17-Bab 17

1020 Kata
Ambar memberanikan diri masuk ke dalam gudang. Ayahnya sedang berada di halaman belakang, memberi makanan ikan lele. Menutup pintunya, untung saja dia memakai masker double. Sungguh banyak debu di sana. Jika tidak pasti dia akan bersin-bersin terus yang akan menimbulkan kecurigaan pada ayah. Menatap sekeliling, dia berharap tidak ada hewan-hewan seperti tikus, kecoa, dan sarang ular karena melihat kotornya gudang ini. Dengan penuh keberanian, Ambar berjalan ke sana kemari. Hingga sebuah kardus terbuka, di bagian paling atas terdapat foto pernikahan ayah dengan almarhumah ibu tirinya. Dia membukanya satu-persatu. Ada buku nikah juga di sana. Hal ini yang cukup membingungkan. Kenapa ayah justru menyimpannya di gudang. Bagaimana jika dimakan rayap? Bagaimana jika rusak? Bukankah ini termasuk dokumen penting? Ambar hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri. Sekali lagi, dia melihat sekelilingnya. Banyak kardus, dan dia bingung. Tak mungkin membukanya satu-persatu. Ambar memutuskan ke luar gudang. Lebih baik lain kali dia ke gudang lagi. Daripada menimbulkan kecurigaan. Melepas masker, mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Tidak ada yang membersihkan gudang, hal ini tak bisa dibiarkan. "Ambar," panggil Ayah yang sedang berjalan menuju Ambar. Ambar menghela nafas panjang. Kemudian, dia berbalik sembari menyembunyikan masker di bajunya. "Iya, Yah?" "Tolong panggilkan Pak Dedi membersihkan halaman belakang. Banyak rumput-rumput kecil di sana." Ambar mengangguk. Dia pun berjalan ke luar rumah. Menuju rumah samping yang jaraknya dua rumah dari rumahnya. Rumah kosong tetapi mewah yang dijaga oleh Pak Dedi. "Pak Dedi," panggil Ambar. "Eh, Neng Ambar. Ada apa?" Pak Dedi kaget melihat Ambar memanggilnya. Tak biasanya, karena Ambar yang super sibuk sampai tidak pernah bertetangga. "Diminta Ayah untuk membersihkan halaman belakang, bisa?" Pak Dedi mengangguk. "Bisa Neng." Ambar berbalik menuju rumahnya. Saat langkah kakinya hendak masuk ke dalam rumah, dia mendengar ada suara seseorang yang sedang melakukan panggilan dengan seseorang di seberang sana yang tidak dia ketahui. Dirumahnya hanya ada dirinya dan Ayah. Dia memutuskan tidak masuk dan mendengarkan dari luar. Sepertinya Ayah sedang berada di ruang tamu. "Bagaimana bisa? Kamu kasih makan tidak?" Terdengar suara geraman amarah dari Ayah. "Baik, besok saya ke sana. Setelah anak saya pulang liburan." Ambar mengerutkan dahi bingung. Siapa yang dimaksud ayah tentang diberi makan. Sebenarnya siapa juga yang diajak ayah telfonan. Kemudian, dia memutuskan masuk ke dalam rumah. "Eh, Ambar. Mana Pak Dedi?" tanya Ayah sambil memasukkan ponselnya di saku celana. "Masih menutup pintu gerbang." Ayah mengangguk. Ambar memutuskan masuk ke dalam kamarnya. Dia akan menelfon Haikal dan meminta bantuannya lagi. Sesampainya di kamar, Ambar segera mencari ponselnya yang tadi dia letakkan di laci. Sudah dia dapat, dia cari nomor Haikal lalu dia klik tombol hijau. Suara serak khas Haikal menyambut indera pendengarannya. Ambar mengerutkan dahi, menatap dinding yang terdapat jam. "Baru bangun tidur?" tanya Ambar dengan kaget. "Iya, tadi malam begadang." Ambar mengangguk saja. Tak lagi bertanya. "Aku tadi sudah ke gudang mencari sesuatu, tetapi sepertinya aku tak bisa mencarinya sendiri. Banyak debu, isinya juga banyak. Kamu bisa bantu?" "Aku harus bilang apa?" tanya Haikal sambil menguap. "Ingin bertemu aku. Nanti saja jika Kak Arda dan Bang Galih sudah pulang liburan. Jika tidak akan membuat ayah curiga nanti." Haikal menyetujuinya. Dia juga cukup penasaran. "Oke, kabarin saja. Kamu masih libur kerja nih?" "Iya, ayah sendirian di rumah. Mana tega aku meninggalkannya sendirian." "Oke, ya sudah aku mau mandi dulu." Ambar mematikan sambungan telfonnya saat Haikal berkata ingin mandi. Ambar harap ada petunjuk di gudang tersebut. Dia tak mau mencurigai ayahnya, tetapi kenapa dia merasa ayahnya sedang menyembunyikan sesuatu. Sebenarnya ada apa? Dia masih bingung dengan ini semua. ****** Suara mobil dan ramai-ramai di halaman depan saat jam masih menunjukkan pukul 04:00 pagi membuat Ambar kesal. Dia beranjak dari kasur yang nyaman menuju pintu utama. Rupanya Galih dan Arda yang sampai di rumah dengan bawaan yang cukup banyak. "Mau pindahan?" sindir Ambar sambil menyedekapkan kedua tangannya layaknya bos. Wajah datarnya membuat Galih terkekeh pelan. "Kenapa sih cemberut mulu adik abang ini?" Galih berjalan menuju Ambar dan memeluknya. "Tuh bantuin kakak iparmu membawa oleh-oleh buat kamu," suruh Galih kepada Ambar yang dijawab anggukan walaupun rasanya malas. "Lama banget liburannya," gerutu Ambar. Arda tertawa mendengarnya. "Gak ada sebulan lho." "Tetap aja lama, libur kerja ada berapa hari ini." "Iya-iya, yuk masuk. Tetangga pada tidur. Nanti ganggu lho," tegur Galih sambil membawa dua koper berisi baju. Ambar mengangguk. Dia membawa seplastik besar entah berisi apa. Arda juga membawa seplastik besar dengan sling bagnya. Entah kenapa bawaan mereka banyak-banyak. Ambar cukup heran melihatnya. Buat apa sebanyak ini? Membuang-buang uang saja. "Banyak banget sih, buat siapa aja nih," ujar Ambar. Galih merebahkan tubuhnya di sofa. Arda membongkar seplastik besar berisi oleh-oleh. Ambar hanya melongo melihatnya. Isinya banyak sekali jajanan ringan. "Buat siapa aja itu?" "Buat kamulah, supaya semangat dalam kerjanya. Gak ada galau-galauan," ujar Arda dengan senyuman manis. Ambar memutar bola mata malas. Bagaimana bisa dia galau kalau kekasih saja tidak punya. Bagaimana bisa kakak iparnya berkata seperti itu. Dia melihat Galih yang sudah memejamkan kedua mata. "Kalau tidur di kamar, Bang. Bukan di sofa." Arda langsung menoleh ke arah suaminya. "Mas, ke kamar sana. Ntar aku nyusul." Galih mengangguk saja. Dia melangkahkan kaki menuju kamarnya. Rasanya tubuh sudah lelah dan ingin segera menikmati nyamannya kasur dan guling. Tetapi semenjak menikah, guling kesayangannya adalah Arda. Memeluk sepanjang hari tiada bosan. "Nanti bagi-bagi ke tetangga juga. Kamu bantuin ya." Ambar mengangguk. Dia melihat koper yang hendak dibuka Arda. Rupanya banyak sekali baju yang dibeli. Mulai dari daster, kaos, dan gamis. Dia menggelengkan kepala, seperti melihat pasar pindah ke rumahnya saja. "Ini ada gelang rajut yang bagus, kamu suka 'kan. Kakak belikan," ujar Arda lagi. Wanita itu tampaknya tak kenal lelah. Jam segini masih mau memperlihatkan oleh-oleh yang dibawanya. Ambar saja sudah menguap beberapa kali. Menahan mata yang hendak menutup. Memaksanya untuk kembali tidur. "Ya udah kamu tidur saja, maafin kakak ya Ambar," ujar Arda yang paham situasi. "Tidak apa-apa, Kak. Justru Ambar yang meminta maaf. Kakak tidur sana." "Ntar kakak beresin dulu, nanti tikus bawa kemana-mana." Ambar mengerutkan dahi. Mana ada tikus di rumahnya yang bersih ini. Arda memang ada-ada saja. Kemudian dia memilih untuk menuju kamarnya saja karena merasa sudah tak kuat. Kedua matanya terasa semakin memberat. Dia seperti tidur sambil berjalan. Membiarkan Arda dengan kegiatannya tanpa membantu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN