10-Bab 10

1247 Kata
Berbicara empat mata adalah jalan satu-satunya. Galih yang sedang bekerja pun ditelfon Ambar dan diminta untuk datang ke ruang kerja yang ada di restoran Ambar. Dengan wajah lesu dan mata sayu, Ambar meletakkan kepalanya di atas meja. Sungguh pikirannya terasa kalut saat ini. Dia tak sempat menanyakannya saat di rumah. Tubuhnya lelah dan butuh istirahat.  Kemarin saat dia ke makam ibu kandungnya dia melihat ada bunga baru di sana. Sepertinya baru ada yang datang ke sana. Pada makam ibu tirinya juga begitu. Ambar menghela nafas lelah. Dia pusing memikirkannya. Tak lama suara pintu terbuka dan ditutup membuat Ambar menoleh tanpa mengangkat kepalanya. Rupanya Galih datang, tetapi saat dia melihat jam di pergelangan tangannya. Dia tahu ini waktu istirahat Galih. Kemarin tak sempat berbicara berdua dengan Galih karena abangnya itu pulang larut malam. Dia kasihan jika tetap ngotot meminta untuk berbicara hanya untuk menuntaskan rasa penasarannya. "Ada apa Ambar? Tumben kamu minta abang datang ke sini," ujar Galih sembari duduk di depan kursi Ambar. Dia menyentuh dahi Ambar yang tidak terasa panas. Namun, wajah lesu itu sangat kentara. "Ambar mau bertanya beberapa hal kepada Abang dan Ambar harap Abang menjawabnya dengan jujur!" Galih duduk dengan tegap, dia mengerutkan dahi bingung atas perkataan Ambar. Entah apa topik utama yang hendak dibicarakan oleh Ambar. "Abang jawab dengan jujur, ya!" "Iya," jawab Galih mengiyakan. Ambar menghela nafas panjang. Dia duduk dengan tegap sambil menatap Galih. "Abang kemarin habis ke makam ibu?" Galih menggelengkan kepala. "Abang 'kan sibuk kerja. Belum sempat ke makam ibu." "Terus siapa yang datang ke makam ibu?" "Ya mungkin Ayah." Ambar mengangguk. Dia belum bertanya pada ayahnya. "Abang 'kan lahir lebih dulu daripada Ambar. Abang pasti tahu dong bagaimana wajah ibu kandung kita?" Galih terdiam sesaat, kemudian menjawab, "Dia sangat cantik." "Lalu?" "Tumben kamu bertanya tentang ibu. Biasanya tidak pernah." "Kalau ditanya apa susahnya tinggal dijawab," gerutu Ambar sambil menyedekapkan kedua tangannya. Galih terkekeh pelan melihatnya. "Ibu wanita yang baik dan cantik." "Bagaimana rupanya?" tanya Ambar dengan penuh penasaran. "Abang agak lupa." Ambar menggebrak meja. "Bagaimana bisa Abang melupakan wajah ibu kandung kita?" Galih tersentak kaget atas respon yang diberikan oleh Ambar. Entah ada apa dengan Ambar. Dia tampak berbeda. Galih berdiri dan mengusap kedua tangan adiknya. "Kamu kenapa?" "Selama aku hidup, aku hanya tahu jika ibu kandungku telah meninggal. Tetapi, ayah tidak pernah memberikan fotonya padaku. Kenapa memangnya? Apa seorang anak tidak boleh melihat wajah ibu kandungnya sendiri?" Galih menghela nafas lelah. Dia mengusap bahu Ambar. "Sabar, jangan marah-marah. Nanti karyawanmu mendengarnya." "Siapa yang berani mendengarnya? Ruangan ini kedap suara." Galih mengangguk. "Ada apa sebenarnya denganmu Ambar? Apa ada sesuatu yang mengusik dirimu?" Dia pernah melihat Ambar marah seperti ini berkaitan dengan ibu kandungnya. Saat teman-temannya selalu bertanya kepada Ambar perihal dimana keberadaan ibu kandungnya. Hingga Ambar pulang dengan tangisan air mata. Dia yang selalu menghiburnya, karena ayah harus bekerja untuk menghidupi dirinya dan Ambar. Dia yakin kali ini pasti ada sesuatu yang mengusik hati Ambar berkaitan dengan ibu kandungnya. Dia harus mencari tahu. Ambar menggelengkan kepala sebagai jawaban. Dia meletakkan kepalanya di atas meja. Galih kembali duduk bersandar pada kursi. Sesekali melihat jam tangan yang menempel di pergelangan tangannya. Karena dia harus kembali masuk kerja. "Aku hanya ingin tahu bagaimana rupa ibu kita Bang?" "Dia mirip seperti kamu." Hanya itu yang Galih katakan. Ambar tak puas mendengar jawabannya. "Coba Abang ceritakan secara detail. Ambar ingin mendengarnya," ujar Ambar dengan wajah datarnya. "Ibu mirip Ambar, cantik, dan baik hati." "Daritadi itu-itu saja yang Abang katakan! Sebenarnya Abang sayang tidak sama ibu?" Ambar emosi seketika. Dia hanya ingin tahu bagaimana ibu kandungnya. Kenapa sulit sekali? Galih menghela nafas lelah. "Kamu tahu waktu yang Abang miliki dengan ibu hanya sedikit, Ambar. Ibu pergi setelah melahirkan kamu. Abang masih kecil, ingatan Abang tidak sekuat itu." Ambar memijat keningnya yang terasa pusing. Apa yang dikatakan oleh Galih ada benarnya. Galih masih kecil, ingatannya tidak begitu kuat. Bahkan, yang sudah dewasa saja ingatannya terkadang lemah. Mudah melupakan segala sesuatu. "Abang kembali bekerja dulu, ya. Nanti kita bicarakan lagi di rumah. Kamu makan siang juga gih," ucap Galih lalu berdiri dari kursi kemudian berjalan ke luar ruangan kerja Ambar. Kini hanya kesunyian yang Ambar rasakan. Dia tak mendapatkan jawaban yang puas. Kepada siapa lagi dia bertanya? Ayah selalu tidak mau jika berbicara tentang ibu kandungnya, karena takut jika setiap malam selalu teringat akan rasa cintanya pada ibu kandungnya. Ambar tak tahu lagi bagaimaba sekarang. Dia ingin menangis tetapi tidak bisa. Sedangkan, rasa penasaran ini masih bergelung pada pikirannya. Dirogohnya tas, diambilnya sebuah foto. Dua lelaki dan satu perempuan yang tampak dekat. Jika tidak dekat kenapa harus foto? Satu lelaki yaitu ayahnya, satu perempuan yang dia yakini wanita yang mengakui diri bahwa ibu kandungnya, dan satu lelaki yang dia tak kenal siapa. Bagaimana dia memecahkan teka-teki ini? Sedangkan berbagai petunjuk masih bersimpangan. Dia tatap lamat-lamat wajah lelaki yang satunya. Jika dilihat-lihat begitu mirip dengan ayah. Garis wajah yang sama, kedua mata yang sama, hanya senyuman yang berbeda. Walaupun bukan kembar, jika saudara pasti setidaknya ada kemiripan. Mungkinkah jika memang lelaki yang satunya itu saudara ayah? Namun, dia tak pernah melihatnya. Bahkan, saat rumah ada acara sekalipun dia tak pernah melihatnya. Padahal jika dia melihatnya bisa menanyakan tentang bagaimana ibu kandungnya. Sepertinya dia harus bertanya kepada ayah. Bagaimanapun rasa penasaran ini harus dituntaskan. Dia tak bisa berdiam diri dengan rasa penasaran yang begitu besar. Lebih baik dia segera pulang dan menemui ayahnya. Suara ketukan membuat Ambar segera menyembunyikan foto itu kembali di dalam tasnya. Dia meminta seseorang yang mengetuk pintu untuk masuk. "Siang, Bu Ambar. Saya diminta Pak Galih untuk mengantarkan makanan kepada Ibu," ujar karyawan perempuan dengan senyuman manis. Ambar mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Wajah datarnya tak mau membalas dengan senyuman juga. Lalu karyawannya kembali untuk bekerja. Sop ayam dengan jus mangga serta nasi yang dihias berbentuk segitiga itu membuat Ambar terkekeh pelan. Galih selalu memperhatikannya. Sebagai seorang adik, dia beruntung memiliki seorang abang sebaik Galih. Dia merasa dilindungi dan dijaga selama ini. Dia memilih memakannya setelah mengucapkan do'a. Walau rasanya tak lapar, dia tetap menghargai perhatian Galih padanya. Setidaknya memakannya walaupun tidak habis. Ambar menggeser layar ponselnya, membuka aplikasi hijau kemudian mengetikkan terima kasih dan dia kirim ke nomor ponsel Galih. ******* Suara ketukan terdengar. Rupanya Ambar tertidur setelah selesai makan. Bahkan piring dan gelas masih ada di mejanya. Untung saja tak sampai jatuh ke lantai. Dia mengusap kedua matanya, lalu meminta seseorang dibalik pintu itu untuk masuk. "Maaf, Bu. Ada yang mencari Bu Ambar," ujar karyawan perempuan. Ambar memintanya untuk masuk. Dia berdiri dan merapikan pakaiannya. Dia juga meminta karyawannya untuk membawa nampan ke dapur. Bau parfum khas lelaki tercium di indera penciumannya. Ambar mendongak. Dia mengangguk mengerti, lelaki yang pernah datang padanya. Pasti akan mengajaknya membahas soal bisnis. Dia sudah membacanya, dia menyetujui ajakan lelaki itu untuk bergabung dalam bisnis. "Silahkan duduk!" Ambar mempersihlakan lelaki itu untuk duduk. Lelaki itu duduk di depan Ambar. "Saya sangat tersanjung atas penerimaan kerjasama ini," ujar lelaki itu dengan senyuman lebar. Ambar mengangguk. "Tiada kerja sama yang tidak menguntungkan." "Betul, saya harap kerja sama kita kedepannya akan berjalan dengan baik." Ambar mengangguk dan memberikan perjanjian. Setelahnya hanya pembicaraan tentang bisnis mereka kedepannya. Haikal juga sesekali melontarkan candaan yang tidak membuat Ambar tertawa sama sekali. Justru merasa candaan Haikal terlalu garing. Bahkan, jika orang lain tertawa. Ambar memilih diam dengan wajah datar. Entah bagaimana selera humor Ambar. Haikal sampai kehabisan topik pembicaraan. Dia juga akan semakin gencar untuk memberi Ambar pesan lewat aplikasi hijau nanti. Tujuan utamanya bukanlah hal ini, tetapi hal lain menyangkut hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN