Hari ini Ambar merasa hatinya begitu lega. Pikirannya terasa tenang, hari-hari berikutnya dia harap selalu tersenyum bahagia. Ibu kandungnya sudah sembuh, walau mungkin masih agak susah memberi respon kepadanya karena trauma terhadap apa yang selama ini terjadi. Namun, kebahagiaan itu sirna saat mendapati Keenan duduk di depan rumahnya sambil memainkan ponsel. Ambar membawa ibunya masuk ke dalam kemudian memutuskan berbicara dengan Keenan di luar. "Ada perlu apa kamu ke sini?" tanya Ambar dengan wajah datar. Keenan tersenyum manis. "Tentu ingin bertemu dengan calon istri." Helaan nafas panjang terdengar. Ambar berkata, "Keenan, aku bukan lagi calon istrimu. Seharusnya kamu tahu itu." "Tidak, kamu calon istriku, Ambar. Mau kamu menolak sekalipun, kenyataannya kamu adalah calon istriku.

