30-Bab 30

1536 Kata
Keenan sungguh menyesal telah meninggalkan wanitanya tepat di hari pernikahan dua tahun yang lalu. Seharusnya dirinya telah sah menjadi suami dari wanita yang dicintainya. Hanya saja pria paruh baya yang tak lain ayah angkat wanitanya mengacaukan segalanya. Dia dibenci keluarganya karena dianggap memalukan. Dia dituduh meninggalkan Ambar dengan wanita lain. Ambar membencinya, tak cukupkah raganya yang sakit ditambah dengan hatinya yang ikut sakit? Sungguh dia tak kuat menerimanya. Hidupnya kini tak terarah, berbagai upaya dia menjelaskan kepada keluarganya juga Ambar. Hingga dia memiliki harapan untuk menikahi Ambar. Merajut impiannya yang dulu sempat sirna. Berjuang dengan bekerja sepenuh hati. Namun, orang tuanya yang mendengar penjelasan darinya begitu membenci ayah angkat Ambar. Ah, lebih tepatnya paman Ambar. Hingga dia harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan restu dari kedua orang tuanya. Ambar wanita yang cantik, tegas, cerdas, mandiri, apalagi yang kurang dalam diri Ambar? Siapapun lelaki pasti menginginkan Ambar sebagai calon istrinya. Termasuk Haikal sepupu Arda. Dia mengetahui hal itu. Setelah dia berusaha keras untuk bebas dari desa dimana dia disembunyikan. Seharusnya hal ini bisa dilaporkan ke ranah hukum, tetapi dia tak mau menyakiti perasaan Ambar. Bagaimana Ambar sempat menyayangi pamannya walaupun kini telah membencinya. Datang ke rumah Ambar dengan bunga mawar merah. Senyuman manis mengembang di bibirnya saat melihat Ambar tampak asyik menyirami bunga-bunga di taman kecilnya. Hatinya selalu menghangat berada di sekitar Ambar. Bagaimanapun nanti, dia akan tetap memperjuangkan Ambar sekuat tenaga. "Ambar," panggil Keenan. Kemeja biru laut dengan celana kain hitam dan potongan rambut cepat membuatnya begitu tampan. Kulitnya yang lebih cerah daripada dulu karena berada di tempat yang jauh dari sinar matahari. Sungguh mengingat hal itu membuatnya merasa lemah. Dia harus lebih keras belajar karate. Supaya bisa menjaga Ambar dari segala macam bahaya. Dia tak boleh lemah sebagai calon suami Ambar. "Ambar," panggilnya lagi. Keenan tahu Ambar pasti mendengarnya, hanya saja pura-pura tak mendengarnya. Doa terkekeh pelan. "Bunga mawar untuk wanita cantik, calon istri Keenan," ucap Keenan dengan senyuman manis. Lesung pipitnya terlihat, membuat Ambar terpaku melihatnya. Ambar menatap bunga mawar merah itu, tak berniat untuk mengambilnya. Ambar sudah mengerti apa yang terjadi dengan lelaki itu. Namun, baginya Keenan hanya masa lalu. Dia tahu hal ini akan sangat menyakiti Keenan mengingat bagaimana perjuangan Keenan selama ini. Namun, dia juga tak bisa apa-apa. Cintanya telah hilang tergantikan benci, walau sekarang sudah mulai lunak. Dia tak membenci Keenan. "Ambil dong bunganya," ucap Keenan. Dia tak marah saat Ambar melengos begitu saja. Duduk di kursi, Keenan mengikutinya. Meletakkan bunga mawar merah di meja yang ada di tengah-tengah dirinya dan Ambar. "Kenapa kamu tidak menuntut pria itu?" Dahi Keenan berkerut. "Pria itu siapa?" "Pria yang telah membuatmu terluka. Pria yang memisahkanmu dengan calon istrimu. Katakan padaku, kenapa kamu tidak menuntutnya? Apa alasanmu sebenarnya?" Keenan menghela nafas panjang. Tatapannya lurus ke depan. "Aku tahu perbuatannya sungguh salah. Hal ini seharusnya masuk jalur hukum. Namun, bagaimana bisa aku memenjarakan pria yang begitu baik merawat calon istriku? Pria yang sangat disayangi calon istriku? Pantaskah aku melaporkannya, hingga membuat calon istriku menangis." Ambar tertegun mendengarnya. Dia menundukkan kepala. Perkataan Keenan sungguh menyentil hati terdalamnya. Ketulusan lelaki itu dan pemikirannya. "Tidak seharusnya kamu melakukan hal itu. Hukum tetap berlaku. Dua tahun kamu diasingkan dan dijauhkan dari keluargamu. Tak peduli tubuhmu luka-luka sekalipun." "Tetapi, akhirnya aku bebas bukan?" Keenan tahu perjalanan menyakitkannya. Jika orang lain pasti trauma. Namun, dia tidak. Hatinya yang memaksanya untuk kuat. Mengingat bagaimana Ambar. Hatinya memaksanya untuk tetap berusaha kabur dari cengkeraman anak buah ayah angkat Ambar. Semua dia lakukan supaya bisa bertemu Ambar. Walau awalnya dia kecewa saat Ambar membencinya. "Seharusnya kamu menuntutnya!" Ambar menggeram kesal. Dia tak mau Keenan diam saja. "Hei, tenang Ambar," kata Keenan sambil melirik Ambar yang tampak emosi. "Kenapa kamu harus sebaik ini Keenan? Aku benci melihatmu baik. Kamu harus menuntutnya! Dia jahat telah melakukan hal yang buruk padamu. Seharusnya kamu melaporkannya, jangan diam saja!" Keluarganya pun juga memintanya begitu. Namun, Keenan tak bisa. Dia memilih berdamai dengan masa lalu. Apalagi yang dia dengar sekarang pria paruh baya itu sedang mengalami sakit. Mungkin karena akibat perbuatannya selama ini. Pria itu sudah menerima balasannya, baginya tak perlu memperpanjang masalah. Ambar sudah mulai menerimanya itu lebih baik. "Aku tak mau jadi sosok yang membenci. Walau beliau salah, kini beliau sudah mendapatkan balasannya." Ambar menarik nafas panjang. Dia benci keadaan seperti ini. Dia tak suka mengingat kejadian dua tahun yang lalu. Ternyata benar sebuah kata bahwa yang paling mengecewakan sebenarnya adalah orang terdekat. Kini, Ambar tahu bahwa orang yang tak pernah dia kira bisa jahat adalah sosok yang membahayakan dihidupnya. Sungguh dia menyesali kepolosannya selama ini. "Pergi kamu dari sini," desis Ambar. Dia terang-terangan mengusir Keenan. "Aku tamumu, kamu mengusirku? Seharusnya kamu menjamuku," balas Keenan tak mau kalah. Dia baru datang dan tak mau pergi. Walau dia tahu suasana hati Ambar tidaklah baik semenjak hari itu. Berbagai kebenaran yang terungkap. Ambar mengepalkan kedua tangannya. Dia memilih langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Keenan sendirian dalam tatapan sedih. Keenan menatap pintu utama Ambar yang telah dikunci dari dalam. Helaan nafas panjang terdengar. Dia memutuskan untuk pulang. Membiarkan bunga mawarnya tetap berada di meja. Semoga nanti Ambar merawatnya dengan baik. Seperti hatinya yang selalu merawat cintanya untuk Ambar dengan baik. ******* "Keenan, ibu mau kamu menikah dengan wanita pilihan ibu!" Sampai rumah bukannya dapat ketenangan justru makin memusingkan. Dia melihat kakak lelakinya dan ayahnya yang memilih diam. Jika ibunya sudah berbicara semua mendadak diam tak berkutik. "Keenan cinta Ambar, Bu," jawab Keenan dengan tenang. "Ngomong cinta terus." Keenan merasa ibunya semakin galak saja. Entah kemana perginya ibu yang lembut dan ramah kepada anak maupun tetangga. Dia tahu penyebabnya karena masalah dirinya di masa lalu. "Bu, cinta tak bisa dipaksakan. Di hati Keenan hanya ada Ambar. Keenan hanya ingin Ambar yang jadi istri Keenan, Bu. Tolong, ibu mengertilah." "Keenan, kamu gak sayang sama Ibu?" Keenan menatap kedua mata ibunya dengan tatapan sendu. Dia tak bisa meninggalkan Ambar. Dia sudah mulai berjuang lagi, mana mungkin dia memilih wanita lain. Jika hatinya hanya menatap pada satu orang yakni Ambarwati. "Bu, masihkah ibu mempertanyakan kasih sayang Keenan kepada ibu? Bu, untuk menikah dengan wanita lain, Keenan tak bisa Bu. Bagi Keenan, Ambarlah yang Keenan mau jadi istri Keenan. Aku tahu alasan ibu menolak memberi restu. Bu, lagian itu masa lalu. Bukan hanya Keenan dan keluarga kita yang tersakiti, tetapi Ambar juga Bu. Dia tak tahu apa-apa tetapi ternyata hidup dalam segala rahasia," jelas Keenan. Dia berdiri dan berjalan mendekati sang ibu. Duduk dihadapannya. Meraih kedua tangan ibunya. Menatapnya dengan penuh kasing sayang. "Bu, tolong restui Keenan untuk menjadikan Ambar istri Keenan lagi, Bu. Hanya Ambar yang Keenan mau, bukan yang lain. Ibu tahu bagaimana kisah dan perasaan Keenan kepada Ambar." Keenan menundukkan kepala. Dia kemudian lanjut berkata, "Restui Keenan, Bu." "Kamu tahu sendiri bagaimana perbuatan ayah Ambar kepada kamu. Ibu sangat membenci jika ada orang yang menyakiti anak ibu. Baik kamu sama kakakmu, ibu membenci orang yang menyakiti kalian. Kenapa kamu tak mengerti itu Keenan? Kamu dan Ambar tidaklah berjodoh. Kamu dan Ambar sudah selesai." Keenan menggelengkan kepala. Dia tak mau. "Bu," ucapnya dengan suara serak menahan tangis. Walau dia lelaki, dia juga sedih saat kisah cintanya tak direstui. Mencintai tetapi tak bisa memiliki. Mencintai tetapi hanya bisa sebatas mimpi. Dia tak mau kisah cintanya dengan Ambar begitu. Dia mau dirinya dan Ambar selamanya. Dia lelaki, tak akan pernah menyerah sampai mendapatkan apa yang dia inginkan. Hanya Ambar yang dia inginkan, walaupun akan ada banyak Ambar di dunia ini. Dia hanya akan bersama Ambarnya, Ambarwati Setyoningsih. Wanita yang mampu membuatnya jatuh cinta begitu dalam. "Sadar, Keenan. Ibu mohon kamu sadarlah." Keenan tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis dihadapan ayahnya. Untung saja kakaknya dan istrinya memutuskan ke kamar lebih dulu karena istrinya sedang tak enak badan. "Bu, Keenan hanya mau Ambar." Keenan kali ini tampak sangat cengeng. Perjuangan dan pengorbanannya tak boleh putus begitu saja. "Bu, tolong restui Keenan." Terdengar ibu menarik nafas sebanyak-banyaknya kemudian menghembuskannya, lalu berkata, "Asal kamu menuntut ayah Ambar. Ibu lalu meminta Keenan berdiri karena dia akan meninggalkan ruang tamu tampak mencengkam. Kini tinggal Keenan dan sang ayah yang hanya diam saja sedari tadi. Ayah berdehem. "Keenan, dengarkan perkataan ibumu." Keenan menggelengkan kepala keras. "Tidak, Ayah. Keenan hanya mau Ambar. Tidak dengan yang lain." "Jangan sampai cintamu berubah menjadi obsesi, Nak." "Tidak, Ayah." Keenan menggelengkan kepala tegas. Dia tak mau dipisahkan oleh Ambar. Apakah dia harus melakukan sesuatu yang membuat dirinya dan Ambar akan langsung dinikahkan? Ah, itu bukan hal baik. Cinta itu menjaga, bukan merusaknya. Cinta itu menghormati dan menghargai, bukan mencela ataupun mengganggu pasangan orang lain. "Kamu sungguh mencintainya?" Pertanyaan dari sang ayah langsung dijawab anggukan tegas oleh Keenan. "Baiklah, nanti ayah coba bicara dengan ibumu." Ayah beranjak meninggalkan ruang tamu menuju kamar. Keenan membaringkan tubuhnya di sofa. Dia dan Ambar tak akan bisa dipisahkan. Dia harap ibunya akan segera merestuinya. Hingga tinggal sedikit dia meluluhkan hati Ambar. Dia akan menikahi Ambarnya. Bahagia bersama, menghadapi suka dan duka bersama berdua selamanya juga dengan anak-anaknya dan Ambar. "Ambar, sampai kapanpun kamu hanya milikku. Tidak boleh seorangpun mengambil darimu padaku." Awalnya cinta yang berubah obsesi. Begitu cepat hati berubah. Membuat dirinya tak siap untuk menerima kenyataan yang ada. Rasanya cukup saat dia mengingat penolakan Ambar. Dia memutuskan berjalan menuju kamarnya. Lebih baik digunakan untuk istirahat supaya kuat menjalani kehidupan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN