"Ambar, kemarin kemana? Pagi-pagi berangkat, pulang juga di pagi hari. Kamu nginap di mana?" tanya Ayah beruntun. Wajahnya kentara khawatir kepada anak perempuannya yang tisak memberinya kabar sama sekali.
Ambar yang baru pulang, mandi, dan hendak berangkat lagi pun menghentikan aktivitasnya yang hendak memakai high heels. "Maaf, Yah. Kemarin Ambar sudah bilang ke Bang Galih kalau ada urusan pekerjaan. Ambar menginap di hotel terdekat."
Ayah mendekati Ambar. Duduk di sebelahnya. "Ambar mungkin sudah dewasa, tetapi rasa sayang Ayah tetaplah sama. Ambar tetap anak Ayah yang selalu Ayah khawatirkan."
Ambar jadi terharu mendengar perkataan ayahnya. Akan tetapi dia memang sedang menjalankan misi ini. Dia harus benar-benar menemukan wanita paruh baya itu. Daripada dia selalu diliputi rasa penasaran dan tidur yang tak tenang.
"Ambar, sekarang makan bersama dulu. Tunggu kakakmu selesai masak atau kamu bantuin kakakmu masak sana. Tubuhmu itu juga butuh istirahat. Siapa yang akan berani memarahi seorang boss jika datang telat."
Ambar menghela nafas panjang. Dia mengangguk, lalu berdiri menuju dapur. Dilihatnya Arda sedang membuat teh hangat. Namun, Ambar memilih duduk di kursi. Meja makan yang hanya terisi buah-buahan.
"Makanan belum matang?" tanya Ambar. Ard menoleh dengan kaget.
"Belum, ini kakak masih mau memasak ayam goreng kecap," jawab Arda. "Tumben belum berangkat kerja?"
"Ayah meminta Ambar makan dulu."
Arda menepuk keningnya. "Kakak belum selesai masak. Kamu tunggu dulu, ya."
"Maaf ya, Kak. Ambar gak bisa bantuin."
Arda tersenyum lebar. "Enggak apa-apa. Kamu udah rapi gitu. Kakak boleh minta tolong berikan teh hangat dan kopi ini ke ruang tamu?"
Ambar mengangguk. Dua mengambil nampan yang berisi segelas kopi dan segelas teh hangat. Dengan melangkah pelan dia membawanya menuju ruang tamu. Tampak Galih yang sepertinya baru selesai mandi. Tidak ada baju kerja yang dipakainya. Hanya memakai kaos panjang dan celana pendek rumahan.
Ambar meletakkannya di meja. Dia memilih duduk di sebelah Galih. "Bantuin kakakmu sana," suruh Galih. Namun, Ambar menggelengkan kepala.
"Kamu ini anak perempuan jangan biasakan ke luar sendiri terus. Bahaya, Ambar," ujar Galih lagi.
"Apaan sih, Ambar sudah dewasa. Bisa jaga diri dengan baik." Ambar memilih berdiri dan berjalan menuju dapur. Daripada di ceramahin oleh Galih.
Melihat Arda kerepotan, Ambar mengajukan diri untuk membantu. Arda yang sedang memasak sayur bening dan memasak ayam goreng kecap pun merasa kewalahan. Arda meminta Ambar untuk mengaduk sayur bening itu dan menambahkan garam jika dirasa belum mantap rasanya.
"Kakak sama abangmu akan liburan akhir bulan ini. Kamu temenin ayah di rumah ya?"
"Bulan madu nih pasti," ujar Ambar dengan pelan.
"Ambar?" Karena tak mendapati respon dari Ambar, Arda pun memanggil Ambar.
"Iya, Kak. Ambar juga mau libur saja di akhir bulan."
"Bagus, nanti kakak bawakan oleh-oleh yang banyak," kata Arda sambil terkekeh pelan. Ambar mengangguk saja.
********
Setelah kemarin datang penuh kecewa, kali ini Ambar datang lagi dengan harapan yang baik bisa bertemu wanita paruh baya itu. Lagi-lagi dia harus berjalan kaki untuk menuju rumah wanita paruh baya itu. Sekarang tak ada halangan seperti kemarin yang ada lelaki nakal sedang menikmati hidupnya di tengah jalan.
Sunyi, itulah yang dirasakan Ambar. Dia tak melihat seorangpun di luar rumah. Entah dimana penduduknya. Apa mungkin sudah berangkat kerja? Ambar pun memutuskan untuk berjalan menuju rumah wanita paruh baya itu. Dia menengok lagi lewat jendela dan tidak menemukan apapun. Dia merasa tidak ada seorangpun di dalam rumah itu. Dia sendirian di luar, dia merasa hawa yang tak enak di sini. Dengan segera Ambar memutuskan pergi.
Berjalan dengan cepat meninggalkan rumah ini. Sesampainya di mobil, Ambar menghela nafas lega. Dia masih heran kenapa begitu sepi kali ini. Sebenarnya apa yang terjadi? Dia melihat sekeliling, hingga kedua matanta menemukan pria paruh baya berjalan hendak masuk ke kawasan itu. Ambar turun dari mobil dan mendatangi pria paruh baya itu.
"Selamat pagi, Pak," sapa Ambar tanpa senyuman.
Pria paruh baya itu mengangguk saja.
"Bapak mengenal wanita ini?" tanya Ambar sambil menunjukkan foto. Pria itu menggelengkan kepala.
Ambar kembali bertanya, "Kalau boleh tahu penduduknya di sana kemana ya, Pak? Saya tadi ke sana sepi sekali."
Pria paruh baya itu menggerakan tangannya. Ambar bingung dengan maksudnya.
"A...." Ambar semakin bingung. Hingga akhirnya dia sadar bahwa pria paruh baya itu tidak bisa berbicara.
"Oh, begitu, Pak. Terima kasih." Ambar mengangguk dan kembali masuk ke dalam mobil dengan kecewa. Dia juga memberikan uang dua lembar merah kepada pria paruh baya itu. Pria paruh baya itu pasti belum makan.
Melihat gerakan tangan prua paruh baya itu, Ambar mengira bahwa mungkin rumah-rumah itu hendak digusur. Sehingga penduduknya harus pindah. Karena memang area itu seperti pembuangan sampah. Dia bahkan merasa miris melihat keadaan rumah-rumah di sana. Bangunan yang seadanya.
Dalam diam, Ambar berpikir apa yang akan hendak dia lakukan nanti. Dia datang penuh harapan, kembali penuh kecewa lagi. Terlebih penduduk sana sudah berpindah tempat. Saat berpikir begini, dia mengingat Haikal. Lelaki yang hendak menolongnya dan ingin menjadi temannya. Sepertinya dia memang membutuhkan bantuan Haikal. Dia tak mungkin bisa mencari wanita itu sendirian. Ya, sepertinya begitu.
"Halo," sapa Ambar.
"Ada apa gerangan Nona Ambar menghubungi gu—eh saya?"
"Tak usah formal," ujar Ambar.
Haikal di seberang sana pun tertawa. Lelaki itu baru bangun tidur dan harus menjawab panggilan telfon dari Ambarwati.
"Saya butuh bantuan kamu," kata Ambar to the point.
"Tunggu, saya tidak mendengar dengan jelas perkataan kamu."
Ambar menghela nafas lelah. "Saya membutuhkan bantuan kamu. Kamu bisa membantu saya?" tanya Ambar lagi. "Kamu pernah menawarkan diri untuk membantu saya," ujar Ambar mengingatkan lelaki itu.
Haikal di seberang sana pun paham. Dia juga sudah mengetahui permasalahan Ambar. Rahasianya dan Ambar yang belum diketahui oleh siapapun. Walaupun Arda bertanya tentang perkembangan pendekatannya dengan Ambar. "Oke, kita ketemu kapan nih?" tanya Haikal menyetujui. Dia dengan segera bangkit dari ranjang.
"Bagaimana jika sekarang kamu datang ke restoran saya."
"Oke, saya mandi dulu," kata Haikal membuat Ambar menggelengkan kepala.
Setelah sambungan telfon terputus. Ambar memasukkan ponselnya ke dalam tas. Kembali mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju restorannya. Dia berharap Haikal bisa banyak membantunya. Sungguh dia membutuhkan bantuan Haikal. Benarlah dia tak bisa memecahkan semua ini sendirian. Entah kenapa dia merasa memang ada rahasia yang disembunyikan oleh ayahnya. Namun, dia tak boleh menuduh. Ayahnya begitu menyayanginya. Entah apa yang sebenarnya terjadi, yang pasti kepalanya sekarang terasa cenat-cenut.