Sudah sebulan lamanya Ambar tak mendapatkan kabar tentang keberadaan wanita paruh baya itu. Dia benar-benar merasa galau ditimpa rasa penasaran yang besar. Hari-harinya dia gunakan untuk menyibukkan diri pada urusan kerja membuatnya bisa melupakan masalah itu sejenak. Kini dia harus libur dari kerjanya karena menemani ayah di rumah. Galih dan Arda sedang liburan berasama di kota Bali.
Pagi sekali dia bangun untuk memasak, tetapi tangannya terasa kaku karena sudah lama tak melakukannya.
"Ambar," panggil Ayah. Ambar menoleh.
"Ayah mau jalan-jalan, Ambar ikut? Nanti beli bubur saja. Kamu tak usah masak," titah Ayah. Ambar yang hendak menggoreng telur pun menghentikan pekerjaannya.
"Baik, Yah." Ambar tentu senang. Dia masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian olahraga. Untuk makan siang dan malam lebih baik ambil di restorannya saja. Kenapa dia tidak memikirkan hal tersebut?
Setelah berganti baju dengan atasan kaos berwarna navy panjang dan bawahan training, Ambar menghampiri Ayah yang sudah di depan rumah. Dia menutup pintu tanpa menguncinya karena hanya berkeliling di dekat daerah ini saja.
Ternyata di hari libur banyak sekali para tetangga yang jalan kaki. Setelah menyibukkan diri dari pekerjaan demi mencari uang, memang olahraga, liburan adalah hal yang menarik dilakukan ketika merasa penat dengan berbagai masalah hidup. Dari yang mulanya jalan-jalan, Ambar memutuskan lari-lari kecil.
"Ambar." Merasa dipanggil, dia menoleh ke arah seseorang yang rupanya dia kenal. Hanya saja dia heran kenapa Haikal bisa ada di sana.
"Tidak masuk kerja?"
"Kamu nanya atau menebak?" Ambar menghentikan langkah kakinya. Dia memutuskan berjalan lagi. Dilihatnya Ayah sudah ada di depan mengobrol dengan tetangga yang seumuran dengan Ayah.
"Iya, nanya ini." Haikal merapikan rambutnya. Style Haikal kali ini tampak keren hingga berbagai pasang mata memandangnya. Terutama pada wajahnya yang sangat mendukung.
"Libur, kenapa?"
Kedekatan Ambar dan Haikal tak terasa berjalan selama sebulan lebih. Walau Ambar masih terkesan cuek, Haikal tetap selalu mendekati Ambar. Hingga akhirnya belakangan ini Ambar sedikit-sedikit mau meresponnya dan bertanya kepadanya. Jika sebelumnya Haikal yang selalu melontarkan pertanyaan atau bahkan membuka topik pembicaraan.
"Aku ganteng gak?" tanya Haikal sambil menaik turunkan alisnya. Ambar menggelengkan kepala. Dia mempercepat langkah kakinya. Haikal mendengkus kesal melihat kelakuan Ambar yang masih malu-malu itu. Namun, dapat dia pastikan Ambar akan menjadi miliknya.
"Bagaimana apa kita tetap melanjutkan misi kita?" tanya Haikal dengan pelan.
"Iya, dan jangan bicarakan di sini hingga beberapa orang penasaran," ujar Ambar meminta Haikal untuk diam.
"Eh, ini ya calon suami Neng Ambar," celetuk salah satu tetangga saat melihat interaksi Ambar dan Haikal yang menurutnya cukup dekat. Ayah yang ada di depan pun menoleh ke belakang. Dia menatap heran pada lelaki yang berdiri di samping putrinya. Haikal yang mengerti pun menyalimi Ayah dari Ambar.
"Wah, sebentar lagi pasti dapat undangan nih," ujar wanita paruh baya yang membuat beberapa pasang mata memandang ke arah Ambar.
"Ya, Alhamdulillah kalau sudah move on sama yang dulu itu. Kasihan ditinggal nikah. Semoga masnya ini bertanggung jawab."
Ambar menahan kesal di dadaa. Dia ingin marah dan berteriak kepada mereka untuk tidak mencampuri urusannya. Dia merasa muak mendengarnya. Walau begitu wajah datarnya masih nampak. Dia memutuskan lari-lari kecil untuk mencari penjual bubur.
Haikal mengikuti Ambar. Dia mendengar semuanya. "Sorry."
"Bukan salah kamu." Hanya itu yang ke luar dari mulut Ambar. Haikal paham bahwa wanita di sampingnya itu sedang marah. Alisnya menukik tajam saat melihat tatapan Ayah dari Ambar. Haikal harus mencari tahu semuanya. Dia rasa memang ada yang disembunyikan oleh ayahnya Ambar.
Haikal memilih diam saja mengikuti langkah Ambar. Sepertinya wanita itu sedang mencari penjual makanan. Hingga saat menemukan penjual bubur ayam, Ambar mendekati penjualnya. Ada lima orang yang mengantri di sana.
"Mau beli itu?"
Ambar mengangguk saja. Dia menahan kesal melihat antrian tersebut.
"Pak, tolong dahulukan saya. Istri saya ini sedang hamil. Bagaimana kalau anak saya nanti ileran?" Ambar terkejut atas perkataan Haikal yang telah membohongi semua orang itu.
"Bagaimana jika ada tetanggaku?"
Haikal menjawab dengan lirih, "Mereka masih jauh di sana. Jadi, kupikir tak masalah melakukan ini. Supapa pesanan kita didahulukan."
Ambar menggelengkan kepala. Haikal meminta Ambar untuk memegang perutnya supaya aktingnya kelihatan beneran.
"Loh, Mas. Mbak Ambar ini belum menikah."
Seperti ditampar oleh kenyataan, begitulah ekspresi Haikal saat ini. Sangat shock hingga ingin pingsan di tempat. Tak dia sangka penjual bubur itu mengenali Ambar. Dia menoleh ke arah Ambar yang hanya mengedikkan bahu saja.
"Bapak jangan sok tahu ya, ini istri saya sedang hamil," ujar Haikal masih mempertahankan argumennya.
Penjual bubur tersebut yang ditaksir sudah berumur 45 tahun itu tersenyum lebar. "Masnya terlalu banyak berharap kepada Mbak Ambar. Saya ini sangat mengenali Mbak Ambar. Karena ayahnya ini pelanggan tetap saya. Sering cerita jika anaknya yang gadis belum menikah. Dulu juga saya sering melihat Mbak Ambar sama mantannya itu suka beli bubur bersama."
Haikal menelan ludah dengan kasar. Sungguh dia memalukan diri sendiri. Beberapa pembeli yang mengantri pun tampak menahan tawa.
Ambar menyahut, "Saya beli empat, Pak."
Rasanya ingin menenggelamkan diri di dunia perbantalan. Haikal sungguh merasa malu. Dia seakan tak punya muka lagi untuk bertemu dengan penjual dan pembeli yang mengantri tersebut. Mana masih lama juga membuat Haikal menggerutu kesal.
Tidak ada yang tahu bahwa Ambar sedang menahan tawa. Haikal sungguh ceroboh. Walau begitu lelaki itu telah menghiburnya yang sedang kesal tadi. "Kenapa?" tanya Ambar kepada Haikal yang sedang menendang-nendang angin.
"Kenapa tidak bilang jika kenal penjual bubur itu?"
"Kamu asal nyerobot saja. Gimana aku jelasinnya," kata Ambar dengan jujur. Haikal menahan napas selama lima detik. Kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ambar menggeleng-gelengkan kepala atas tindakan konyol Haikal.
"Untung tidak ada yang memvidio ya. Kamu bisa masuk televisi dan terkenal deh."
"Terkenal dengan malunya," gerutu Haikal. Hingga antrian pembeli tinggal satu. Haikal menaikkan dagunya. Dia tidak boleh kelihatan malu, wajah tampannya bisa tumpah nanti.
"Masnya ini siapanya Mbak Ambar?" tanya penjual bubur.
"Teman," jawab Ambar.
Penjual bubur itu mengangguk. "Mungkin terlalu cinta, tetapi karena ditolak sama Mbak Ambar makanya begitu."
Haikal merasa penjual bubur tersebut ingin mengajaknya baku hantam. Dia merasa kesal, sungguh hari ini dia merasa dipermalukan. Walaupun dia sendiri yang melakukannya. Sudahlah, dia hanya perlu menahan umpatannya. Tak baik buat anaknya di masa depan.
"Terima kasih, Mbak Ambar." Ambar mengangguk. Dia sudah membayarnya. Haikal membantu Ambar membawa bubur tersebut.
"Seharusnya aku yang bayar," kata Haikal.
"Udahlah, kamu cuci muka sana. Wajahmu sedang terbakar pasti panasr
sekali," gurau Ambar. Haikal mendengkus kesal.
Ambar menahan tawa melihatnya. Haikal yang berdiri di sampingnya menahan gerutuan. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa dia senang saat melihat Ambar bahagia bersamanya. Mengingat tadi sempat sedih saat penjual bubur mengingatkan tentang mantan calon suaminya itu.