19-Bab 19

1034 Kata
Malam ini udara sangat dingin sekali. Bintang-bintang bersinar dengan cedahnya menemani bulan. Halaman belakang rumah yang kini bersih dari rumput liar pun tampak lebih indah. Menikmati udara malam sambil makan pisang goreng dan jus mangga adalah hal yang menenangkan. Ambar butuh liburan, tetapi saat ini dia belum bisa. Ingatan tentang wanita paruh baya itu yang memohon padanya untuk percaya. Bagaimana wanita paruh baya itu memintanya untuk memeluknya. Sesakit itu ketuka mengingatnya. Kepedihan yang dia ingat saat di rumah kecilnya itu. "Ambar," panggil Galih berjalan mendekati Ambar yang sendirian mendongak menatap langit. Duduk di samping Ambar. "Maaf," ujar Galih sambil menghela nafas panjang. "Maafkan kesalahan Abang. Abang gak ada maksud bilang gitu sama kamu. Abang hanya merasa sikap kamu akhir-akhir ini berubah. Seperti ada yang mengganggumu, tetapi kamu menyembunyikannya." Ambar masih diam saja. Wajah cantiknya semakin cantik terkena cahaya lampu. Galih menatap Ambar yang masih mendiamkannya. Dia tak bisa didiamkan oleh adiknya. Dia rindu Ambar yang memeluknya dan selalu menceritakan kesehariannya. "Ambar," panggil Galih lagi. "Abang bisa pergi dulu? Ambar ingin sendirian," usir Ambar tanpa menoleh ke arah Galih. Baru kali ini pertengkaran yang saling mendiamkan. Galih tak menyangka Ambar semarah itu padanya. "Oke, maafkan abangmu ini ya," ujar Galih sekali lagi lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan Ambar sendirian. Sunyi. Itulah yang Ambar rasakan lagi. Dia mengambil pisang goreng dan dimakannya dengan pelan. Tak takut dalam sendiri walaupun di dalam kesendirian itu pasti ada makhluk halus yang bisa melihatnya kapan saja. Suara dering ponsel membuat Ambar mengalihkan perhatian. Dia mengambil ponsel yang ada disampingnya. Banyak sekali pesan masuk dari Haikal dan dia belum sempat membacanya. Wajah galaunya kini benar-benar tampak. Dia merasa kesal kepada Galih yang seakan menuduhnya telah mencurigai ayah. Dia menekan tomnol hijau. Hingga terdengar suara serak khas Haikal. "Ada apa?" tanya Ambar dengan suara pelan. Dia tahu Galih tidak benar-benar pergi. Hanya memandangnya dari kejauhan. Galih menghela nafas kasar saat memandangnya dari kejauhan. Dia benar-benar tak pergi. Melihat adiknya yang sendirian di luar membuatnya khawatir. Udara dingin bisa membuat Ambar masuk angin. "Aku sudah bilang sama temanku. Besok kita bisa ke rumah sakit jiwa itu." Ambar tersenyum. "Oke, sesuai rencana. Aku akan bilang liburan untuk beberapa hari." "Iya, kita memang akan liburan berdua," ujar Haikal sambil terkekeh. "Ya sudah, ku tutup telfonnya. Sorry belum sempat baca pesanmu." Ambar merasa bersalah mengabaikan Haikal. Padahal lelaki itu sudah banyak membantunya dalam mencari kebenaran ini. Dia berharap Haikal mengerti. "Iya, gak papa. Cuman hanya merindukan saja jika kamu tak membalasnya." Haikal menggombali Ambar membuat Ambar berdecak kesal. "Kamu sedang dimana ini?" "Di luar rumah," jawab Ambar. "Wah, jomlo di luar rumah sendirian. Boleh kutemani?" Ambar langsung mematikan sambungan telfon. Muak dengan rayuan Haikal. Diseberang sana, Haikal mengumpat pelan. Merasa sudah cukup lama di luar, Ambar memutuskan masuk ke dalam rumah. Dia agak kerepotan membawanya. ****** Arda melihat bagaimana tatapan Galih kepada Ambar. Tampak sendu. Dia memegang bahu suaminya. Galih memutuskan masuk ke dalam kamar, Arda mengikuti dibelakangnya. "Ada apa Mas?" Galih menghela nafas panjang. Dia menundukkan kepala. Menyesal telah melontarkan kalimat itu kepada Ambar. "Kamu marahan sama Ambar?" tanya Arda menebak. Galih menganggukkan kepala pelan. "Bagaimana bisa?" "Aku memarahinya, Sayang." Arda menghela nafas lelah. "Tidak seharusnya kamu memarahinya. Kamu bisa berbicara baik-baik." "Iya, sekarang Ambar menjauhiku. Ambar tidak mau mendengarkan perkataanku lagi." Galih merasa sedih dicuekin Ambar. "Besok coba aku bilang ke Ambar. Kamu sudah meminta maaf?" "Sudah, Ambar tidak mau mendengarnya. Aku sedih melihat adikku mengabaikanku. Kita dari kecil bersama-sama dalam suka maupun duka. Kini, Ambar sudah dewasa dan dia bisa mengekspresikan dirinya dan bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Dia tak lagi membutuhkan kita." "Mas, semua orang pasti membutuhkan orang lain juga. Kita tak bisa menyelesaikannya sendiri, itulah pentingnya bertetangga." Galih menghela nafas panjang. "Tetapi, Ambar tidak. Dia seakan menyembunyikan sesuatu padaku. Dia tak mempercayaiku lagi sebagai abangnya. Dia benar-benar tertutup. Entah apa yang sedang Ambar sembunyikan dari kita." "Sebenarnya ada apa?" "Aku memarahinya saat dia masuk ke dalam gudang hanya untuk mencari foto almarhumah ibu. Sebelumnya memang Ambar marah padaku yang tidak memberikan foto almarhumah ibu padanya. Kamu juga tahu 'kan kalau aku tidak memiliki foto ibu sama sekali." "Kenapa tidak bertanya sama ayah saja?" "Mas tidak mau membuat ayah sedih karena mengingat ibu. Ayah sangat mencintai ibu." Arda mengangguk mengerti. Dia memeluk Galih dari samping. Mengusap bahunya lembut, berusaha menenangkan supaya Galih bisa bersabar lagi. Marahnya Ambar tidak akan lama. Terlebih Galih adalah abangnya sendiri. Mana bisa Ambar marah lama-lama kepada Galih. Ambar sangat menyayangi Galih. "Mas jangan terlalu memikirkannya, oke?" Galih mengangguk. "Aku akan mencoba bersabar lagi. Aku akan berbicara dengan Ambar besok lagi." Arda mengangguk. Dia mengulas senyuman manis. Begitulah pasangan, komunikasi itu penting.  Arda yang ingin membuat kakak beradik itu kembali baikan pun memutuskan menghampiri Ambar. Dilihatnya adik iparnya yang duduk sambil menatap ponsel. Entah apa yang dicarinya. Tatapan melamun, ponsel dibolak-balikkan.  "Ambar," panggil Arda membuat Ambar menoleh dan mengerjapkan kedua matanya. "Kamu kenapa?" "Tidak apa-apa." Ambar memalingkan muka. "Kamu kalau sedang ada masalah bisa cerita sama kakak. Jangan dipendam sendirian, itu bikin sakit hati." Ambar mengangguk saja. Dia tak tahu harus menanggapi apa lagi. Mengerti maksud dan makna point yang hendak dibicarakan oleh kakak iparnya itu. "Kakak ingin cerita. Ada dua sepasang merpati. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama dalam suka maupun duka. Namun, saat dia bersedih, yang satu datang menghibur. Tak akan membiarkan lainnya bersedih. Suatu hari, salah satu merpati itu terluka. Merpati lainnya bersedih. Ingin menyembukan luka si temannya." Ambar terdiam mendengarnya. "Mereka terikat satu sama lainnya karena mereka menganggap kebersamaan itu sangat berarti. Ambar, kakak tahu apa yang kamu rasakan. Tetapi, jangan sampai kemarahan itu berlangsung lama ya. Kakak yakin, kecewamu akan berganti bahagia. Jangan hanya karena satu kekecewaan maka kamu akan memutuskan untuk terus berlarut dalam kemarahan. Maafkan dsn ikhlaskan sehingga kecewamu akan berganti bahagia. Percaya ya. Ya sudah kakak mau ke kamar dulu. Kakak bukannya menghakimi, kakak begini karena sayang sama kamu. Kamu sudah kakak anggap sebagai adik kandung kakak sendiri. Jangan pernah sungkan untuk berbagi cerita. Walau kakak adalah istri dari abangmu. Bukan berarti kakak harus membocorkan rahasiamu ke abangmu." Ambar terdiam. Menghela nafas panjang. Rasanya memang benar yang dikatakan kakak iparnya. Namun, rasa kecewa selamanya tak akan bisa dia hilangkan jika kebenaran itu sudah terungkap. Dia membutuhkan kepastian, bukan yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN