11-Bab 11

1133 Kata
Ambar menutup pintu mobilnya dengan kasar. Dia masuk ke dalam rumah dengan tergesa-gesa. Tak dia pedulikan kakinya yang terasa pegal dan sakit. "Ambar, ada apa?" tanya Arda dengan wajah heran. Dia melihat kaki Ambar yang terluka. "Lepas high heelsmu, kakimu sudah memerah." Ambar tak menghiraukannya, dia berjalan ke arah kamar sang ayah. Mengetuknya beberapa kali, tetapi tak dia dapati respon apapun dari dalam. Arda yang berjalan mengikuti Ambar pun berkata, "Ada apa Ambar? Kenapa kamu tampak terburu-buru? Ayah sedang tidak ada di dalam kamar. Ayah lagi ke luar," ujar Arda membuat Ambar mendengkus kesal. Arda sampai kaget dengan respon Ambar yang tak biasa. "Kemana ayah pergi?" "Ayah bilang sedang ke rumah temannya." Ambar mengangguk dan memilih masuk ke dalam kamarnya. Dia menguncinya dari dalam sehingga tak akan ada yang mengganggunya. Arda hanya bisa mengerutkan kening dengan heran. Dia merasa sedang ada sesuatu yang terjadi. Disisi lain, Ambar melepas high heelsnya. Kakinya memerah, dan ada sedikit darah karena dia jalan terburu-buru tadi. Ambar membiarkan lukanya. Dia membaringkan tubuhnya dengan menutup mata. Sungguh dia tak ingin dalam keadaan seperti ini. Hingga dia tertidur dan bangun di sore hari. Ambar ke luar kamar dengan wajah khas orang bangun tidur, baju kerjanya pun masih menempel di tubuhnya. Berjalan menuju dapur, dan dia melihat ayah di sana sedang makan bersama Arda. "Ayah," panggil Ambar. Ayah hanya menatapnya sekilas. "Makan dulu, tumben sudah pulang kerja." Ambar hanya mengambil minum tanpa mau mengambil nasi dan lauk pauknya. "Ambar, makan dulu! Apa mau kakak yang ambilin?" Ambar menggelengkan kepala. Dia tak selera makan. "Ayah, Ambar ingin membicarakan hal penting nanti." Ayah mengambil minuman dan menghabiskannya. Piringnya sudah kosong, hanya berisi tulang ikan saja. Mengerti bahwa putrinya ingin berbicara secara empat mata, dia berjalan lebih dulu menuju halaman belakang. Diikuti Ambar yang berjalan tanpa alas kaki. Arda menggelengkan kepala melihatnya. Dia masih cukup heran akan tingkah Ambar kali ini. Ayah terkejut saat melihat kaki Ambar sedikit berdarah. "Ada apa dengan kakimu?" "Hanya terluka sedikit," jawab Ambar. "Pasti karena kamu memakai sepatu tinggi itu. Sudah berapa kali ayah bilang, jangan pakai sepatu itu. Ayah gak mau kamu menyakiti dirimu sendiri," tutur Ayah sambil meminta Ambar untuk meluruskan kakinya. Ambar menggelengkan kepala. "Ya sudah, apa yang ingin Ambar bicarakan sama ayah? Kakak iparmu bilang kamu pulang dengan wajah kesal." "Ayah, kapan terakhir kali ke makam ibu?" Ayah mengerutkan dahi. Dia menatap Ambar heran. Tidak ada hujan, tiba-tiba putrinya bertanya seperti itu. "Sepertinya sebulan yang lalu." Ambar terdiam mendengar jawaban ayah. Jika bukan Galih, ayah, siapa lagi yang datang ke makam? Sedangkan, Arda akan datang ke makam jika Galih mengajaknya. Karena Arda tak berani datang sendirian ke makam. Pertanyaannya sekarang, siapa yang datang ke makam ibu tirinya dan ibu kandungnya jika bukan keluarganya? Dia rasa keluarga lainnya tidak mungkin. Saudara dari pihak ibunya maupun ibu tirinya pun tidak mungkin. Karena saudara mereka jauh dari kota ini. "Ada apa Ambar?" tanya Ayah dengan bingung. Ambar menggelengkan kepala. "Kamu kenapa membuat ayah bingung. Kamu sedang ada masalah bilang sama ayah." "Tidak, Ayah. Ambar hanya sedang merasa capek saja." "Kamu ajak kakak iparmu liburan sana. Sesekali liburan ke luar kota." Ambar mengangguk saja. Wajah datarnya tak akan ayah tahu bahwa dia sedang menyimpan rahasia di sana. "Kalau ayah sudah tua gini, cuman bisa liburan di dekat-dekat sini. Memancing sama tetangga, olahraga, melihat anaknya sudah bahagia saja membuat ayah ikut bahagia." Ambar meminta ayahnya untuk menaikkan kaki di kursi. Dia akan memijatnya. "Ayah tidak masalah bukan jika Ambar belum menikah sampai saat ini?" Ayah menggelengkan kepala dan tersenyum. "Itu keputusan Ambar. Yang menjalaninya juga Ambar. Jika ayah memaksa Ambar untuk menikah sekarang atau dengan lelaki pilihan Ayah, jika Ambar tidak bahagia bukankah justru membuat Ambar jadi sedih? Bukankah Ayah juga ikut sedih? Ayah cuman mau Ambar membuka hati untuk lelaki lain. Kejadian itu sudah berlalu, Ambar pantas untuk bahagia." Ambar terharu mendengar perkataan sang ayah. Namun, untuk masalah cinta dan menikah dia belum siap untuk saat ini. Rasanya begitu sulit membuka hati untuk lelaki lain. Dia rasa hatinya sudah mati rasa soal cinta. "Ayah juga tak masalah belum memiliki cucu?" Ayah menghela nafas panjang. Tersenyum lebar sambil menatap putrinya yang cantik jelita itu. "Anak itu titipan, anugerah. Allah yang memberikannya." "Tetapi, ayah tidak merasa kesepian tanpa seorang cucu?" Ayah menggelengkan kepala. "Ayah bisa main ke rumah tetangga jika kesepian. Kebetulan tetangga kita juga umurnya sama kayak ayah. Ayah gak akan kesepian lagi kalau Ambar kembali seperti dulu." Ambar menundukkan kepala. Dia rasa ini hal berat untuknya. "Seharusnya ibu masih ada." "Sudahlah, semua ini sudah takdir. Ibu sudah bahagia di sana. Yang penting sekarang Ambar bahagia, Bang Galih bahagia sama istrinya, Ayah sudah ikut senang melihatnya." Ambar menghentikan gerakan memijat kaki ayah. Dia memeluk ayah dengan erat. Rasanya beruntung sekali memiliki seorang ayah yang pengertian. Tidak menuntut ataupun memaksa, selalu mendukung keputusan sang anak. Bagi ayah kebahagiaan sang anak adalah bahagianya. "Terima kasih, Ayah," ucap Ambar. Ayah menepuk bahu putrinya itu dengan senyuman manis. "Ayah lebih berterima kasih dengan Ambar. Kehadiran Ambar di hidup ayah membuat hidup ayah berwarna." ***** Setelah mendapat jawaban dari apa yang ditanyakan, Ambar memilih menunggu Galih pulang kerja. Akan tetapi sepertinya itu juga tak mungkin. Dia tetap tak mendapatkan jawabannya. Lebih baik besok dia datang ke rumah wanita paruh baya itu. Dia akan bertanya langsung mengenai dirinya. Dia akan menunjukkan foto ayah dan foto lelaki yang tidak dia ketahui siapa itu. Disana dia akan menemukan jawabannya. Ya, semoga saja teka-teki ini segera terungkap. Mengingat perkataan sang ayah tadi membuat Ambar sedih seketika. Dia tahu ayahnya tidak lagi muda, tetapi apa yang bisa membuat ayah bahagia adalah kebahagiaan anaknya. Sampai sekarang dia masih trauma untuk menjalin hubungan dengan lelaki lain. Dia berpikir bahwa hidupnya akan terasa bahagia tanpa lelaki. Namun, Ambar tahu bagaimanapun ayah pasti ingin segera mendapatkan cucu. Menemaninya di hari tua. Saat anak-anaknya sibuk bekerja dan hanya Arda sendirian di rumah. Akan tetapi, Arda juga sambil bekerja sebagai freelance. Hal ini yang membuat ayah sangat jarang berada di rumah. Memilih pergi bersama teman-teman seumurannya. Tak jarang juga teman ayah mengenalkan anak lelakinya kepada dirinya. "Andai kita tidak saling mengenal. Semuanya pasti akan baik-baik saja." Kenangan itu muncul disaat yang tidak tepat. Hatinya merasa sedih mengingatnya. Kebersamaan itu, dulu dia begitu bahagia bersama lelaki itu. Tak peduli menghabiskan waktu bersama. Lelaki romantis, dingin, tetapi penuh perhatian. Terkadang juga protektif kepadanya. Jika cemburu selalu membuatnya merasa gemas. Setitik air mata jatuh mengenai kedua pipinya. Andai waktu bisa diulang. Dia lebih baik tidak bertemu dengan lelaki seperti dia. Jika pada akhirnya membuat luka dan membuat malu. Dia benci jika kenangan itu muncul. Benar memang dia selalu mendoktrin bahwa lelaki sama seperti mantan calon suaminya itu. Bagaimana dia bisa membahagiakan ayahnya tanpa harus mencari pendamping hidup, karena dia belum siap. Dia masih ingin menikmati waktunya sendiri tanpa merasa sakit hati. Karena hatinya sudah terlampau sakit sejak kejadian itu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN