Ambar kira setelah dua tahun lalu kejadian besar yang menimpa keluarganya karena lelaki tak bertanggung jawab itu membuat siapapun tak akan mempertanyakannya soal kapan menikah. Namun, rupanya hal itu tak pernah surut terdengar dalam indera pendengarannya. Beberapa tetangga maupun saudara masih menanyakan bahkan menjodoh-jodohkannya. Apalagi para wanita paruh baya yang memiliki anak lelaki yang sudah siap menikah juga mengajukan perjodohan kepada Ayahnya. Katanya dia ini calon menantu yang membanggakan, sudah pandai berbisnis, pengusaha muda, dan cantik pula.
Dari semua itu bukan point utama yang akan Ambar raih sekarang. Dia masih sibuk dengan pemikirannya dalam memecahkan sebuah teka-teki ini. Mengemudikan mobil sendirian, menengok kanan-kiri berharap dapat bertemu wanita paruh baya itu. Dia juga sempat bertanya kepada para pejalan kaki yang sekiranya mengenali wanita paruh baya itu.
Sudah lima jam berputar mengelilingi kota, dia hanya bisa menghela nafas lelah. Belum lagi udara yang sangat panas membuatnya ikut cepat capek dan merasa marah. Saat dia hendak memutar mobilnya, kedua matanya tak sengaja melihat sosok yang sepertinya orang yang sedang dia cari. Walau dari belakang, tetapi sepertinya memang itulah orangnya. Pakaian yang sudah buram, dengan cara berjalannya yang lambat. Saat melihat foto dan keadaannya yang sekarang siapa yang menyangka bahwa memang orang yang sama. Wanita yang dulunya cantik jelita, kini harus mengalami kepahitan hidup.
"Sial, tidak bisa masuk," gerutu Ambar saat melihat wanita paruh baya itu justru masuk ke dalam jalan yang sempit. Bagaimana bisa mobilnya masuk ke dalam? Terpaksa dia membiarkan mobilnya berada di sini dan dia harus berjalan kaki. Untung saja dia tidak memakai baju kerja. Hanya saja sepatu high heels ini mampu membuat kakinya pegal untuk sekedar mengikuti langkah kaki wanita paruh baya itu.
Lebih sialnya lagi dia kehilangan jejaknya. Kini dia sendirian melewati jalanan yang sempit ini. Walau sedikit merinding karena yang pernah dia dengar beberapa kasus bahwa jalanan seperti ini banyak para penjahat yang bertebaran.
Langkahnya terhenti, kedua matanya menatap sekeliling. Dimana hanya ada lima rumah, semua pun atapnya genteng yang dia pikir sudah bocor. Ada tempat seperti penjualan botol-botol bekas di sana. Dimana tempat tinggal wanita paruh baya itu masih menjadi pertanyaan Ambar.
Begitu beruntungnya dia yang tinggal dengan nyenyak, makanan sudah siap, kasur yang empuk membuatnya tidur dengan nyaman. Melihat hal seperti inu membuat hatinya tersentuh untuk menolong mereka. Ditatapnya lagi lima rumah itu. Dua rumah yang penghuninya beda orang, tinggal tiga rumah yang harus dia lihat. Dia mengeluarkan sebuah foto dalam sakunya. Bukankah lebih baik dia bertanya langsung.
Ambar menghampiri seorang wanita yang sedang menggendong anak yang dia taksir berumur 2 tahun.
"Selamat siang, Bu. Boleh saya bertanya?"
Wanita itu menatapnya dengan penuh penilaian. "Ada apa ya?"
Ambar memperlihatkan sebuah foto. "Ibu kenal wanita ini?"
"Siapa dia?"
Ambar meringis saat pertanyaannya justru dibalas oleh pertanyaan. "Ibu tidak kenal ya."
Wanita itu menggelengkan kepala.
"Tadi saya lihat wanita ini jalan ke sini," ujar Ambar.
"Siapa namanya?"
"Itu Bu, saya tidak tahu siapa namanya," jawab Ambar. Dia merasa kikuk sendiri. Belum lagi tatapan ibu tersebut yang tak mengenakkan.
"Untuk apa kamu bertanya jika tidak tahu siapa namanya. Apa kamu berniat melakukan hal buruk pada wanita yang kamu maksud?" tuduh wanita itu. Mungkin sebagai seorang wanita rasa penasarannya sudah tinggi dan merasa curiga padanya.
"Tidak," jawab Ambar sambil menggelengkan kepala. Dia kemudian memilih mencarinya sendiri daripada debat dan membuat waktunya saja. Dia sedang menerka-nerka rumah yang mana yang harus dia datangi. Hingga pilihannha jatuh pada rumah yang berada pada ujung timur sendiri.
Langkah kakinya mendekati rumah tersebut. Jalanan yang susah, dengan high heels ini membuat kakinya terasa sakit. Untuk melepasnya pun kakinya akan bertambah sakit juga. Dia melihat ada jendela di samping rumah itu yang tidak tertutup selambu. Dia mengintipnya walau sempat dilirik tajam oleh wanita yang tadi dia tanyai.
Kedua matanya berbinar saat dia tak salah lagi. Benar rumah ini rumah wanita paruh baya yang dia cari. Tampaknya sedang melaksanakan sholat. Dia memilih melihatnya, sesekali menengok ke belakang siapa tahu ada batu yang bisa saja membuat kakinya makin membengkak.
Selesai sholat, wanita paruh baya itu melipat mukena dan sajadahnya ke tempat semula. Lalu, dia melihat wanita itu mengambil sebuah baju anak kecil dan dipeluknya. Baju itu sudah ada di kasurnya, mungkinkah selalu dipeluknya? Baju itu juga baju khas anak kecil perempuan.
"Anakku, sudah lama rasanya kita tak bertemu. Ibu kangen sekali sama kamu. Apa kamu tidak kangen sama ibu? Kenapa kamu melupakan ibu. Pengusiran darimu sungguh membuat hati ibu sakit. Ibu tak sanggup lagi untuk mendekatimu. Sungguh mereka jahat telah memisahkan kita. Hanya kamu yang ibu punya, sekarang kamu pun tak mengenal ibu. Padahal sudah lama ibu mencarimu."
Ambar melihat setetes air mata jatuh di kedua mata wanita paruh baya itu. Dia ikut sedih melihatnya.
"Ambarwati Setyaningsih. Gadis berbau harum yang setia dan penuh cinta. Dulu kamu suka sekali ibu belikan permen kapas, sampai merengek jika tidak dibelikan. Setiap kali pulang kerja selalu bertanya apa ibu membelikan permen kapas buatku." Wanita paruh baya itu tertawa sedih. "Kenapa mereka mengambilmu dariku? Kenapa kamu juga melupakan ibu, Nak?"
Ambar melihat wanita paruh baya itu makin memeluk erat baju itu dengan tatapan sedih. Nama yang sama, hanya saja dia tak mengingat apapun. Apa benar jika wanita paruh baya itu adalah ibu kandungnya? Jika memang iya, tak mungkin ayah berbohong mengenai ibu kandungnya yang telah meninggal dan bahkan dia melihat makamnya.
"Seharusnya kita sekarang tertawa bersama. Kamu membantu ibu memasak, memanfaatkan waktu berdua sebelum kamu menikah."
Ambar rasanya tak kuat melihat pemandangan di depannya. Dengan segera dia memilih pergi. Tak ingin kakinya lebih pegal dan bengkak, dia melepas high heelsnya. Perkataan wanita paruh baya itu terngiang-ngiang di telinganya. Dia harus segera menanyakannya kepada Ayah. Sepertinya bukan pilihan yang tepat, dia harus menanyakannya kepada Galih.
Sampai di mobil, dia melurukan kakinya sejenak. Meletakkan kepalanya di setir. Memejamkan mata sejenak, mengusir rasa sedih yang bergelut di dalan hatinya. Sebelum memutuskan pulang, sepertinya dia harus mendatangi makam ibu kandungnya dan ibu tirinya.
"Kenapa semuanya terasa rumit? Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ambar pada dirinya sendiri. Dia mulai menghidupkan mobil, kemudian mengemudikannya dengan kecepatan sedang. Dia sedang tidak fokus setelah mendengar semua perkataan wanita paruh baya itu. Tidak ada yang kebetulan maupun memanfaatkan situasi. Semua masih serba abu-abu bagi Ambar. Dia masih tak mengerti dengan semua ini. Dia merasa pusing dengan situasi seperti ini. Otaknya yang pintar tak dapat menemukan celah sedikitpun atas kebenaran yang sebenarnya.
*******
Ambar memutuskan pulang lebih cepat dari biasanya. Jika biasanya dia akan pulang malam hari, maka sekarang sore hari. Menyempatkan membeli bunga untuk ziarah ke makam almarhumah ibu kandungnya dan ibu tirinya. Dia merindukan ibu-ibunya. Seseorang yang dia cintai.
Senja sudah nampak di barat, membuat keindahan bagi yang menyaksikannya. Senja selalu mengerti kapan waktunya datang dan pergi. Sampai di makam, Ambar memarkirkan mobilnya di depan pemakaman. Dia rasa tidak ada seorangpun di sini. Namun, dia tak takut akan kesepian karena sudah terbiasa menyendiri.
Menatap pepohonan bunga kamboja di pemakaman. Dia juga menyampatkan untuk menyapa juru kunci yang ada di sana.
"Sendirian aja Neng?"
Ambar mengangguk.
"Hati-hati saja, Neng. Lagi sepi yang datang."
"Terima kasih, Pak."
Ambar memasuki kuburan dengan mengucapkan salam. Langkah kakinya pelan. Takut jika tak sengaja menginjak kuburan. Banyak beberapa kuburan yang terdapat rumput liar. Mungkin jarang dikunjungi oleh sanak saudaranya.
Dia berjalan lebih dulu ke makam almarhumah ibu kandungnya. Terkejut ketika mendapati ada bunga baru di sana. Entah siapa yang sudah ke makam sebelumnya. Dia memutuskan menyingkirkan rumput-rumput liar lalu menaburkan bunga yang dia beli tadi. Tak perlu penasaran karena langit akan gelap. Dia mengadahkan tangan untuk berdo'a supaya diampuni dosa-dosa almarhumah. Kemudian melangkahkan kaki menuju makam ibu tirinya.
Beberapa orang mengatakan bahwa ibu tiri lebih sayang kepada bapaknya daripada anaknya. Namun, dia sangat beruntung memiliki ibu tiri yang baik dan selalu mengertinya. Memberikan perhatian penuh dan menyayanginya dengan tulus. Membuatnya dapat merasakan sosok ibu yang tak pernah dia dapatkan. Dia sungguh merasa hidupnya sudah sempurna kala itu. Hanya saja semua berubah saat kejadian itu. Ah, dia tak mau mengingat kenangan buruk itu lagi. Sudahlah, dia sudah berusaha melupakan kenangan pahit itu.
Saat sedang berdiam sambil memandang batu nisan itu, Ambar dikejutkan dengan suara kucing. Dia merasa merinding seketika. Menoleh ke seluruh penjuru kuburan, rupanya ada kucing hitam di sana.
"Astaghfirullah." Ambar mengelus dadaanya yang berdegup kencang. Dia tentu kaget. Terlebih ini pemakaman. Setelah merasa cukup untuk meluapkan rasa rindunya, Ambar memutuskan untuk pergi dari pemakaman ini.
Dia ketemu dengan juru kunci. Ambar menyempatkan memberikan uang untuk sedekah saja. Dia rasa berbagi tidak masalah, justru baik.
"Terima kasih, Neng."
Ambar mengangguk. "Hati-hati Pak."
Pria paruh baya itu tertawa. "Sudah biasa, Neng. Malah kapan itu saya mendengar ada suara ranting-ranting pohon jatuh dan angin berhembus kencang."
Ambar menggelengkan kepala atas keberanian pria paruh baya itu. Demi menghidupi anak istrinya harus bekerja dengan penuh tantangan seperti ini. Dia salut.
"Ya sudah, Pak. Saya mau pulang dulu."
"Iya, Neng. Hati-hati," ucap pria paruh baya itu. Ambar mengangguk lalu berjalan menuju mobilnya. Dia mulai mengemudikannya meninggalkan pemakaman. Langit semakin gelap. Entah sudah jam berapa.
Dalam keheningan dia menyetel musik untuk menemaninya dalam mengemudikan mobil. Kendaraan cukup ramai. Untung saja pemakaman tak jauh dari rumahnya.