29-Bab 29

1076 Kata
Suasana taman kali ini cukup ramai, Ambar yang membawa sang ibu pun hanya bisa menenangkan diri. Bagaimana ibunya yang hampir berteriak berada di keramaian. Tangannya mengusap bahu ibu supaya tenang. Daripada ibu kenapa-napa, Ambar memutuskan membawanya pulang. Cukup jalan kaki karena dekat dari rumah. "Ambar." Langkah kakinya terhenti ketika mendengar suara seseorang yang sangat dia kenali. "Walau udah lama tak bersama, aku sangat hafal bahwa kamu adalah Ambar, My Ambar." Benar saja saat menolehkan kepala ke belakang, wajah tampan itu tetapi ada goresan di wajah itu tersenyum menatapnya. Dia sangat membencinya, bagaimana lelaki itu telah melukai perasaannya selama ini. Kenapa harus kembali dan bertemu dengannya di sini. Setelah beberapa detik bertatapan, Ambar mengalihkan pandangan. Dia mendorong kursi roda ibunya tanpa mau menoleh ke belakang lagi. Namun, lelaki itu rupanya mengejar dirinya. "Ambar, tunggu!" "Bisa tidak kamu tidak mengikutiku?" sentak Ambar dengan tatapan tajam. Dia menarik nafas panjang, ibunya bisa kaget nanti. Lelaki itu jalan mendahuluinya, duduk bersimpuh dihadapan wanita paruh baya yang kini telah dipanggil ibu oleh Ambar. Menggenggam tangan wanita paruh baya itu dan berkata, "Bu, ini Keenan." Ambar melotot melihatnya. "Apa sih kamu, lebih baik kamu pergi. Kamu mau jadi pusat perhatian?" Lelaki bernama Keenan itu menghela nafas pelan. Lalu, memutuskan berdiri. Mengikuti Ambar dari belakang. Ambar tahu jika ada Keenan yang mengikutinya, tetapi dia membiarkannya. Hingga tampaklah rumah minimalis tetapi tampak mewah, Ambar hendak menutup gerbang, tetapi Keenan memutuskan masuk lebih dulu. "Tunggu Ambar, ada yang ingin aku katakan!" "Bi, bawa ibu masuk ke dalam!" teriak Ambar. Dia sudah tak bisa menahan amarahnya. Ambar mencium punggung tangan ibunya. Setelah ibu dibawa bibi masuk ke dalam rumah, Ambar menoleh ke arah Keenan. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa kamu harus datang lagi? Seharusnya kamu mati, Keenan," desis Ambar. Hati Keenan sakit saat mendengarnya. Wanita yang dia cintai, wanita yang dia ajak nikah dulu kini sangat membencinya. Andai Ambar mengetahui semuanya. "Dia ibumu?" "Iya, kenapa?" Ambar sewot seketika. Keenan terkekeh dengan kegalakan Ambar. "Ambar, aku akan menjelaskan sesuatu." "Tidak perlu. Seharusnya kamu sadar akan kesalahanmu. Meninggalkan wanita di hari pernikahannya demi wanita lain." Ambar tertawa. Dia menahan tangis, ah tidak dia tidak akan menangis. "Ambar, ini tidak seperti apa yang kamu katakan," ujar Keenan. "Lalu apa?" Ambar menyedekapkan kedua tangannya, menatap tajam lelaki dihadapannya. Dia langsung mengalihkan pandangan, malas rasanya melihat lelaki itu. "Kamu lihat luka ini? Kamu percaya tidak jika ada seseorang yang sengaja memisahkan kita? Tidak mengizinkan kita menikah?" Ambar menaikkan sebelah alisnya. "Kamu membual." "Tidak, Ambar. Ini benar," ucap Keenan meyakinkan. "Bagaimana jika aku katakan kalau ayahmulah yang menculikku?" Ambar tak suka mendengarnya. Dia cukup kaget saat tahu kebenarannya, ayahnya mungkin telah jahat kepada ibu kandungnya tetapi rasanya tak mungkin ayahnya juga menghancurkan impian indahnya. "Ayahmu mengutus orang lain untuk menculikku. Kamu tahu alasannya? Karena ibumu. Aku mengetahui apa yang telah disembunyikan ayahmu, aku mendengarnya bahwa wanita itu pindah tempat dan ayahmu kecolongan. Aku mendengarnya dari telfon, aku lalu memutuskan mencari tahu lebih jelas. Hingga ayahmu mengetahuinya, beliau takut jika aku akan menyebarkan informasi ke kamu. Beliau tak mau kamu membencinya." Ambar menggelengkan kepala. Dia tak percaya, Keenan bisa saja berbohong. "Percaya padaku, Ambar. Aku akan menunjukkan buktinya padamu. Aku mencari kamu kemana-mana setelah aku tahu kamu pergi dari rumah. Kini, aku menemukanmu. Percaya padaku ya, Ambar. Aku akan pulang dulu, nanti aku tunjukkan buktinya." Keenan berbalik, meninggalkan Ambar dengan diam. Ambar memilih tak peduli dan masuk ke dalam rumah. Kini fokusnya lebih ke ibu, membahagiakannya. Keenan berjalan dengan lesu meninggalkan rumah Ambar. Sudah jalan kaki, patah hati pula. Benar-benar kesialan yang tidak dapat dia kendalikan. Jatuh cinta dengan orang yang sama adalah kebahagiaan. Namun, entah bagaimana bisa orang yang dia cintai kini tak mencintainya lagi bahkan membencinya. Berjalan menuju ramainya jalan karena kendaraan membuat dirinya lelah. Padahal tubuhnya sudah lemah, tetapi dia selalu berupaya untuk tetap kuat. Jika orang lain mungkin sudah trauma mendapatkan kekerasan fisik seperti itu. Tindakan yang sangat tidak dibenarkan dan bahkan sudah seharusnya pria itu cepat dipenjarakan. Namun, dia sadar bahwa Ambar sangat menyayanginya walaupun bukan ayah kandung dari wanita yang dia cintai itu. Melambaikan tangan ketika ada pangkalan ojek. Dia menaiki itu menuju rumahnya. Mungkin ini akan menjadi perjalanan yang begitu jauh demi masa depan yang indah. Meluluhkan hati Ambar dan membuat wanita itu jatuh cinta kembali padanya. Hingga pernikahan itu terjadi. Dia sungguh tak mau kehilangan Ambar. "Masnya kelihatan galau sekali," ujar si tukang ojek. Keenan hanya berdeham pelan. "Udah deh, Mas. Jangan galau karena cinta. Saya saja ditinggal nikah tidak galau. Ya karena sadar diri Mas. Udah kalah. Calonnya kasep amat, sedangkan saya sehari belum tentu dapat cuan." Keenan mengernyitkan dahi tak paham saat mendengar kata cuan yang dilontarkan oleh tukang ojek. "Apa itu cuan?" "Aduh, Mas. Bahasa gaul ini kok gak tahu. Pantas saja ditinggalin. Orang gak gaul gitu. Saya yang gaul saja udah ditinggalin," curhat si tukang ojek lagi dengan nada meledek membuat Keenan jengkel seketika. Hatinya yang sudah kesal tambah kesal. Andai dia bawa uang yang banyak pasti memilih naik taksi saja. Sayangnya ponsel belum beli, uang pas-pasan. Dia cukup sadar diri untuk saat ini. Benar-benar berada di titik terbawahnya. "Udah Mas, gak usah kalau. Kalau jodoh gak kemana. Sebelum janur kuning melengkung, masih bisa gas tuh." "Kalau udah dilamar ya gak boleh, Pak," jawab Keenan. Dia menggelengkan kepala pelan. Bau udara yang bercampur dengan bau asap kendaraan membuatnya batuk. Mana jalanan padat. Dengan keadaannya yang masih lemas, membuatnya jadi pusing. Ingin rasanya segera tidur di kamarnya saja. Berusaha melupakan pedihnya kehidupan ini. Ketika takdir tak berjalan sesuai dengan rencana. "Hidup ya gini Mas. Kalau gak ditolak, ya paling ditinggalin. Yang miskin makin miskin, yang kaya makin kaya. Udah pasrah aku Mas. Cari kerja susahnya minta ampun. Habisin uangnya cepat. Akhirnya gak berani buat deketin cewek Mas. Walau umur udah kepala tiga, saya sadar uang sangat dibutuhkan. Kalau rumah saja masih ngontrak, uang buat bayar kontrakan dan makan. Gimana mau hidupin anak orang. Bukannya anak orang senang malah anak orang jadi sengsara." Keenan mengangguk menyetujui perkataan si tukang ojek itu. Itulah kenapa dia harus semangat dan optimis. Supaya Ambar bisa dia dapatkan kembali. Dia tak mau wanita lain selain Ambar. Hanya Ambar yang ada dihatinya. Perjalanan ini terasa panjang karena mendengarkan curahan hati si tukang ojek yang galau. Dia hanya diam mendengarkan dan sesekali menahan tawa. Ketika orang memiliki masalah memang hanya bisa mendengarkan saja, bukan ajang adu nasib atau malah menyalahkan. Setiap orang memiliki takdirnya masing-masing. Baik suka maupun duka, karena hal itu tak bisa dinilai sama rata. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN