14-Bab 14

1514 Kata
Suasana restoran yang ramai tak mampu membuat suasana hati Ambar bahagia. Dia sedang dirindung gelisah. Petunjuk yang dia dapatkan rasanya percuma. Kini hanya tinggal rasa penasaran yang ada. Mendatangi tempat itu lagi tetapi tak dia dapatkan wanita paruh baya itu. Meminta bantuan Haikal sampai sekarang juga tak ada info setelah dua hari membahas soal masalah ini. Menelungkupkan kepala di meja, wajah datarnya kini berganti dengan wajah sedih. Tak ada yang melihat, karena dia berada di dalam ruang kerjanya. Kejanggalan itu memang benar adanya. Dia jadi ingat perbincangannya dengan Haikal. Lelaki itu bilang bahwa adanya lelaki yang sedang mabuk-mabukan di tengah jalan itu adalah siasat. Mungkin saja ada seseorang yang membawa wanita paruh baya itu pergi ke suatu tempat. Jika memang benar, siapa yang memainkan peran di belakangnya. Tak ada yang tahu kecuali dirinya dan Haikal. Mungkinkah dia selama ini dimata-matai? Lalu, jika iya siapa yang melakukannya? Ayah, Galih, rasanya tak mungkin. Galih yang sibuk bekerja dan ayah yang selalu ke luar bersama teman-temannya. Dia merogoh saku celananya, mengambil foto yang dia letakkan di celananya. Menatap intens wajah lelaki di dalam foto itu yang foto bersama ayahnya juga wanita paruh baya itu. Mungkinkah lelaki itu yang memata-matainya dan tahu rencananya? Namun, apa maksudnya? Memangnya kenapa dengan wanita paruh baya itu. Pertanyaan itu seakan hanya dia telan saja. Tak ada jawaban sama sekali. Suara ketukan pintu membuat Ambar segera menyembunyikan foto tersebut. Dia duduk dengan tegap dan kembali memasang wajah datar. Meminta seseorang di luar untuk masuk. Rupanya Haikal. Entah apakah ada kabar baru yang didapatkannya. "Hai, kenapa wajahmu lesu sekali?" tanya Haikal lalu duduk di depan Ambar. Lelaki itu entah kenapa seperti tahu perasaan Ambar. "Bagaimana? Kamu sudah mendapatkan info lagi?" Haikal menggelengkan kepala. "Ini terlalu rumit. Mencari satu orang di kota ini. Kamu tidak merasa salah satu anggota keluargamu menyembunyikan sesuatu darimu?" Ambar menegakkan tubuhnya. Dia memajukan wajahnya. "Apa maksudmu?" Kentara sekali dia tak suka atas pertanyaan Haikal. "Coba kita lihat, ada keanehan yang terjadi dalam ceritamu. Ini seperti sudah didalangi oleh seseorang." "Lalu untuk apa? Memangnya siapa wanita paruh baya itu? Dia bukan orang kaya." "Mungkin saja dia memiliki keistimewaan, rupa yang cantik di masa lalu. Coba kamu cermati foto yang pernah kamu perlihatkan padaku. Mungkin saja adanya balas dendam pada wanita itu," ujar Haikal mengutarakan pendapatnya. Dia layaknya seorang psikologis yang mampu menilai karakter dan gerak-gerik seseorang dengan mudah. "Balas dendam?" tanya Ambar dengan pelan. Dia tak mengerti, jika memang benar untuk apa balas dendam? "Balas dendam itu ada dua kemungkinan. Cinta ditolak, atau kata-kata yang menyakitkan." Haikal semakin gencar menguak misteri ini. Dia ingin membantu Ambar. Keanehan ini harus segera dituntaskan. "Cobalah kamu tanya ayahmu, siapa wanita itu?" Ambar menggelengkan kepala. "Ayah akan tahu jika aku telah mengambil foto ini. Bukankah ayah akan kecewa padaku?" Haikal mengangguk setuju. "Terlalu rumit." Haikal kembali berkata, "Kamu benar tidak menemukan foto atau petunjuk lain di kamar ayahmu?" Ambar menggelengkan kepala. "Di kamar abangmu?" tanya Galih lagi. "Untuk apa aku mencari petunjuk di kamar Bang Galih? Aku rasa tidak ada petunjuk sama sekali di sana," ujar Ambar berpendapat. "Mungkin saja ada petunjuk. Coba kamu cari. Mana mungkin seorang lelaki tidak merindukan cinta pertamanya? Seorang ibu adalah cinta pertama bagi lelaki. Mana mungkin abangmu tidak memiliki fotonya. Pasti ada." "Kalaupun ada untuk apa menyembunyikannya dariku?" "Mungkin karena tak ingin membuatmu sedih dan terlalu merindukan sosok seorang ibu." "Di kamar ayah pun tak ada foto almarhumah ibu tiriku," ucap Ambar memberi tahu Haikal. "Di rumahmu ada gudang 'kan?" Ambar mengangguk. Dia mengerutkan dahi dengan bingung. "Coba kamu cari foto di gudang. Siapa tahu ayahmu menyimpannya di gudang." "Untuk apa menyimpan di gudang?" tanya Ambar dengan bingung. "Supaya tidak terlalu mengingat mendiang istrinya yang mana akan membuatnya bersedih," jelas Haikal. Ambar mengerti akan perkataan Haikal. Nanti sepulang kerja dia akan ke gudang. Semoga saja dia mendapatkan foto-foto. "Bagaimana jika sekarang kamu menemaniku membeli baju?" Haikal menaik turunkan alisnya. Dia melihat kesedihan di kedua mata Ambar. Walau selama bicara wanita muda itu tak pernah menatapnya sama sekali. Dia tak masalah, mungkin Ambar berniat menjaga diri. "Untuk apa?" "Mau datang ke pesta temanlah," jawab Haikal dengan santai. Ambar menghela nafas lelah, kemudian dia mengangguk. Mengingat Haikal sudah mau membantunya. Bahkan merepotkan diri demi dirinya. Dia rasa tak ada salahnya menemani lelaki itu membeli baju. "Buat apa sih datang ke pesta-pesta kayak gitu," gumam Ambar. Haikal mendengarnya, dia menjawab, "Cari cewek." Ambar mengedikkan bahu. Malas sekali jika jiwa buaya Haikal ke luar. "Tumben sekali kamh berkomentar. Biasanya mulut tuh irit sekali buat bicara. Ke luar pun kalau penting saja. Sampai heran nih mulutku mau ngajak kamu bicara apa lagi." Haikal mengeluarkan curahan hatinya tentang sikap Ambar yang terlalu dingin. "Kamu tahu .... " Haikal memotong perkataan Ambar. "Aku tahu, tetapi tidak semua lelaki itu sama. Kamu tidak boleh menyamaratakan. Percaya padaku, aku tak akan pernah menyakitimu." Ambar menghela nafas panjang. "Kenapa kamu susah membuka hati pada lelaki lain? Karena kamu menganggap bahwa lelaki lain itu sama dengan mantan calon suamimu. Padahal setiap lelaki itu berbeda," tutur Haikal. "Udah, kamu mau beli baju ke mana?" tanya Ambar sambil berdiri. Dia meraih tasnya di meja. "Di mall saja." Haikal ikut berdiri. Dia berjalan lebih dulu ke luar ruangan Ambar. Diikuti Ambar di belakangnya. Beberapa karyawan yang melihatnya sempat berbisik. Ambar tak mendengarnya, karena memilih jalan lebih dulu menuju parkiran. Sedangkan, Galih begitu santai sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Siapa sih lelaki yang bersama Bu Ambar itu?" tanya salah satu karyawan wanita. "Apa mungkin calon suaminya ya?" "Ih, yang benar. Ganteng gitu. Wajahnya kayak oppa-oppa korea. Adudu, semoga jodohku seganteng dia." "Hush, mimpi sana kamu. Jaga itu mata," tutur karyawan lainnya yang tampak tak peduli akan kehadiran Haikal. "Jika Bu Ambar sampai mendengar kita sedang membicarakannya. Habislah kamu." Sontak dua wanita lainnya pun terdiam. Mereka memutuskan untuk kembali fokus bekerja. Galih yang mendengarnya hanya menggelengkan kepala. Ambar yang dingin tetapi begitu tegas dan galak kepada karyawannya. Apalagi jika hatinya memburuk, semua terkena amukannya. "Lama sekali jalannya," gerutu Ambar. "Mau ngadain kontes berjalan cepat sama keong?" "Cerewet sekali sekarang. Ada apa denganmu?" Haikal masuk ke dalam mobilnya. Meminta Ambar masuk ke mobilnya juga. Ambar bukan tipe wanita yang akan tersipu jika dibukakakan pintu mobil. Justru malah menolak. Haikal pernah melakukannya, dan berakhir malu. Tanpa disadari Ambar, dirinya sudah mulai terbuka kepada Haikal. Kedekatan keduanya bukan layaknya teman bisnis, tetapi lebih kepada teman dekat. Haikal justru senang bisa berduaan dengan Ambar. Namun, tidak dengan Ambar yang hanya menganggap bahwa Haikal hanyalah sosok yang dapat membantunya menyelesaikan masalah. Dia tak bisa melakukannya sendiri. Mobil yang dikemudikan Haikal sampai di sebuah restoran yang rupanya dimiliki oleh Haikal. Ambar memilih ikut masuk. Namun, sebelum itu dia memutuskan ke toilet sebentar. Dia terkejut saat bertemu dengan sosok yang sangat dia kenal. "Ambar," ucap wanita paruh baya itu. "Ibu," ucap Ambar juga. Dia tak percaya bisa bertemu dengan ibu dari lelaki yang telah menyakitinya di sini. "Ambar, saya tahu anak saya salah. Ibu harap kamu tidak membenci ibu, Nak. Ibu sudah menganggapmu layaknya anak sendiri, kamu tahu itu 'kan? Namun, ibu masih berharap bahwa anak ibu tidak kabur dengan wanita lain." Ambar tidak mau mendengarnya. Dia tahu beberapa kali wanita paruh baya itu berusaha menemuinya. Meyakinkannya bahwa Keenan tidak bersalah sepenuhnya. "Sudah, Bu. Kebenarannya begitu. Keenan meninggalkan saya di hari pernikahan. Membuat keluarga saya malu. Dia tak merasa bersalah telah menyakiti saya. Jika memang dia tak berniat untuk menikahi saya, seharusnya tidak mengajukan tanggal pernikahan." "Kamu tahu bagaimana bahagianya anak saya saat mengurus pernikahan kalian. Apa kamu tidak percaya sama Keenan sedikitpun? Rasanya ibu masih tidak percaya. Ini firasat seorang ibu, Ambar. Kamu tahu Keenan anak yang baik, tidak begajulan." Ambar menghela nafas panjang. "Waktu bisa mengubah semuanya, Bu. Termasuk waktu yang bisa mengubah Keenan menjadi lelaki yang bertanggung jawab." Wanita paruh baya itu sedih mendengar anaknya tak dipercayai lagi. Bahkan, suaminya juga menganggap bahwa Keenan hanya memalukan dan merusak nama baik keluarganya. Dia yakin, anaknya tidak begitu. Banyak yang mencerca bahwa Keenan lelaki tidak bertanggung jawab. Baginya, Keenan anak yang baik. "Baiklah kalau begitu, ibu berharap kamu percaya sama Keenan. Mungkin saja ada seseorang yang sengaja menghancurkan pernikahan kalian." "Maksud ibu ada orang yang sengaja ingin menghancurkan pernikahanku? Untuk apa, Bu? Jelas-jelas surat itu nyata. Tulisan Keenan," bantah Ambar. Mungkinkah seorang ibu akan selalu membela anaknya walaupun anaknya melakukan kesalahan yang besar? Wanita paruh baya itu kecewa padanya. Dia tahu dari sorot matanya. "Saya meminta maaf atas perbuatan Keenan. Semoga Ambar bahagia, ya." Ambar mengangguk saja. Dia melihat wanita paruh baya itu kembali ke salah satu bilik toilet. Ambar merasa bersalah telah membuatnya bersedih. Namun, kenyataannya begitu. Keenan telah jahat padanya. Lantas, untuk apa dia membela kejahatan didepan matanya? Ambar berjalan dengan melamun. Hingga dia menabrak sesuatu yang keras. "Ambar, kamu kenapa?" tanya Haikal. Ambar menggelengkan kepala. Dia mengerjapkan kedua matanya. "Aku cari kamu ke sana tidak ada. Ayo, ke ruanganku. Kita membicarakan sesuatu yang penting." Ambar mengangguk. Dia menatap pelanggan restoran Haikal ayng begitu ramai. Lelaki muda yang sukses dalam bisnis kuliner. Ambar mengikuti langkah kaki Haikal menuju ruangan di lantai dua. Hanya ada satu ruangan di sana karena sisanya digunakan tempat makan sekaligus menikmati pemandangan. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN