18-bab 18

1013 Kata
"Ibu membesarkanmu dengan penuh pengorbanan dan kasih sayang. Ayah membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Bekerja demi memenuhi kebutuhanmu. Ambar, apa kamu mencurigai sesuatu?" tanya Galih kepada Ambar. Dia mengajak Ambar berbicara di halaman belakang. Sepi, Arda sedang disibukkan dengan kegiatan memasak. Sedangkan, Ayah pergi ke rumah temannya. Sikap kehati-hatian Ambar saat memasuki gudang membuat Galih mengikutinya diam-diam. "Itu karena Bang Galih tidak menunjukkan foto ibu kepadaku," tutur Ambar dengan tegas. "Apa susahnya sih memberikan foto ibu padaku? Apa aku sebagai anak tidak berhak melihat wajah ibu kandungku?" Galih terdiam mendengar perkataan Ambar. Dia pikir Ambar tak lagi menanyakan hal tersebut. "Kenapa kamu tiba-tiba meminta foto ibu?" "Aku sebagai anak, tentu punya keinginan untuk melihat foto ibu. Lihat mereka, yang ditinggalkan ibunya setelah melahirkan, tetapi mereka masih bisa melihat foto ibunya. Ambar sudah umur berapa sih, Bang? Justru, Ambar yang seharusnya bertanya. Kenapa Abang seperti menyembunyikan sesuatu," ujar Ambar terkesan menuduh. Galih yang baru pulang liburan, dalam keadaan lelah pun mencoba menahan amarahnya. Menurutnya adiknya kini menjadi pembangkang, dan dia tak suka. "Kamu mencurigai abangmu sendiri?" "Lalu aku harus bagaimana Bang? Hanya minta selembar foto saja tidak diberi. Mau bertanya sama ayah pun dilarang. Katanya ayah sedih. Lalu, bagaimana denganku? Apa aku tidak sedih sudah bertahun-tahun tidak melihat wajah ibu. Apa bisa aku hanya mendo'akan, merindukan tanpa bisa melihat wajahnya? Apa bisa?" Ambar berkata dengan penuh emosi. Wajah datarnya tiba-tiba hilang entah kemana. Kedua matanya sudah berair seperti menahan tangis. Galih tak tega melihatnya. Akan tetapi, dia juga tak punya foto ibu kandungnya. Hanya ayah yang memilikinya, tetapi entah dimana meletakkan foto tersebut. Galih hendak mendekati Ambar, ingin memeluknya. Namun, langkah Ambar lebih cepat. Ambar memilih pergi meninggalkan abangnya menuju kamarnya. Menguncinya dari dalam dan menumpahkan tangisannya. Hingga suara ponselnya berbunyi membuat Ambar mengalihkan pandangan. Masih ada sisa-sisa air mata yang menempel di wajahnya. "Halo," sapa Ambar dengan suara serak. Tangannya mengusap air mata yang berjatuhan di kedua pipinya. "Ada apa dengan kamu Ambar?" tanya Haikal dengan panik. Dia khawatir akan keadaan Ambar. Tak biasanya begitu. "Tidak apa-apa," jawab Ambar. "Nanti sore aku jadi ke rumahmu?" "Enggak usah, kita akhiri saja sampai sini." Haikal mengerutkan dahi bingung. "Bagaimana Ambar? Apa maksudnya?" "Kita akhiri saja sampai sini. Aku tak akan lagi mencari keberadaan wnaita paruh baya itu. Aku benar-benar tak akan mencarinya lagi." "Hei, Ambar. Kenapa kamu menyerah semudah itu? Ada apa sebenarnya?" Ambar kembali menangis. Dia tak kuasa menahan tangisannya. Suara tangisan pertama yang Haikal dengar selama mengenal Ambar. Haikal memilih diam mendengarkan. Sepertinya perasaan Ambar kurang baik. Seseorang yang sedang sedih hanya butuh ketenangan, dan motivasi. Haikal hanya bisa menghibur seadanya. Masih di awal perjalanan, tetapi Ambar sudah menyerah. Dia tak menyangka semangatnya bisa musnah dalam sekejap. Berbagai informasi terbaru yang harus ditelusuri pun tak boleh dibiarkan saja. Termasuk alamat rumah sakit jiwa itu. Ambar ketiduran saat akan mengikuti kepergian ayahnya waktu itu. Haikal hanya merasa aneh saja. Sepertinya ada seseorang yang mengetahui kegiatan Ambar dan tidak ingin Ambar mengetahui kebenarannya. Entah kebenaran apa yang disembunyikan. Yang pastinya seperti konspirasi besar dan tak mau Ambar tahu kebenaran itu. Jika Ambar sudah merencanakan, tak mungkin Ambar bisa ketiduran begitu saja. Kemungkinannya hanya satu, Ambar diberi obat tidur. Haikal tidak mau suudzon tetapi berbagai persepsi muncul dikepalanya. "Haikal, kita hentikan saja sampai sini. Aku mau foku dengan urusan restoran. Kamu fokus saja sama pekerjaanmu juga," ujar Ambar setelah reda dengan tangisannya. "Pasti ada sesuatu yang terjadi. Kamu bisa ceritakan?" tanya Haikal dengan pelan. Ambar menarik nafas sebanyak-banyaknya. Dia mengambil tisu. Ada sesuatu yang jatuh di hidungnya. "Tadi saat ke gudang, dan mencoba mencarinya sendiri. Bang Galih mengetahuinya, dan akhirnya tidak memberikanku izin masuk gudang lagi. Justru menguncinya." "Kenapa Bang Galih tidak mengizinkanmu masuk lagi?" "Karena banyak debu. Tetapi, Bang Galih melihat gerak-gerikku sehingga dia tahu apa yang hendak kulakukan." Haikal menghela nafas panjang. Hanya satu informasi yang perlu dibuktikan sekarang. "Kita hentikan saja, ya." "Tidak, aku akan terus membantumu. Jangan kamu hentikan. Kita bisa Ambar. Kita pasti bisa menemukan petunjuk lainnya. Kamu jangan menyerah dulu, kita pasti bisa, oke?" Ambar menenggelamkan kepalanya di bantal. Menempelkan ponsel di telinga kanannya. "Aku gak tahu harus bagaimana lagi, Haikal. Informasi yang kamu dapatkan hanya alamat rumah sakit jiwa itu. Bagaimana kita bisa memasukinya dengan mudah?" Haikal terdiam. Perkataan Ambar ada benarnya. Dia mencoba mencari ide di kepalanya. "Ah, aku ingat. Kita bisa ke sana. Temanku pernah bercerita bahwa salah satu saudaranya ada di sana. Kita bisa meminta bantuannya supaya bisa masuk ke sana dengan mudah." "Seperti menjenguk begitu maksudmu?" "Iya, kamu harus tetap semangat Ambar. Apa kamu tidak merasa ada kejanggalan di sini," ujar Haikal. "Kejanggalan apa?" tanya Ambar dengan polos. Haikal mengerti. Ambar tak mungkin bisa mencurigai keluarganya. Terlebih ayahnya sendiri. Lebih baik Haikal simpan saja kecurigaannya sendiri. Sampai bom waktu yang tepat mengemukakan semuanya. Entah bagaimana hal ini bisa terjadi. Secara kebetulan juga rumit. Arda juga selalu bertanya padanya perkembangan Ambar. Dia memang mulai menaruh hati pada adik ipar Arda itu. Wanita yang kuat dan tegas. Bukan w**************n yang menerima semua lelaki. Ambar seringkali menolak lelaki, bahkan sebelum sempat mendekatinya. Ambar wanita istimewa dan unik yang bisa didekati dengan persoalan bisnis. Wanita mandiri yang hebat, siapa yang tidak menyukai Ambar? Namun, Haikal tidak tahu bagaimana perasaan Ambar padanya. "Tidak, Ambar," ujar Haikal. Dia menahan nafasnya sejenak. Sebelum mengeluarkannya secara perlahan. "Ya sudah, kututip telfonnya. Sepertinya ada yang memanggil," kata Ambar. "Oke, kita lanjut lewat pesan saja." Ambar mematikan sambungan telfon tanpa mengiyakan perkataan Haikal. Dia berjalan mendekati pintu dengan pelan. Mencoba mendengarkan siapa yang ada dibalik pintu. Rupanya Arda yang sedang mengetuk pintu mengajaknya untuk makan bersama. "Ambar, ayo makan! Ada ayah sama Bang Galih juga tuh," seru Arda entah yang keberapa kali. Ambar hanya diam. Dia memutuskan menuju ranjangnya. Melanjutkan untuk rebahan. Lagipula kedua matanya masih tampak terlihat menangis. Dia harus menjawab apa nanti? Dia juga tak mau bertemu dengan Galih sementara waktu. Dia sudah lelah dengan semuanya. "Ambar." Arda masih mengetuk. Namun, keheningan yang didapatkan membuat Arda pergi menuju ruang makan dengan kecewa. Dia berpikir mungkin Ambar memilih tidur lagi. Ambar menghela nafas panjang. Menatap langit-langit kamarnya dengan kecewa. "Kenapa semuanya terasa rumit?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN