20-Bab 20

1007 Kata
Sebaik-baik menyembunyikan kebohongan, kebenaran tetaplah yang akan menang. Kebohongan tak selamanya akan menang, kebohongan akan kalah dengan kemenangan. Lagi-lagi, kepergian Ambar di pagi hari ini membuat Galih curiga. Namun, sebelumnya Ambar bilang ingin liburan bersama temannya. Sekedar memfreshkan pikiran. Terlebih pekerjaannya yang sibuk sekali. Dia juga butuh udara segar. Akhirnya, ayah mengizinkan. Ambar memutuskan tidak membawa mobilnya, dia memesan taksi. Meminta taksi menurunkannya di sebuah jalan yang tak jauh dari rumah Haikal. "Terima kasih, Pak," ujar Ambar setelah supir taksi membantunya menurunkan koper. Taksi pun melaju meninggalkannya sendirian. Dia melihat ke kanan-kiri, kendaraan lumayan rame walaupun masih cukup pagi. Mungkin karena hari libur dan banyak orang-orang yang semangat untuk berlibur. Suara deru mobil mendekatinya. Ambar langsung masuk, dia meminta pengemudi mobil itu yang tak lain Haikal untuk membawa kopernya di bagasi mobil. Setelah selesai dengan tugasnya, Haikal masuk menatap Ambar sekilas. "Bagaimana?" "Siap, semoga dapat petunjuk." "Kamu tidak perlu mencurigai, kamu hanya berpikir bahwa ingin menjenguk seseorang yang ayahmu jenguk." Ambar mengangguk. Haikal mulai mengemudikan mobil menuju rumah sakit jiwa. Dia mengemudikannya dengan kecepatan sedang. Haikal senang saat dia makin akrab dengan Ambar. "Sudah makan?" tanya Haikal tanpa menatap Ambar. Ambar menggelengkan kepala. "Belum." "Kita cari makanan dulu, ya." "Tidak perlu, kita langsung ke rumah sakit jiwa dulu," suruh Ambar sambik memandang pemandangan lewat kaca mobil. "Mana ada orang menjenguk jam segini? Kita cari makan dulu!" Ambar mau tak mau mengangguk. Walau dia merasa perasaannya sedang tak enak. Entah apa yang membuat perasaannya begitu. Dia merasa ada sesuatu yang terjadi. Dia memegang dadaanya yang terasa cenat-cenut. Haikal mengemudikan mobil menuju tempat makan yang sudah buka jam segini. Hingga kedua matanya melihat sebuah warung makan di pinggir jalan. Haikal ingin membelokkan mobilnya ke sana, tetapi dia ingat membawa Ambar yang ikut bersamanya. Mana mau Ambar makan di sana. Dia memutuskan melewatinya begitu saja. "Tadi ada warung buka, kenapa tidak ke sana?" tanya Ambar sambil melirik Haikal. Haikal menggerutu pelan. Dia salah sangka akan persepsinya. Rupanya memang Ambar bukanlah wanita-wanita yang sering dia jumpai. Maunya makan di cafe dan restoran, tak mau makan di warung pinggir jalan. "Eh iya, udah terlanjur. Kita cari yang lain," ujar Haikal dengan senyuman tipis. Ambar mengangguk. Merasa bosan, Ambar membuka ponselnya. Menjelajahi aplikasi berwarna ungu keorangean. "Gak kerasa ya udah tiga sebulan kita bersama." Ambar mengerutkan keningnya. "Tiga bulan?" Haikal mengangguk. Dia merasa sudah bertemu lama dengan Ambar. Hanya saja wanita itu yang cuek membuatnya butuh perjuangan untuk mendekatinya. Dia juga sempat melihat Ambar dari kejauhan sebelum pada akhirnya memberanikan diri untuk mendekat. "Sebulan kali. Tetapi, thanks ya udah bantu aku sejauh ini. Rupanya memang gak gampang. Dan, dengan bodohnya aku memutuskan mencarinya sendiri." "Hei, jangan menganggapmu bodoh. Kamu itu pengusaha muda, punya restoran, bodoh darimananya," tegur Haikal. Dia tak suka Ambar merendah. Ambar terkekeh pelan membuat Haikal terkejut. Entah dimana sikap Ambar yang dingin itu. "Kamu kesurupan?" Haikal membungkam bibirnya dengan tangan kirinya. Lalu kembali mengemudikan mobil dengan dua tangan. Dia tak mau mengambil resiko. "Enggak, aku cuman heran saja kenapa orang menganggapku dingin? Padahal biasa saja 'kan." Haikal berdecak kesal. "Kamu ini dingin sekali sampai aku berpikir kamu ini manusia es batu. Gak pernah tersenyum. Mau marah sekalipun gak ada ekspresi, cuman tajam banget matanya. Bikin orang-orang merinding seketika." Ambar mengangguk mengerti. "Ya mau gimana lagi. Inilah aku, aku bisa melewatinya dengan baik." Haikal mengangguk mengerti. "Kamu bisa melewatinya dengan baik. Kamu kuat." Ambar menoleh dan dia menemukan sebuah warung yang buka. Dia meminta Haikal membelokkan mobilnya ke sana. Daripada mencari ke sana-sini tetapi tidak bertemu juga. Sedangkan, waktu terus berputar. Harus segera ke rumah sakit jiwa. Ambar dan Haikal turun masuk ke warung. "Kamu mau pesan apa?" "Samain aja deh," ujar Haikal lalu mencari duduk. Ambar mengangguk. Dia berjalan menuju penjual. "Bu, saya pesan nasi kuning dan ayam gorengnya sama telur. Es teh dua ya, Bu," ujar Ambar menyebutkan pesanannya. Penjual tersebut mengangguk. Ambar memilih duduk di depan Haikal. "Masih jauh menuju rumah sakit?" "Enggak juga," jawab Haikal sambil melihat jam dipergelangan tangannya. "Temanku juga belum datang sih." Ambar mengangguk. Dia tak sabar menuju rumah sakit jiwa dan melihat siapa yang ayahnya jenguk. Rasa penasarannya sungguh tinggi. Sebenarnya ada apa dengan ayahnya. Dia bukannya curiga, hanya merasa ayahnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya dan Galih. Terlebih sampai sekarang dia tak dapat kabar dari wanita paruh baya itu. "Ambar," panggil Haikal saat melihat Ambar melamun. Ambar mengerjapkan kedua matanya. Rupanya makanan sudah ada di meja. "Makan tuh, habisin!" tunjuk Haikal dengan lirikan mata. Ambar mulai menyantap makanannya setelah berdo'a. Dia lalu memutuskan untuk makan dengan tenang. Tidak ada pembicaraan sama sekali dengan Haikal. Hingga makanan Haikal sudah habis. Ambar sisa sedikit. "Eh, mau kemana?" tanya Ambar saat Haikal berdiri. "Bayar," jawab Haikal. Ambar menggelengkan kepala. "Biar aku saja." "Eh, mana bisa. Biar aku saja," ujar Haikal. "Aku, Haikal. Biar aku yang bayar!" Ambar meminta Haikal untuk langsung ke mobil saja. Namun, Haikal menolak. Keduanya berebutan ingin membayar membuat sang penjual bingung seketika. "Lihat tuh penjualnya sampai pusing lihat kita. Udah deh, aku saja yang bayar. Kamu duduk dengan tenang di mobil," ujar Ambar. "Gak bisa, gengsi dong lihat cewek bayarin makanan cowoknya." Haikal tak mau mengalah. "Aku mau traktir kamu." "Aku juga mau traktir kamu," ujar Haikal lagi. Ambar menghela nafas panjang. Haikal benar-benar keras kepala. "Kamu saja ke mobil. Waktu," ujar Haikal lagi. Ambar mengangguk saja. Dia memutuskan ke mobil dan membiarkan Haikal yang membayarnya. Dia masuk ke mobil dengan wajah tertekuk. Haikal dan gengsinya. Memangnya kenapa jika wanita membayar makanan lelaki? Bukankah seharusnya lelaki senang? Haikal justru aneh, tidak mau jika dibayarkan oleh wanita. Beberapa temannya pun justru senang jika dibayarkan oleh wanitanya. Ambar menarik nafas sebanyak-banyaknya. Dia tak boleh emosi. Tak lama Haikal masuk dan mulai mengemudikan mobil menuju rumah sakit jiwa. "Terima kasih," ujar Ambar sambil bersedekap dadaa. Haikal mengangguk. Dia menambah kecepatan mobilnya. Lebih baik menunggu temannya di sekitaran rumah sakit jiwa. Dia belum membuka ponselnya lagi. "Temanmu sudah datang belum?" "Belum," jawab Haikal. Ambar mengangguk. Seketika mobil menjadi hening. Ambar memilih diam sambil memikirkan kejadian beberapa waktu lalu dan Haikal yang fokus mengemudikan mobil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN