32-Bab 32

1122 Kata
Malam ini hujan turun dengan derasnya, diiringi suara petir yang menggelegar. Para tetangga sudah pasti memilih untuk tidur dibandingkan untuk menonton televisi atau membiarkan anak-anaknya bermain hp. Hal yang sama dilakukan oleh Ambar. Dia memutuskan untuk membuat coklat hangat. Kedua matanya belum mau menutup, sepertinya karena terlalu banyak pikiran membuatnya jadi tidak bisa tidur. Tadi dia menyempatkan diri ke kamar sang ibu. Hendak membuatkan teh hangat untuknya, tetapi ibu sudah tidur duluan. Dalam keheningan malam, hanya ditemani suara hujan dan petir yang terdengar keras dikedua telinganya. Ambar mengaduk-aduk coklat hangatnya dengan satu tangan menopang dagunya. Dia tak takut sendirian di dalam dapur.  Pikirannya melayang saat dia tak sengaja bertemu dengan ibu kandung Keenan. Sebagai seorang ibu, tentu benar apa yang dikatakan ibu Keenan. Ingin mendapatkan hak dan keadilan setelah mendapatkan hal tak mengenakkan yang rupanya hanyalah sebuah fitnah. Dia tanpa sadar juga ikut andil dalam masalah itu. Dimana memilih tak percaya, dan tak mau menemui ibu kandung Keenan sekian lamanya saat mengingat pengkhianatan Keenan.  Namun, kini misinya untuk mendekatkan Haikal dengan Santi kembali. Lelaki itu harus tahu perasaannya, apalagi selama ini selalu terbiasa dengan kehadiran Santi.  Suara ponsel berbunyi membuat Ambar segera mencari ponselnya. Ternyata ada di ruang tamu. Suasana malam ini sungguh mencekam, membuatnya merinding saja. "Halo," sapanya setelah mengucapkan salam. "Ambar, ayah sakit. Kini sedang dilarikan di rumah sakit," ujar suara yang dia yakini adalah Arda. Entah dapat darimans nomor ponselnya. Dia memastikan bahwa Haikal yang telah memberikan nomor ponselnya kepada Arda. "Terus kenapa Kak?" "Astaghfirullah, Ambar. Kenapa katamu? Ayahmu sedang sakit dan keadaannya parah. Apa kamu tak ada niatan untuk menjenguknya?" "Tidak." "Bagaimanapun ayahmu yang selalu ini merawat dan membesarkanmu dengan kasih sayang." "Ya, Ambar sangat tahu itu. Tetapi, jika ayah tak memisahkanku dengan ibuku pasti sekarang aku dirawat oleh ibuku. Kakak lihat bagaimana kedaan ibuku, bagaimana ayah memperlakukannya. Bagaimana mungkin dengan teganya memisahkan seorang ibu dan anak hanya karena balas dendam. Apa begitu cara pria memperlakukan wanita yang telah melahirkan keturunan keluarganya? Oh ya, dia bukan ayah kandungku, Kak. Dia pamanku," kata Ambar dengan tangan kiri mengepal. "Ambar, jangan katakan seperti itu. Jika memang kamu tidak ingin menjenguk ayah, apa kamu tak merindukan Bang Galih? Dia sangat rindu padamu." "Kita hanya sepupu, Kak. Aku tahu Bang Galih selama ini memperlakukanku layaknya adik kandungnya sendiri. Tetapi, kita tetap punya batasan, Kak. Aku hanyalah sepupu Bang Galih." "Mau sampai kapan kamu menjauh dari keluargamu sendiri Ambar? Mau sampai kapan?" Ambar terdiam. Kemudian dia menjawab, "Sampai ayah menyadari kesalahannya." "Ayah sudah sadar dan menerima hukuman atas perbuatannya. Kamu menjauhinya itu sudah hukuman baginya Ambar." Ambar menghela nafas panjang. Hujan makin deras. "Kak, aku tutup telfonnya. Hujan makin deras." "Ambar, kakak harap kamu mau menjenguk Ayah. Setidaknya sekali saja tidak apa. Ayah sangat mengharapkan kehadiranmu. Jangan sampai kamu menyesal." Ambar langsung mematikan ponselnya setelah mengakhiri panggilan telfon itu. Apa kata Arda tadi tentang penyesalan. Mana mungkin dia akan menyesal. Bagaimana Ambar selalu berupaya untuk mengungkap semuanya. Seharusnya pamannya itu yang menyesal telah menghancurkan acara pernikahannya juga menghancurkan kehidupannya. Dia membiarkan ponselnya di ruang tamu dalam keadaan mati. Kemudian berjalan menuju dapur untuk menghabiskan coklat hangatnya lalu mencucinya. Setelah itu dia berjalan menuju kamar sang ibu. Memutuskan untuk menemani ibu tidur. Dia harap ibunya tak akan memukulnya kali ini karena merasa takut. "Ambar sayang sama ibu, cepat sembuh ya, Bu," ujar Ambar sambil mencium kening Ambar. Merebahkan tubuh di kasur, Ambar memutuskan tidak tidur. Dia masih memikirkan perkataan Arda tadi. Apakah dia harus menjenguk ayahnya yang kini ternyata adalah pamannya sendiri. Dia tahu pria itu begitu menyayangi dirinya layaknya putri kandungnya. Namun, dia tak terima selama ini dibohongi oleh pria itu. Dia melirik sang ibu yang tampak tertidur dengan nyenyak. Bagaimana perjuangan ibunya selama ini.  Air mata menetes. Dia hanya ingin kesembuhan sang ibu. Dia merasa sangat bersalah saat mengusir wanita paruh baya itu dulu bahkan memutuskan untuk tidak menemuinya. Rupanya memang benar ibu kandungnya. Entah seberapa banyak dia harus meminta maaf. Kasih sayang ibu begitu besar. Rela berkorban apapun demi sang anak. Ambar memeluk ibunya, kemudian memejamkan kedua mata. ******** Hari ini Ambar merasa senang. Sang ibu mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang. Bahkan, menyapanya dengan senyuman. Dia yakin sang ibu sudah sepenuhnya sembuh. Dia harus mengajak ibunya cek kesehatan kali ini. "Ibu, Ambar senang sekali," ujarnya dengan senyuman bahagia. Tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. "Ambar senang ibu sembuh, Ambar senang, Bu." Dia bangkit dari ranjang lalu menuju dapur untuk membuatkan makanan. Kali ini dia akan membuatkan makanan kesukaan ibu. Dia hanya mengira-ngira saja. Dia rasa makanan kesukaan ibunya sama dengan makanan kesukaannya.  Dengan lihai dia mengiris bawang merah dan putih. Jika di rumah lamanya dia selalu malas untuk memasak. Kini, seakan dia memiliki kekuatan penuh untuk memasak makanan yang begitu lezat. Senyuman tak pernah luntur dalam wajahnya. Sepertinya dia harus membagi kabar baik ini kepada Haikal. Bagaimanapun lelaki itu yang membantunya dalam menemukan keberadaan sang ibu. Diambilnya ponsel yang berada di ruang tamu, kemudian mencari nama Haikal di kontaknya. "Halo," sapa suara serak di seberang sana yang dia yakini baru bangin tidur. Rasanya selama dekat dengan Haikal dia sampai hafal kebiasaan lelaki itu yang suka bangun siang.  "Haikal," sapa Ambar dengan bahagia. Diseberang sana, Haikal mengernyitkan dahi dengan bingung. Nada gembira Ambar menyambut indera pendengarannya. Dia merasa ada sesuatu hal yang membuat Ambar bahagia. "Ada apa?" tanyanya sambil mengusap kedua matanya. "Ibuku sepertinya sudah sembuh," jawab Ambar dengan senyuman lebar. "Apa? Kamu serius?" Ambar mengangguk, dia tahu Haikal tak mungkin bisa melihatnya. "Iya, ibuku sembuh. Tadi memelukku, bahkan mengelus rambutku." "Kamu harus tetap membawanya ke dokter. Aku turut senang mendengarnya," kata Haikal yang ikut bahagia. "Iya, nanti siang aku akan membawanya ke dokter. Terima kasih atas semuanya ya, Haikal. Aku akan selalu mengingat segala kebaikan padamu kepadaku. Karenamu aku menemukan kebenaran ini. Karenamu aku menemukan ibu kandungku. Aku sangat senang, kini ibu sudah sembuh." "Iya, aku senang mendengarnya. Semua ini juga karena tekadmu yang tak pernah putus. Oh ya Ambar, maafkan aku yang memberikan nomor barumu kepada Kak Arda. Tetapi, memang keadaan ayahmu sedang tidak baik-baik saja. Aku harap kamu bisa memaafkannya. Aku tahu ini tidak mudah bagimu, tetapi kurasa kamu harus menjenguknya Ambar." Ambar terdiam. Moodnya tiba-tiba anjlok begitu saja. "Aku tutup telfonnya ya. Aku sedang memasak ini." "Ambar." Haikal menghela nafas panjang.  Ambar kemudian melanjutkan acaranya yang tertunda tadi. Dia memutuskan tidak terlalu memikirkan perkataan Arda maupun Haikal. Dia masih butuh waktu. Rasa sakit dan kecewanya masih membekas begitu dalam.  Namun, setelah dia pikir-pikir memang tak ada salahnya dia menjenguk sesekali saja. Dia hanya takut akan sebuah penyesalan yang dikatakan oleh Arda. Lagipula ayah sudah tua, dia takut kenapa-napa. Walau mungkin rasa kecewa itu masih ada. Dia tidak boleh menjadi wanita pendendam. Dia harus mencoba memaafkan segalanya. Seperti sang ibu yang selalu memaafkan perbuatan sang ayah selama ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN