12-Bab 12

1414 Kata
Pagi sekali Ambar berangkat kerja. Menimbulkan kecurigaan bagi semua orang rumah. Hanya pamit ada urusan penting di restorannya, termasuk mengecek pemasukan dan pengeluaran. Sontak Galih yang biasa mengurusi hal tersebut merasa heran. Karena memang hal tersebut bisa dicek di rumah. Apalagi Ambar selalu membawa pulang laptopnya. Makan pagi kali ini tanpa Ambar membuat ayah heran melihatnya. Entah apa yang terjadi pada putri cantiknya itu. "Ayah mau diambilin apa?" tanya Arda. "Enggak usah, biar ayah ambil sendiri. Kamu layanin suamimu," jawab Ayah sambil mengambil nasi. Arda mengangguk. "Dimana Ambar pagi-pagi udah gak ada di rumah," ujar Ayah kepada anak dan menantunya. "Ambar bilang ada urusan di restorannya." "Ya 'kan sempatin dulu makan bersama. Jarang sekali Ambar ikut," ucap Ayah dengan sedih. Galih hanya terdiam begitipula Arda. Keduanya bingung harus menjawab apa. Sambal terasi dengan sayur sop ayam dan kerupuk pun menjadi hidangan ternikmat di pagi ini. Belum lagi ayam goreng pedas kesukaan Ambar yang rasanya enak. Semua hidangan yang dimasak oleh Arda mendapat pujian dari Galih. "Mas hari ini kerja?" tanya Arda. Galih menggelengkan kepala. "Libur, ada urusan di luar," jawabnya. Arda mengangguk saja. Setidaknya dia juga tak terlalu kesepian nanti. Entah kapan kehadiran seorang anak datang diantara pernikahannya ini. "Kamu gak nongkrong sama temen-temenmu 'kan Galih?" tanya Ayah sambil meletakkan sendok. "Ayah, ngapain Galih nongkrong sama temen-temen." "Ya kebiasaanmu di masa muda dulu. Sampai buat ayah marah-marah terus." Arda terkekeh mendengarnya. "Sekarang 'kan punya istri, masa harus nongkrong terus sama temen-temen." "Bagus, sadar. Biar gak ditinggalin sama Arda kamu." Ayah berkata dengan nada tegas. Galih menggenggam tangan kanan Arda yang berada di bawah meja. Dalam sebuah hubungan itu kepercayaan sangat penting. Terlebih komunikasi. Beberapa yang Galih lihat tentang hubungan yang tak langgeng itu karena miss komunikasi dan kurangnya rasa percaya. Apalagi jika terlalu cemburuan itu juga bisa menyebabkan runtuhnya sebuah hubungan. ******** Mobil yang dikemudikan Ambar sampai di dekat rumah wanita paruh baya itu. Lagi-lagi dia harus berjalan lewat jalan kecil itu. Untung saja dia tak memakai high heels kali ini. Saat di tengah perjalanan, dia mengerutkan dahi saat melihat segerombolan lelaki sedang duduk di tengah sambil membawa sebuah botol minuman. Tak mungkin Ambar bisa ke sana. Dia tak akan bisa melawan segerombolan lelaki nakal itu. Sebelum wajahnya diketahui oleh lelaki itu, Ambar segera berlari menuju mobilnya. "Eh, ada cewek," ujar salah satu lelaki yang melihat keberadaan Ambar. Benar-benar sial, Ambar semakin mempercepat larinya. Beruntung dia rajin olahrga, jadi memudahkannya untuk mempercepat larinya. Sudah mandi, bau lagi karena menguras keringat. Sampai di mobil, Ambar segera masuk dengan nafas tersendat-sendat. Dia melihat ke belakang dimana gerombolan lelaki itu tidak mengikutinya. Dia menyenderkan kepalanya di kursi mobil. Memilih untuk menunggu sampai waktu yang aman. Lingkungan yang sepi begini memang rawan pelaku kejahatan. Terlebih para wanita dan anak-anak. Dia mengambil minuman yang sempat dia beli tadi di toko. Entah sampai kapan dia menunggu. Para gerombolan lelaki itu masih asyik menikmati waktunya. Dia cukup heran hidup yang singkat ini justru tidak dimanfaatkan dengan baik. Seakan tidak takut mati. Padahal yang dia lihat mereka itu kebanyakan sudah menikah, dan ada yang belum. Menikmati masa muda bukan berarti harus seperti itu. Namun, apa boleh itu adalah pilihan mereka. Dia hanya merasa jengkel mereka telah membuang-buang waktunya. Bosan dengan menunggu, Ambar memutuskan melajukan mobilnya menuju restoran. Dengan penampilan yang kurang rapi, siapa yang akan protes penampilan pemilik restoran. Jalanan yang terasa padat karena banyaknya para pengendara yang hendak berangkat kerja. Ambar mendelik saat melihat mobilnya hampir saja kehabisan solar. Dengan segera dia mencari pom bensin terdekat. Saking terburu-buru dia sampai tak mengecek keadaan mobil kesayangannya. Sampai di pom bensin, harus menunggu antri lima mobil lainnya. Dia menggerutu kesal. Kenapa hari ini seakan tidak mendukung rencananya sama sekali. Tak lama, setelah mobilnya sudah terisi. Ambar segera melajukan kecepatan sedang menuju restoran. Ah, tidak. Sepertinya dia memutuskan kembali ke tempat tadi. Ini sudah lama, dia rasa mereka sudah pergi dari sana. Hanya butuh beberapa menit saja, dia sampai ke tempat tadi. Kedua matanya berbinar saat mereka sudah tak ada di sana. Segera dia ke luar mobil dan berlari kencang menuju tempat itu. Dia merasa ada yang janggal di sini, tetapi pikirannya tak sampai pada kejanggalan itu. Tempatnya masih sama seperti terakhir kali dia ke sini. Dia melihat seorang bapak-bapak sedang memilah sampah botol dengan sampah lainnya. Sepertinya hendak dijual lagi untuk diolah kembali. Ambar langsung saja menuju rumah wanita paruh baya itu. Dia memutuskan melihat dari jendela dulu, tetapi dia merasa rumah itu begitu sepi. Menengok ke dalam tak dia dapati wanita paruh baya itu. Hingga dia memutuskan untuk mengetuk pintu dari luar. Namun, sampai ke sepuluh pun tak dibukakan pintu. Batinnya berpikir apa mungkin wanita paruh baya itu sedang bekerja? Ambar memutuskan menghampiri bapak tadi. "Selamat pagi, Pak." Bapak tersebut menoleh sambil mengusap keringat yang menetes didahinya. "Selamat pagi. Ada apa Mbak?" "Begini, Pak. Pemilik rumah itu kemana ya?" tanya Ambar sambil menunjuk rumah wanita paruh baya itu. "Saya kurang tahu, Mbak. Memang dari kemarin saya tidak melihatnya. Entah kemana." Ambar terdiam mendengarnya. Dari kemarin tidak melihatnya. Dia berharap keadaan wanita paruh baya itu sedang dalam keadaan baik-baik saja. "Apa bapak tahu dia sedang bekerja di mana?" tanya Ambar lagi. Jawaban tidak dari bapak itu membuat Ambar merasa hampa seketika. Baiklah, dia akan mencoba datang nanti sore lagi setelah dari restoran. Semoga saja wanita paruh baya itu segera pulang. "Terima kasih, Pak." Bapak tersebut mengangguk. Ambar yang kebetulan tadi membeli makanan ringan pun memutuskan untuk memberikannya ke bapak tersebut. Dia meminta bapak tersebut untuk mengikutinya. Dikarenakan dia tak mungkin untuk kembali lagi ke sini. Kakinya sudah merasa pegal. Saat sampai di mobil, Ambar memberikan sebungkus plastik berisi makanan kecil ke bapak tersebut. Dia juga memberikan uang sebesar dua ratus ribu rupiah ke bapak itu. "Terima kasih, Mbak," ucap bapak itu dengan terharu. Ambar mengangguk saja. "Semoga rezekinya lancar, dan apa yang diharapkan oleh Mbaknya tercapai." Bapak tersebut mendo'akan Ambar yang langsung diaamiinkan oleh Ambar. Ambar lalu masuk ke dalam mobil. Dia melihat bapak itu masih menunggunya hingga mobilnya tak terlihat. Ambar berharap dia segera bertemu wanita paruh baya itu. Jika sampai pindah tempat, ini akan semakin menyulitkannya. Dimana lagi dia harus menemukan wanita paruh baya itu diantara puluhan ribu orang di kota ini. Ambar harap wanita paruh baya itu segera kembali ke rumahnya. Ambar memutuskan untuk mengemudikan mobilnya di salah satu hotel. Memilih menenangkan dirinya di sana, itung-itung liburan sejenak. Dia sangat membutuhkan waktu untuk menyendiri setelah berbagai beban seakan ingin membuat pundaknya jatuh saja. Diraihnya ponsel, dia memberikan pesan kepada Bang Galih untuk tidak mengkhawatirkannya. Dia juga mengatakan ingin menginap di suatu tempat sekaligus liburan. Walau Bang Galih sempat bertanya apakah dia baik-baik saja, karena tiba-tiba mengatakan hal tersebut. Dia hanya menjawab tidak ada masalah. Hanya sedang ingin refreshing saja. Dia turun dari mobil, lalu memesan satu kamar untuk satu malam. Setelah mendapatkan kunci dan nomor kamarnya, segera dia mencarinya. "Eh, Bu Ambar." Ambar mengerutkan dahi sata melihat seorang lelaki yang tak lain adalah partner kerjanya sekarang sedang di hotel. "Bisa ketemu di sini ya," katanya lagi yang tak dijawab sama sekali oleh Ambar. Baginya di luar urusan pekerjaan dia tak akan mau untuk berbicara lebih jika bukan hal yang begitu penting. "Bu Ambar." Ambar menahan kesal. Langkahnya terhenti gara-gara lelaki menyebalkan itu. Dia menunggu perkataan lelaki itu, tetapi selama dua detik tak ada satupun yang ke luar. Ambar yang kesal memutuskan pergi begitu saja. Menghiraukan lelaki itu yang justru mengikuti langkahnya. "Ada apa?" tanya Ambar dengan ketus. "Saya sangat tahu apa yang terjadi pada Anda," ucap lelaki itu sambil menaik turunkan alisnya. Kedua tangannya di masukkan ke dalam kedua saku celananya. Tampak keren, belum lagi kacamata hitam yang menggantung di hidung mancungnya. "Jangan sok tahu!" Ambar mempercepat langkahnya. Walau kakinya akan terasa pegal nanti karena sepatu yang dia pakai. "Sebuah rahasia, sebuah kebenaran yang harus diungkap, bukan begitu?" Ambar sontak menghentikan langkahnya. Menoleh ke arah lelaki itu, dia ingin mencekiknya sekarang juga. Sungguh keterlaluan. "Jangan pernah mencampuri urusan orang lain selain urusan kerja." "Kenapa? Saya bisa membantu Anda, Bu Ambar." "Diam! Dan, jangan sok tahu!" "Memangnya saya bilang apa?" Lelaki itu sungguh mengajaknya berdebat. Dia rasanya ingin due sekarang juga. Namun, sekarang bukan waktu yang pas untuk meladeni lelaki itu. "Berhenti untuk ikut campur!" Suara Ambar terdengar mengerikan membuat lelaki itu memilih mengedikkan bahu. Meninggalkan Ambar. "Saya pastikan kamu akan menghubungi saya untuk meminta bantuan atas penyelesaian masalahmu. Ingat, kamu tidak akan bisa melakukannya sendiri." Ambar terdiam di tempatnya. Menghela nafas panjang, kemudian berjalan mencari kamarnya berada. Dia juga tak peduli akan lelaki bernama Haikal tadi. Membuatnya makin pusing saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN