Setelah kekecewaan yang Ambar dapatkan karena pasien yang ada di rumah sakit jiwa yang ayahnya datangi pun sudah pindah. Tidak ada yang tahu atau mungkin ada yang ingin menyembunyikan. Haikal masih memperkuat argumennya bahwa ayah dari Ambar sendirilah yang telah memindahkan pasien tersebut karena mengetahui anaknya mulai curiga. Haikal masih saja berbicara tanpa mengetahu raut wajah Ambar yang frustasi.
"CUKUP!" Ambar tak kuat mendengar perkataan Haikal yang tidak-tidak pada ayahnya. Dia berargumen pastilah orang lain yang melakukannya. Mungkin saja pasien itu salah satu anggota teman ayahnya yang mana mungkin keluarganya memutuskan untuk merawatnya di rumah saja.
Haikal terdiam mendengar bentakan Ambar. Dia tahu wanita itu pasti merasa emosi. Namun, bagi Haikal, Ambar terlalu sayang kepada ayahnya hingga buta pada bebera kejanggalan ini. Dia yakin ayah dari Ambar mengetahui perilaku Ambar belakangan ini.
"Cukup, Haikal. Jangan kamu mengatakan seolah-olah ayahku itu penjahat! Ayahku tidak mungkin melakukan hal seburuk itu. Ayahku sangat menyayangi dan mencintaiku. Ayah juga sangat mencintai almarhumah ibu kandungku, daripada almarhumah ibu tiriku."
"Kamu benar-benar buta, Ambar," sahut Haikal berkomentar. Dia tak tahan untuk tidak mengungkapkannya.
"Buta? Iya, aku memang buta. Selama ini mempercayaimu karena kamu temanku. Aku percaya kamu tidak akan menyakitiku dan membantuku dengan tulus. Tetapi, apa ini? Kamu menuduh ayahku yang tidak-tidak," ujar Ambar dengan marah.
"Coba deh Ambar, kamu datang ke rumah wanita paruh baya sebelumnya lancar dan tidak ada halangan. Lalu, kenapa keesokannya kamu datang justru ada pemabuk di tengah jalan? Dan, kamu memutuskan pergi. Saat kamu kembali lagi ke sana, pemabuk itu sudah tak ada. Namun, kamu tak mendapatkan keberadaan wanita paruh baya itu. Mana ada kebetulan ini. Pasti disengaja oleh orang lain yang tahu bahwa wanita paruh baya itu menyimpan rahasia besar yang mana jika bertemu denganmu semuanya akan terungkap dengan jelas," jelas Haikal mencoba menyadarkan Ambar.
"Tetapi, kamu menuduh ayahku. Aku tidak suka mendengarnya. Ayahku orang baik, Haikal." Dadaa Ambar bergemuruh. Dia sangat marah. Tak terima jika ayahnya dituduh yang tidak-tidak.
"Coba kamu kaitkan beberapa kejanggalan ini. Siapa lagi pelakunya jika bukan ayahmu. Pasti ada suatu masalah yang dirahasikan ayahmu kepadamu bahkan keluargamu."
Ambar menaikkan kedua tangannya. "Sudah cukup, Haikal! CUKUP!"
Haikal memilih diam. Biarkan Ambar berpikir lebih logis. Dia tak menuduh, tetapi mengkaitkan beberapa kejadian. Cinta Ambar kepada ayahnya sungguh membutakan Ambar kepada fakta yang telah terjadi.
"Antarkan aku ke hotel," pinta Ambar.
"Kenapa? Kita mau liburan," ujar Haikal mengingatkan.
"Bisa kamu bilang begitu setelah kamu menyakitiku?"
Haikal tergeragap. Ambar sangat marah padanya. Dia lebih baik mengalah untuk saat ini. Sampai dia mencari bukti untuk mengungkapkan bahwa apa yang dia katakan memang benar dan Ambar telah salah mempercayai ayahnya sendiri.
"Aku rasa sudah cukup sampai di sini kamu membantuku, Haikal."
Kedua mata Haikal melotot. Dia tak suka mendengarnya. "Kenapa?"
"Kamu cari kesalahanmu sendiri," ujar Ambar tanpa menatap Haikal.
"Kamu marah karena aku menuduh ayahmu? Oke, aku gak akan melakukan hal itu lagi. Aku akan tetap membantumu hingga menemukan wanita yang kamu cari."
Ambar menggelengkan kepala pelan. "Enggak, lebih baik kita selesai sampai di sini. Kamu gak perlu membantuku lagi. Aku bisa mencarinya sendiri."
"Ambar." Haikal menggelengkan kepala tak suka. Dia sudah nyaman kemana-mana bersama Ambar. Kenapa Ambar begitu mudah mengatakannya? Apa Ambar tidak merasakan perasaan lain saat bersamanya? Apa hanya dia yang memiliki rasa lain itu tetapi tidak dengan Ambar.
"Antarkan aku ke hotel!" pinta Ambar tak terbantahkan. Haikal menghela nafas panjang. Mau tak mau dia mengangguk. Mungkin memang Ambar butuh waktu menyendiri untuk sementara. Dia akan menemui Ambar lagi ketika perasaan wanita itu sudah lebih baik lagi.
Mobil melaju meninggalkan rumah sakit jiwa. Ambar duduk dengan diam. Dia menatap pemandangan lewat kaca mobil. Begitupula dengan Haikal yang fokus mengemudi. Dia tak mau semakin merusak suasana hati Ambar.
Hingga mobil berhenti di sebuah hotel yang diinginkan oleh Ambar. Haikal membantu menurunkan koper dari bagasi. "Terima kasih," kata Ambar tanpa menatap Haikal.
Haikal menghela nafas panjang. "Biar kuantar ke dalam."
"Tidak perlu," tolak Ambar. Dia menarik kopernya tanpa menoleh ke belakang. Haikal mendesah dengan kecewa. Dia masuk ke dalam mobil. Menatap Ambar hingga punggung badannya sudah tak terlihat. Haikal mulai mengemudikan mobil meninggalkan halaman hotel.
Diperjalanan Haikal merenungi beberapa kejadian yang ada. Keadaannya yang sungguh tak baik setelah bertengkar dengan Ambar membuat hatinya jadi galau saja. Sungguh, dia sudah ada rasa dengan Ambar. Perasaan kagum menjadi suka dan sayang. Bukan tentang sefrekuensi tetapi tentang kenyamanan juga. Apakah salah memiliki rasa kepada temannya sendiri? Apa selama ini sikapnya kurang menunjukkam bahwa dia memiliki rasa kepada Ambar? Atau mungkin Ambar pura-pura tak tahu akan perasaannya. Begini cinta dalam diam. Sepertinya dia harus lebih serius lagi soal perasaannya. Tak mau sampai Ambar beranggapan bahwa dia hanya memainkan perasaan wanita itu.
Sampai Haikal tak sadar bahwa dia telah melamun. Mobilnya tak sengaja menabrak pepohonan. Untung saja sabuk pengaman sudah terpakai. Namun, pecahan kaca mobilnya mengenai sedikit dahinya. Dia meringis pelan. Beberapa orang kemudian ramai mendatangi mobilnya. Dia yang kaget pun pingsan seketika. Bau darah pun tercium.
Disisi lain, Ambar yang sudah rebahan di kamar hotel pun merasa kecewa akan perkataan Haikal tadi. Dia memutuskan mematikan ponselnya. Petunjuk yang kacau dan liburan yang ikut kacau. Sudahlah, lebih baik dia putuskan untuk menyudahi semuanya. Dia tak akan tenggelam pada rasa penasaran itu. Dia akan melupakan kedatangan maupun perkataan wanita paruh baya itu. Dia percaya bahwa apa yang dikatakan wanita paruh baya itu pasti berbohong. Ya, lebih baik dia kembali ke kehidupannya. Dingin, tegas, dan cuek. Tidak mempedulikan siapapun, sebagai langkah supaya hatinya lebih baik dari sebelumnya. Supaya dia bisa kuat dari sebelumnya. Tidak mudah terperdaya oleh siapapun itu. Benar sebuah kata, perasaan sendiri itu lebih penting dijaga sebelum menjaga perasaan orang lain yang belum tentu mengerti akan perasaannya sendiri. Biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. Siapa yang benar dan siapa yang salah. Dia sudah cukup pusing memikirkannya.
Ambar tidak sadar bahwa ponsel yang dia matikan ada sebuah panggilan yang sanhat urgent. Ambar yang merasa lelah pun memutuskan tidur lebih dulu walaupun waktu belum mencapai siang hari. Dia ingin melupakan masalahnya sejenak dengan tidur. Tanpa dia tahu bahwa ada kejadian besar yang telah menimpa seseorang yang sangat berarti dihidupnya.