Keadaan rumah yang sepi, belum lagi hujan menyambut pagi. Entah kemana kepergian ayah di pagi hari hingga membuat Ambar sibuk mencari. Dia memang bangun kesiangan, jadi mungkin saat ayah ke luar tak sempat pamit. Namun, untuk apa pagi-pagi ayah pergi dengan terburu-buru.
Dia memilih rebahan di kasurnya sambil bermain ponsel. Hujan yang begitu deras memang enak jika buat makan yang manis dan hangat, tetapi dia lagi males untuk membuat makanan. Mau pesan lewat online, merasa kasihan pada kurir yang sedang kehujanan mencari uang.
Menunda makan juga bukan pilihan. Sungguh Ambar menjadi dilema. Suara hujan dan bau petrichor membuatnya terasa tenang. Hingga telfonnya berbunyi, rupanya ada panggilan telfon dari Haikal. Ambar mengerutkan dahi. Untuk apa lelaki itu menelfonnya.
"Assalamu'alaikum," sapa Haikal. Ambar menjawabnya dengan pelan.
"Aku lagi ngikutin ayahmu," ujar Haikal membuat Ambar mengerutkan dahi bingung.
"Tunggu, ada apa? Kenapa kamu bisa mengikuti ayahku? Ayahku ada di mana?" tanya Ambar beruntun.
"Sabar bu boss, satu-satu dulu tanyanya. Tadi aku mau ke rumahmu. Eh, melihat ayahmu ke luar naik mobil. Ya udah aku ikutin saja." Haikal menceritakan kronologinya.
Ambar mengangguk mengerti walau Haikal tak dapat melihatnya. "Ayahku ada dimana sekarang?"
"Ini masih di perjalanan."
"Sudah, lebih baik kamu tutup telfonnya. Sedang hujan di jalan."
"Gak papa, suaramu membuatku semangat menerjang hujan," gurau Haikal membuat Ambar memutar bola mata malas. Wajahnya yang tetap datar sambil menikmati suara hujan yang berjatuhan. Pepohonan tampak segar yang indah dipandang.
"Kenapa kamu bisa mengikuti ayahku? Memangnya kenapa sih?" Ambar cukup penasaran akan tingkah Haikal yang bisa-bisanya mengikuti ayahnya yang entah sedang kemana. Pergi tanpa pamit, tidak meninggalkan jejak pula. Dia jadi khawatir akan keberadaan ayahnya sekarang. Belum lagi hujan semakin deras. Ayah sudah tua, penglihatannya juga agak menurun.
"Eh, Ambar."
"Ada apa?" Ambar kaget akan perkataan Haikal yang tiba-tiba setelah hening menyapa.
"Rumah sakit jiwa," ujar Haikal dengan pelan.
"Apa?" Ambar tak mendengarnya. Suara Haikal begitu pelan. Terlebih bercampur dengan suara hujan.
"Rumah sakit jiwa. Ayahmu ada di sana," ujar Haikal berteriak.
"Apa? Kenapa ayah ke sana?" Ambar mengerutkan dahi dengan bingung.
"Aku tidak bisa masuk ke dalam. Ayahmu pasti akan mengenaliku. Belum lagi sepatuku yang basah akan meninggalkan jejak. Ayahmu pasti akan tahu jika aku mengikutinya. Nanti kukirim alamatnya." Haikal menjelaskan kepada Ambar. Kemudian memutuskan meninggalkan halaman rumah sakit jiwa itu.
"Haikal, ayahku kenapa ada di sana?" Ambar justru khawatir. Dia takut jika ada yang terjadi kepada ayahnya.
"Aku tidak tahu, cobs kamu tanyakan pada langit."
"Apa sih," gerutu Ambar. Dia menahan jengkel dan rasa penasaran yang tak kunjung mereda. Setelah kekecewaannya tidak bertemu dengan wanita paruh baya itu.
"Aku sedang perjalanan pulang. Nanti sampai rumah aku share alamatnya. Bye, Ambar. Gak boleh kangen."
"Blokir nih," ancam Ambar lalu mematikan sambungan telfon. Dia mendengar suara gerutuan Haikal diseberang sana.
Ambar meletakkan ponsel di kasur. Dia masih bingung akan keberadaan ayahnya di rumah sakit jiwa. Untuk apa ayah ke sana? Dia berpikir ayahnya sedang menemui dokter untuk mengecek jiwanya. Ah, tetapi mana mungkin. Bisa-bisanya Ambar berpikir begitu.
Kedatangan ayah ke sana ada dua hal. Ingin menemui dokter untuk mengecek kejiwaaan atau sedang menjenguk seseorang di sana. Point pertama tidaklah mungkin. Point kedua adalah kemungkinan. Ya, Ambar harus mencari tahu. Dia akan datang sendiri ke sana.
******
Hanya memakan semangkok mie dan teh hangat cukup membuat perut Ambar terisi. Sudah jam 10 pagi tetapi Ayahnya belum pulang juga. Hujan pun sudah reda sejak tadi. Namun, dia malas untuk sekedar memasak makanan. Nanti akan meminta salah satu karyawannya untuk mengantarkan makanan.
Suara mobil terdengar memasuki halaman rumahnya. Ambar dengan segera berjalan ke pintu utama untuk melihat siapa yang datang. Rupanya ayah. Rambutnya tampak basah. "Ayah," panggil Ambar.
Ayah menatap Ambar dengan terkejut. "Kamu tidak bekerja?"
Ambar menggelengkan kepala. "Ambar akan libur selama Kak Arda dan Bang Galih belum pulang. Kalau Ambar bekerja, siapa yang akan menjaga ayah?"
Ayah mengangguk dan tersenyum. "Anak perempuan ayah memang baik. Masuk sana, lihat pakaianmu. Nanti jika terlihat lelaki yang bukan mahrammu bagaimana?"
Ambar menepuk keningnya. Dia sungguh lupa. Dengan cepat masuk ke dalam rumah. Untung tadi sepi. "Ayah, Ambar tidak memasak apapun."
"Ini, Ayah belikan soto babat," jawab Ayah sambil menujukkan sekantong plastik berisi soto babat.
"Ayah beli dimana?"
"Tadi di jalan." Ambar mengangguk. Kemudian, dia teringat akan perkataan Haikal. Namun, tak mungkin rasanya dia akan menanyakannya. Lebih baik dia diam saja. Mencari tahu sendiri atau mengikuti ayah lagi di lain waktu.
"Ya sudah, ayah makan dulu. Biar Ambar siapkan. Untung tadi sempat memasak nasi."
"Kamu kurangin main ponselnya sambil rebahan. Kamu gunakan fungsi mata dengan baik," tegur Ayah yang mengerti kebiasaan putrinya itu. Ambar mengangguk saja. Wajah datarnya sedari tadi cukup membuat sang ayah jengkel melihatnya.
"Senyum gitu lho, Ambar. Apa ayah nikahkan kamu sekarang?"
Ambar menggelengkan kepala. Kenapa ayah tiba-tiba marah dengannya. Seharusnya ayah bisa mengerti bahwa dirinya yang sekarang begini. Mungkin ayah merindukan sosoknya yang dulu. Ambar memeluk ayahnya dengan penuh kasih sayang. "Ayah, kangen senyuman Ambar?" tanyanya dengan suara pelan. Sang ayah mengangguk.
Ambar menghela nafas panjang. Kemudian tersenyum lebar kepada ayah membuat ayah ikut tersenyum bahagia. "Nah, kamu cantik jika tersenyum. Kalau cuek jadi jelek."
Ambar menggelengkan kepala. Dia memberikan sepiring nasi kepada ayah. "Ikut makan sekalian sini," ajak sang ayah.
"Enggak, Yah. Ambar sudah makan ini."
"Makan mie saja mana kenyang. Ayo makan lagi! Badanmu itu harus dirawat. Jangan telat makan, jangan menunda makan. Lihat makin kurus saja." Ambar mengangguk. Dia hanya duduk saja di samping sang ayah sambil memainkan ponsel.
Ayah menggelengkan kepala. Percuma memberitahu anaknya jika susah diberi tahu. "Ayah tadi kemana?" tanya Ambar memberanikan diri untuk bertanya.
"Ke rumah teman ayah," jawab ayah.
Ambar terdiam. Mana yang benar, perkataan Haikal atau ayah. "Untuk apa pagi-pagi ke rumah teman? Ambar nyariin ayah lho tadi."
'Teman ayah sedang sakit, di rumah sendirian. Jadi, minta bantuan ayah."
Ambar mengangguk saja. Dia memilih tidak bertanya lagi. Hanya saja jika perkataan Haikal benar adanya, untuk apa ayah berbohong. Ayah sedang menyembunyikan apa? Dia tak mengerti dan sulit memahami ini semua.
Pesan masuk dia dapatkan dari Haikal tadi pun dia baca ulang. Sebuah alamat rumah sakit jiwa. Dia akan menelusurinya hari ini. Namun, dia juga tak bisa bebas masuk ke sana jika bukan karena sebuah alasan yang logis. Mau menjenguk siapa dia? Lebih baik dia menunggu ayah ke sana lagi. Namun, kapan ayah ke sana lagi?