi.” “Kenapa? Lingga suka om Kala. Buma boleh nikah sama om Kala.” Sepasang mata Runa membesar seketika. “Dari mana Lingga punya pemikiran itu?” tanya Runa tak percaya. Telinganya sampai berdengung mendengar apa yang baru saja putranya sampaikan. Lingga cemberut. Anak itu melepas pautan mata dengan sang Buma. Menunduk, menatap sepatu warna hitam yang membungkus dua kakinya. Lingga mendongak. “Kata teman Lingga, Lingga harus biarin Buma nikah biar Lingga punya bapak.” “Lingga sudah punya bapak, Sayang.” Lingga menarik turun tangan ibunya yang memegang bahunya. “Lingga maunya bapak yang bisa Lingga peluk. Bukan bapak yang sudah di surga.” Anak kecil yang sedang merindukan sosok ayah itu menghentak kaki sebelum kemudian memutar langkah lalu berlari meninggalkan sang buma yang masih tercengang. Sementara Dewa dan Jingga yang sudah masuk ke dalam mobil, sama-sama melihat apa yang terjadi di depan toko. Dewa berdecak. “Anak itu beda dari Rain. Untung keponakanku manis-manis. Tidak ada yang ngambekan seperti dia.” Jingga menoleh, menatap Dewa dengan kening yang sudah tidak lagi rata. Beberapa lipatan halus menghuninya. “Mas tidak bisa membandingkan anak satu sama anak yang lain. Rain, dia beruntung punya orang tua yang memenuhi tangki hatinya dengan cinta dan perhatian.” Dewa memutar kepala. Sepasang matanya langsung terpaut dengan netra Jingga. Jingga menarik napas panjang, lalu membelah sepasang bibirnya. Karbondioksida lolos dari celah bibir yang terbuka tersebut. “Kalau mendengar sedikit cerita tentang anak itu, sudah pasti kebutuhan rasa cinta, kasih sayang dari orangtuanya kurang. Bapaknya sudah meninggal. Ibunya harus bekerja untuk menghidupi mereka.” “Dan menurutku, Lingga bukan anak yang nakal. Mungkin dia ngambek karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak tantrum. Dia hanya melampiaskan dengan sedikit gelagat tidak puas.” Jingga bicara panjang lebar. Membuat Dewa diam mendengarkan tanpa bersuara sedikitpun. Dewa meluruskan pandangan ke depan. Bola mata pria itu bergerak ke arah seorang wanita yang berjalan cepat menghampiri sang putra, lalu tampak mulai membujuk putranya itu untuk naik ke atas motor. Tanpa sadar, pria itu menekan-nekan katupan rahangnya. Dewa mendengkus melihat Rua mengangkat tubuh putranya. Mendudukkan sang putra ke atas boncengan motor. “Akan kupastikan anak-anakku kelak terpenuhi tangki cintanya. Aku tidak suka melihat anak yang merepotkan ibunya.” Jingga tersenyum. Wanita itu mendorong tubuh ke samping lalu mengecup pipi kiri Dewa. Wanita itu sedang mendengar janji Dewa. Jingga sudah hendak menarik kembali tubuhnya, ketika Dewa justru menoleh sambil menahan pinggang Jingga. Membuat Jingga menatap dengan alis terangkat. Satu sudut bibir Dewa terangkat. Membuat Jingga tergelak. Paham apa yang akan terjadi selanjutnya, Jingga mendekatkan wajah mereka. Dewa menyambut suka cita. Tanpa basa basi, Dewa menyatukan bibir mereka. **** Runa menghembus napas lega setelah berhasil membujuk Lingga dan mendudukkan sang putra ke atas boncengan motor. Wanita itu kemudian memakaikan helm di kepala Lingga, sebelum mengambil helm nya sendiri kemudian memakainya. "Lingga anak pintar," puji Runa pada sang putra yang meskipun sudah diam duduk di boncengan motor, namun bibirnya masih cemberut. Runa tersenyum menatap wajah sang putra yang terlihat lucu. Wanita itu kemudian naik ke atas motor. Mendorong motor ke depan hingga dua standar terangkat, lalu segera menyalakan mesin motor. Runa memundurkan motor sebelum memutar stang lalu menarik gas. Kendaraan roda dua warna biru itu bergerak. Runa menoleh ketika menyadari mobil mewah yang ia tahu siapa pemiliknya masih berada di tempatnya. Saat motor bergerak melewati mobil tersebut, dengan sendirinya bola mata wanita itu bergerak ke arah bagian depan mobil. Sedangkan di dalam kendaraan roda empat warna silver, Dewa melirik ke luar sementara bibirnya masih bergerak--menari bersama sang calon istri. Sampai kemudian suara ponsel terdengar memekakkan telinga. Memaksa sepasang calon pengantin tersebut menarik kepala ke belakang hingga pautan bibir mereka terlepas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN