8-Bab 8

1698 Kata
Semalam Ambar tak jadi datang ke restoran. Dia tertidur di dalam mobil. Arda terpaksa membawa Ambar ke rumah. Dia tak tega membangunkan adik iparnya yang sepertinya sedang lelah itu. Sampai di rumah keadaan rumah yang gelap, lampu-lampu dimatikan. Namun, bayangan rambut panjang membawa lilin membuat Arda berteriak seketika. Hingga membuat ayah mertuanya yang sedang tidur pun terbangun karena kaget akan teriakan Arda. Ambar juga kaget tetapi tak sampai berteriak. Rupanya keadaan rumah sedang mengalami lampu mati. Pantesan selama menuju rumah hanya gelap saja. Namun, teman ayahnya itu benar-benar membuat spot jantung saja. Untungnya tidak memiliki penyakit jantung. "Maafin Arda, Yah. Tadi kaget saja," sesal Arda. Ayah tersenyum dengan wajah khas bangun tidur. "Tidak apa, kalian masuk ke kamar gih. Udah malam." Arda dan Ambar mengangguk. Mereka masuk ke kamar masing-masing. Mengistirahatkan tubuh dalam keadaan gelap. Hanya Ambar yang harus menyalakan senter ponselnya untuk menemaninya dalam kegelapan. Keesokan harinya, penghuni rumah disibukkan oleh kegiatan masing-masing. Hanya saja ada yang berbeda. Kali ini teman sang ayah akan kembali ke tempat asalnya. Sehingga Arda memutuskan untuk memasak banyak, biar dibawa oleh pria paruh baya itu untuk dimakan di perjalanan nanti. Ayah juga sudah membelikan buah tangan untuk temannya itu. Ambar jangan ditanya, masih diam di kamar. Hingga panggilan dari ayah membuat Ambar ke luar dari kamar. "Pasti kangen nih sama anak-anakmu," ujar pria paruh baya itu. "Kemarin gak bilang mau pulang? Biar kejutan," sahut Ayah sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Sampai sana jangan lupa cari calon istri. Biar gak godain anak gue mulu." Pria paruh baya itu tertawa. Rambut gondrongnya yang belum disisir itu bergerak ke sana-kemari. "Ayahnya gak ngebolehin bawa anaknya ke kampung. Padahal di sana itu enak. Pemandangannya bagus, lelakinya ganteng-ganteng." Arda menepuk keningnya pelan. Ambar hanya diam mendengarkan dengan wajah datarnya. Dia merasa bosan. Libur kerja buat rebahan malah buat mendengarkan pertunjukan antara ayahnya dan temannya itu. "Kapan-kapan lo bisa ke sini lagi," ujar Ayah. "Kasih petuah ke anak-anak gue. Tadi lo mau nyampein pesan." "Oh ya. Buat Ambar, Galih, dan Arda ini. Selagi masih muda itu manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Baik itu dalam mencari pengalaman sebanyak-banyaknya, menggali potensi diri, memperbanyak ilmu, dan yang penting diamalkan. Tas saja jika dibiarkan lama-lama dan tidak dipakai, pasti akan berdebu." Arda terkekeh mendengar perkataan pria paruh baya itu yang menjadi bijak. Biasanya selalu menyebalkan dengan leluconnya yang tak jarang membuat perut keroncongan. Semua yang duduk di ruang tamu pun tertawa, kecuali Ambar. "Kenapa tidak mengibaratkan sebuah pisau?" celetuk Ayah. "Gue maunya tas. Seperti Ambar ini, udah masih muda jadi pengusaha di bidang kuliner, semoga cabang usahanya makin banyak dan bisa membantu orang lain yang membutuhkan." Ambar mengaminkannya di dalam hati. Dia masih sibuk dengan pemikirannya. Bagaimana dia mencari alamat rumah wanita itu, sedangkan kata karyawannya wanita itu sudah tak datang lagi di restoran. Dia benar-benar terlambat. Galih yang baru pulang tadi pagi pun memutuskan ikut bergabung walaupun badan rasanya pegal, mata rasanya seperti lem. Baginya, hal semacam ini jarang dia lihat. Tak apa merelakan tubuhnya yang lelah demi duduk bersama keluarga. Terlebih Ambar yang selalu melewatkan hal ini dan memilih mendekam di kamar. Kesendirian yang tidak dia sukai, karena itu bisa berdampak pada psikis Ambar akibat kejadian di masa lalu. "Jangan masih muda dihabiskan untuk foya-foya, tuanya mau jadi apa? Kita itu tidak tahu umur. Jodoh, rezeki, mati sudah ditentukan. Saiki seneng-seneng ora mikir wektu, eh sesuke sopo sing eruh yen wes tepar tinggal jeneng." Ayah pun mengangguk paham. Temannya itu kebiasaan menggunakan bahasa campuran. Dia tahu temannya bisa bahasa apa saja, kecuali bahasa luar seperti bahasa inggris, bahasa jerman, dan lain sebagainya. "Jodoh rezeki, mati sudah ditentukan. Sekarang senang-senang tidak memikirkan waktu, eh besoknya siapa yang tahu jika sudah tinggal nama alias meninggal." Ambar, Arda, dan Galih mengangguk mengerti. Terutama Arda dan Galih yang telah menikah ini masih tetap butuh petuah dari yang sudah pengalaman. Setelah menikah, bukan berarti ujian hidup sudah selesai. Ujian hidup akan tetap ada selama masih bisa menghembuskan nafas di bumi ini. "Buat Arda dan Galih, kalau sudah menikah ini kurangin egoisnya. Saling mendukung, saling mengerti, saling menghargai, tetap semangat walau ujian menerpa. Tetap usaha, sabar. Ora usah ngreken omongane wong. Kui mesti garai ati mangkel." Ayah menghela nafas lelah. "Tidak usah menanggapi perkataannya orang. Itu selalu membuat hati jengkel." "Anak itu rezeki, pemberian dari Allah SWT. Kalau belum dikasih ya terus berusaha, tetap semangat, do'anya digiatkan. Kalau sudah punya anak ya harus dijaga, dirawat dengan baik. Semoga Arda dan Galih segera diberikan anak yang sholeh dan sholihah." Arda dan Galih mengaminkan. "Eh, itu mobilnya sudah datang. Kau jaga ayahnya dengan baik. Terima kasih atas tumpangannya selama ini bro." Pria paruh baya yang sudah tidak berambut gondrong lagi karena telah dipotong oleh Ayah. Pria itu memeluk Ayah dengan erat sambil menepuk bahunya. "Hati-hati juga bro," jawab Ayah. Galih pun menyalimi pria paruh baya itu, sedangkan Arda dan Ambar hanya mengangguk saja. Setelah mobil itu hilang dari pandangan mata, Ambar langsung saja masuk ke dalam kamar. Menguncinya dari dalam. Rumah akan kembali sepi tanpa candaan pria paruh baya itu. Ayah tak lagi memiliki teman untuk diajak bicara. Arda dibantu Galih mengangkat gelas-gelas kosong dan makanan ringan ke dapur. Sedangkan, Ayah memilih masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan diri. Saat di dapur, Arda meminta Galih untuk duduk saja. Dia tahu suaminya capek, tetapi mau istirahat di kamar merasa sungkan karena melihat tamu ayahnya hendak pulang kampung. "Udah Mas, tidur sana!" titah Arda. Galih menggelengkan kepala. "Buatkan aku kopi saja." Arda mengangguk. Dia menghentikan tugasnya untuk membuat kopi. Dia buka satu bungkus kopi, lalu dia tarus di gelas dan dia tuangkan air hangat. Selesai diaduk, dia berikan kepada suaminya. "Terima kasih. Bagaimana Ambar di pesta itu?" Arda yang sambil mencuci gelas pun menjawab, "Ambar sudah lebih baik Mas. Dia merespon temanku yang pemilik acara itu. Ya mungkin karena memang pembahasannya tentang bisnis membuat mereka cocok saling menanggapi satu sama lain. Cuman kalau untuk menyangkut hal lainnya aku kurang tahu Mas." Galih menghela nafas panjang. Dia mulai menyeruput kopinya. "Oh iya, Mas. Saat aku sedang mengambilkan minum. Ambar didekati lelaki, tetapi responnya yang kulihat lelaki itu kecewa. Sepertinya ditolak oleh Ambar. Terus Ambar jadi badmood saat kamu vidio call itu," ujar Arda. Selesai mencuci dia mengambil lap supaya tangannya kering kembali. Lalu ikut duduk di samping sang suami. "Aku pijitin ya, Mas." "Boleh," jawab Galih dengan senyuman. Dia beruntung memiliki istri sebaik Arda. Walaupun memang kehadiran anak dalam pernikahannya masih dipertanyakan oleh beberapa orang. Akan tetapi mereka sudah mengeceknya ke dokter dan tak ada masalah. Dia percaya Allah akan memberikannya di waktu yang tepat. Mungkin saja usahanya kuranf maksimal dan dia perlu menggiatkan usahanya. "Mas, bagaimana kalau Ambar bertemu dengan sepupuku jauh itu? Dia juga pebisnis di bidang kuliner. Haikal itu, umurnya udah 26 tahun belum menikah." "Sudah punya calon barangkali." "Ya, 'kan kita coba dulu, Mas. Kalau cocok ya Alhamdulillah. Kalau belum ya mungkin memang belum jodohnya,"  ujar Arda. "Iya, kamu atur sajalah. Sepupumu itu suruh datang langsung ke restoran Ambar saat Ambar sedang di restoran juga. Seperti pertemuan tak disengaja gitu." Arda mengangguk mengerti. Dia menghentikan tangannya memijat sang suami. Merasa pegal, dia kembali duduk sambil menunggu Galih menyelesaikan minumannya. "Arda sudah menghubungi Haikal, Mas. Semoga saja sesuai dengan rencana kita." Galih mengangguk. "Bagaimana kalau akhir bulan ini kita habiskan buat liburan?" "Boleh juga." Arda tersenyum manis. ******** "Kamu itu kerja saya bayar! Kamu pikir ini harganya berapa? Seratus, dua ratus," bentak Ambar kepada salah satu karyawannya yang tak sengaja memecahkan guci mahalnya yang berada di ruangan kerjanya itu. "Ma—af, Bu. Saya tidak sengaja." Karyawannya sudah menunduk takut. Suara Ambar mungkin tak terdengar di luar, tetapi tetap saja suara keras Ambar menakutkan. Ambar yang kali ini memutuskan kembali mengecek restorannya berharap wanita itu datang. Justru mendapati banyak masalah yang dibuat oleh karyawannya. Dapur yang kotor, halaman belakang yang banyak sampah. "Ya sudah, kamu bersihkan pecahan itu!" "Saya akan ganti, Bu." "Tidak perlu! Saya hanya mau kamu membersihkan pecahan itu. Jangan sampai kena tubuhmu sedikitpun!" Ambar lalu ke luar ruangannya membiarkan karyawannya yang satu itu membersihkan pecahan guci. Dia tak meminta ganti rugi, karena dia tahu karyawannya pasti untuk keluarganya. Jika dia menuntut ganti rugi, karyawannya itu akan makan apa? Dia tak setega itu. Walau dia kelihatannya galak. Dia hanya menegaskan supaya karyawannya bisa lebih berhati-hati dalam bekerja. Ambar menatap sekeliling restoran yang tampak ramai pembeli. Dia memilih melangkahkan kaki ke dapur. Mengecek pekerjaan para karyawannya di bagian dapur. Mereka tampak cekatan. "Dodi apa tidak bekerja selama dua hari ini?" tanya Ambar. "Bekerja, Bu." Ambar belum sempat mengecek absen karyawan. "Lalu, kenapa bagian belakang belum dibersihkannya? Kotor seperti itu," ujar Ambar lalu melangkahkan kaki ke luar mencari keberadaan Dodi. Salah satu karyawan berbisik. "Bu Ambar walaupun marah wajahnya tetap datar dan masih cantik." "Iya gak kayak lo, kalau lagi marah kayak macan." "Heh." "Mak cantik maksudnya." Semuanya menahan tawa walaupun tadi sempat merasakan ketegangan. Sikap Ambar yang tegas membuat para karyawan sedikit takut untuk mengajak Ambar mengobrol. Walaupun umurnya tak beda jauh dari mereka. Saat berjalan ke meja-meja, tak sengaja Ambar hampir terjatuh karena kaki seseorang. "Sorry, sorry, gue gak sengaja." Lelaki tampan itu mengulurkan tangan kepadanya. Ambar hanya mengangguk saja. Dia hendak kembali berjalan, tetapi dicegat oleh lelaku itu. "Maaf nih, sebenarnya gue datang ke sini mau menemui pemilik restoran ini." Ambar pun menoleh. "Ada apa?" "Ada beberapa hal yang mau dibicarakan." Ambar mengangguk. "Silahkan ikuti saya!" Lelaki itu mengangguk dan tersenyum lebar. Rencana yang sungguh berhasil. Walaupun masih di awal. Ruangan kerja Ambar sengaja di buka dengan lebar. Lelaki itu masuk dan menatap ruangan yang tidak begitu lebar tetapi nyaman dengan hiasan dinding dan furniture yang begitu menarik. "Sebenarnya gu—eh saya mau mengajak kerja sama dengan restoran Ambar ini," ujar lelaki itu. "Dalam rangka?" "Mengajak kerja sama dalam membangun usaha kuliner." "Saya ingin melihat bagaimana rinciannya dan hal-hal lainnya," ujar Ambar. Lelaki itu mengangguk. "Nanti akan saya kirimkan lewat e-mail." Ambar mengangguk dan memberikan alamat e-mailnya. "Boleh nomor ponselnya?" tanya lelaki itu lagi. Ambar menggelengkan kepala dengan tegas. "Pembicaraan tentang bisnis lho ini." "Saya belum setuju. Saya akan membacanya dulu." Lelaki itu mengangguk. Kemudian dia mulai membicarakan hal-hal lain tentang bisnisnya supaya Ambar mau berinteraksi lebih lama dengannya. Hal ini salah satu trik untuk mendekati wanita dingin seperti Ambar ini. Benar-benar wanita yang susah didekati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN