Pria paruh baya yang duduk bersender pada bantal di balik punggungnya dengan tatapan kosong menjadi perhatian penuh Ambar. Pria yang selalu memberikannya kebahagiaan dan kasih sayang penuh, tetapi juga yang menghancurkannya dalam sekejap. Tidak dia dapat kakak iparnya sekaligus suaminya di sini. Ini kesempatan untuknya berbicara kepada pria yang mungkin masih dia panggil ayah. Ambar berjalan pelan menuju ranjang tersebut. Mengalihkan perhatian pria paruh baya itu yang kini menatapnya dengan terkejut. "Ambar," ucapnya dengan suara pelam tetapi dapat didengar oleh Ambar. Dia menarik kursi dan memilih duduk disebelahnya. "Bagaimana kabarmu Ambar?" tanya pria itu dengan tatapan terharu. Tampak senang melihat keadaan Ambar yang terlihat baik-baik saja walau dibawah kantung mata tampak seka

