22-Bab 22

1010 Kata
Detak jantung itu masih terdengar dengan tenang. Namun, pemilik jantung itu sudah dua hari belum kunjung bangun. Pertemuan yang akhirnya membawa Ambar mengetahui kebenaran yang belum dia dapatkan dari lelaki yang terbaring di sana. Seorang wanita muda yang dia lihat begitu bucin kepada Haikal. Bahkan, dengan gamblang mengusirnya dari ruangan Haikal. Ambar merasa tidak berguna sama sekali. Ingatan tentang kebersamaan dirinya dengan Haikal bermunculan begitu saja. Membuatnya menyadari bahwa dia selama ini hanya menyusahkan lelaki itu. Dia melihat betapa khawatirnya wanita muda itu. Entah kenapa hati Ambar merasa sakit melihatnya. Mungkinkah karena tak terbiasa melihat Haikal bersama dengan wanita lain? Sedangkan selama ini dia selalu menghabiskan waktu bersama Haikal. Walau bukan hal-hal romantis, lebih ke hal yang penuh tantangan. Namun, sikap manis lelaki itu terkadang membuatnya tersenyum. Mungkinkah ada sedikit perasaan yang timbul di hati Ambar pada Haikal? Ambar menghela nafas panjang. Dua hari ini dia habiskan untuk menunggu Haikal sadar. Kini dia memutuskan untuk kembali ke rumah. Melangkah pelan menuju parkiran, dan mengemudikan mobil dengan pelan meninggalkan pelataran rumah sakit. Ngomong-ngomong dia juga belum sempat mengecek perbaikan mobil Haikal. Dia juga yang mengurus hal itu hingga tak ada waktu untuk melanjutkan misinya lagi. Namun, dia rasa lebih baik dihentikan daripada terus berkubang dalam kekecewaan. Harapan yang semu. Sesampainya di rumah, Ambar menutup pintu mobil dengan keras. Hingga membuat Arda yang baru ke luar rumah pun sampai terjungkal. Namun, dengan sigap Galih yang berada di belakangnya pun memeluk istrinya. Ambar menaikkan alisnya sebelah, dia memilih melenggang masuk ke dalam rumah. Arda dan Galih saling bertatapan. Mereka berniat akan menjenguk Haikal. Mengingat orang tua Haikal sangat sibuk dan berada di pulau lain. Sehingga Arda yang masih saudaraan dengan Haikal pun memutuskan untuk merawat Haikal sampai sembuh. "Mas, apa kamu merasa bahwa Ambar dan Haikal sedang bertengkar sebelum Haikal kecelakaan?" tanya Arda sstelah melamun. Mereka sudah berada di perjalanan dengan Galih yang mengemudikan mobil. Masih fokus menatap jalan, Galih berkata, "Rasanya tidak mungkin. Buat apa mereka bertengkar? Memang sedekat apa Haikal dengan Ambar sekarang?" Arda mengangguk. Dia rasa juga tidak mungkin. Namun, melihat wajah kesal Ambar entah kenapa dia langsung memutuskan apa yang dia pikirkan. Dia juga merasa hubungan mereka bukan sekedar hubungan biasa selain kerja sama dalam hal bisnis. Dapat dia rasakan Haikal dan Ambar sedang melakukan sesuatu yang tidak dia tahu apa itu. Mereka terlalu misterius. "Mas, berhenti di toko buah dulu," pinta Arda yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Galih. "Sayang, menurutmu apakah Haikal berhasil membuat Ambar jatuh hati?" "Aku tidak tahu Mas. Haikal sekarang jarang sekali menghubungiku. Selalu aku dulu yang bertanya bagaimana perkembangan pendekatannya kepada Ambar," jelas Arda. Kedua alisnya menukik tajam. "Kuharap memang mereka lebih sekedar teman." "Masih terlalu dekat kurasa." "Tresno jalaran soko kulino. Pernah dengar kata itu 'kan, Sayang? Cinta datang karena terbiasa. Terbiasa bersama, mereka kurasa juga sering berkomunikasi." Arda mengangguk setuju. Dia berharap Ambar benar-benar melupakan masa lalunya dan fokus ke masa depan bersama Haikal. Mereka sangat cocok. ***** Arda dan Galih berjalan mencari ruangan Haikal. Saat melewati poli kandungan, Arda melihat Raditya—kakak tiri mantan calon suami Ambar. Disebelahnya ada wanita muda yang tampak tertunduk sambil mengelus perutnya. Arda menarik tangan suaminya untuk mendekati Raditya. Raditnya terkejut saat bertemu kembali dengan keluarga Ambar setelah terakhir kali bertemu dua tahun lalu. Galih menatap lelaki yang pernah menyukai Ambar. Rupanya sekarang telah menikah dan bahkan hendak memiliki anak. "Bagaimana kabar ayah dan ibumu?" Raditnya menyalimi Galih dengan kaku. "Baik," jawabnya singkat. "Dia?" tanya Arda penasaran. Raditnya menatap istrinya sejenak kemudian menatap pasangan yang ada dihadapannya. "Dia istriku, Safira. Lagi hamil 5 bulan. Kami sedang mengecek kandungannya." "Wah, secepat itu melupakan," ujar Arda sambil menganggukkan kepala. Galih meremas tangan kiri istrinya. Raditnya menunduk mendengarnya. Dulu dia memang menyukai Ambar, tetapi kini hanya istrinya yang dia sukai. Bagaimana orang tuanya selalu menjodohkan dirinya supaya dapat melupakan Ambar, mengingat dulu Ambar adalah calon istri dari adik tirinya. Namun, lambat laun dia mencoba menerima dan menjalin hubungan yang lebih serius yakni pernikahan. Hingga akhirnya dia menemukan jalannya, kebahagiaan yang tak terkira. Salah satunya menunggu kelahiran anak pertamanya. "Selamat atas kehamilanmu, ya. Semoga lahir dengan selamat ya Safira," ujar Arda dengan senyuman lebar. Dia juga iri menatap perut buncit itu. Entah kapan dia bisa merasakannya. Ngidam, mual, dan membeli pakaian bayi serta mempersiapkan nama bayi dengan penuh bahagia. Menunggu kelahiran dengan rasa tak sabar. Arda hanya bisa menghela nafas panjang. "Terima kasih, Mbak," jawab Safira. Hingga saatnya mereka masuk. Arda dan Galih melanjutkan langkahnya. Galih yang tahu bagaimana perasaan Arda pun merangkulnya. "Sayang, sesuatu yang ditakdirkan untuk kita tak akan pergi. Kita cukup bersabar dan berusaha. Diiringi dengan do'a," ujar Galih mencoba menenangkan Arda. Istrinya itu mengangguk dengan wajah lesu. Tangannya mengelus perutnya yang rata. "Suatu saat kita akan memiliki seorang anak. Dia akan mirip sepertimu, cantik dan berhati baik." Arda meneteskan air mata saat mendengar perkataan dari Galih. Sungguh dia beruntung memiliki suami yang pengertian. Berbeda dengan apa yang dia lihat di luaran sana, ada yang menuntut sampai memutuskan menikah lagi. Tanpa memakai logika bahwa semua sudah ditakdirkan. Arda membuka pintu ruangan Haikal dengan perlahan ketika sudah sampai ruangan tersebut, dia cukup terkejut mendapati ada seorang wanita muda menelungkupkan kepala di atas tangan Haikal. "Siapa kamu?" tanya Arda to the point. Dia mencoba menerka-nerka akan kejadian Ambar tadi saat pulang. Mungkinkah Ambar marah karena kesal melihat ada wanita lain yang menjaga Haikal? Arda menggelengkan kepala atas pemikirannya tersebut. Mana mungkin, ini terlalu cepat. Wanita muda itu mendongakkan kepala. Menatap pasangan yang tidak dia ketahui sama sekali. "Saya Santi Dianggara," ujarnya memperkenalkan dengan wajah bingung. "Siapanya Haikal?" tanya Arda lagi. Galih mengelus bahu Arda. Dia tahu istrinya agak emosi. "Saya temannya." Arda mengangguk. "Kalian siapa?" tanya Santi dengan kening berkerut. "Saya sepupunya, dan ini suami saya," jawab Arda. Dia pun mendekat melihat keadaan Haikal. "Belum sadar juga." "Kata Ambar tidak terlalu parah, tetapi kenapa belum sadar juga?" Galih bertanya kepada tubuh Haikal yang masih nyaman tertidur. Santi mengerutkan nama yang tak asing di telinganya. Ambar. Wanita yang seringkali diceritakan oleh Haikal hingga membuatnya jengkel setengah mati. Haikal tampak memuja wanita bernama Ambar itu. Hingga sering melupakan keberadaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN