23-Bab 23

1041 Kata
Pagi nan cerah, secerah hati Ambar saat mendapat kabar bahwa Haikal sudah sadar tadi malam. Arda diizinkan suaminya untuk menemani Haikal bersama Santi. Dengan cepat-cepat Ambar memutuskan untuk mandi lalu berganti baju. Tanpa makan, dia berangkat menuju rumah sakit. Untung orang rumah sedang melaksanakan olahraga. Jadi, dia tak akan ditanyai macam-macam. Sesampainya di rumah sakit, Ambar melangkah menuju ruangan Haikal. Saat masuk dia merasa kecewa karena Santi masih ada di sana. Padahal ada hal yang ingin dia bicarakan kepada Haikal. "Ambar." Arda menoleh begitupula dengan Haikal yang sedang disuapi oleh Santi. Ambar mengangguk kaku. Wajahnya sangat datar. Hingga tak ada yang bisa menilai bagaimana perasaannya saat ini. "Haikal, karena Ambar sudah datang. Kakak mau pulang ya. Biar kamu dijagain Ambar nanti. Siapa nanti yang masakin suami kakak dan mertua kakak," ujar Arda dengan senyuman menatap Haikal. Haikal mengangguk. Dia mengucapkan terima kasih kepada Arda. Haikal merasa kecewa saat Ambar sama sekali tidak menjaganya di rumah sakit. Mungkinkah kesibukan Ambar jadi penghalang? Namun, mungkin dia tak lebih penting di kehidupan Ambar. Dia sadar diri seharusnya. "Lebih baik kamu pergi," kata Santi mengusir Ambar. Dia tak ingin diganggu. Arda sudah pulang menggunakan jasa ojek. Ambar menatap keduanya dengan tatapan datar. "Kamu tidak dengar apa yang dikatakan oleh Kak Arda?" Santi memutar bola matanya. Dia merasa sebal akan kedatangan Ambar yang mengganggu waktunya dengan Haikal. "Seharusnya kamu sadar." "Sadar?" Ambar mengerutkan dahinya bingung. Tak mengerti akan perkataan wanita yang sedang menatapnya tajam itu. Santi mengangguk. "Kamu itu cuman teman. Seharusnya kamu beri waktu kami untuk berdua. Waktu-waktu kami habis karenamu. Kamu lihat kecelakaan yang dialami Haikal juga karenamu. Kamu itu hanya membawa masalah di kehidupan Haikal." Ambar mengepalkan kedua matanya. Dia menatap Santi dengan tatapan tajam. Merasa tak terima atas perkataan wanita itu yang menurutnya terlalu kurang ajar. "Santi, jaga perkataanmu!" Haikal mendesis tak suka. Dia tak sadar selama dua hari juga karena terlalu kaget saja. Dia kecelakaan juga bukan karena Ambar, karena memang tak fokus saja mengendarai mobil hingga menabrak pohon. "Apa sih, Haikal. Memang benar 'kan?" "Lebih baik kamu pergi dari sini!" usir Haikal kepada Santi. "Kamu begitu sama aku? Sedangkan, aku yang menjagamu saat kamu tak sadarkan diri. Kamu usir aku karena dia Haikal?" Santi menggelengkan kepala tak terima. Dia merasa cemburu akan kedekatan Ambar dan Haikal. "Aku sahabat kamu Haikal. Seharusnya kamu memilih aku dibanding dia," ujar Santi. Ambar hanya diam menyaksikan pembicaraan mereka. Dia memutuskan untuk merebahkan diri di sofa. Bermain ponsel. Hal ini lebih baik untuk menjaga hatinya yang sedang dirindung amarah. Haikal melirik Ambar dengan penuh kecewa. Bukan Ambar yang menjaganya. Ambar tak peduli padanya. Wanita itu ada didekatnya karena misi yang dia bantu untuk memecahkannya. Haikal tidak mengira jika Ambar hanya akan memanfaatkannya, karena memang dia yang mengajukan diri untuk membantu Ambar. Kini, misi itu selesai dan tak ada lagi hal yang bisa dipertahankan antara dirinya dan Ambar selain hubungan kerja yang mungkin jarang bertemu. Dia juga merasa kesal pada Santi yang mengganggu dirinya dengan Ambar. Walau dia sangat berterima kasih kepada Santi yang telah menjaganya disaat orang tuanya justru tak pulang karena ada urusan kerja. Haikal menghela nafas panjang. Dia menolak saat Santi memberikannya suapan bubur lagi. Dia sudah kenyang dengan kekecewaan ini. Pukul 09:30, Santi pamit pergi karena adiknya sedang ada masalah di sekolahnya. Sedangkan, orang tuanya tak bisa datang sehingga Santi yang menggantikannya. Ambar menghela nafas lega saat Santi sudah pergi dari ruangan Haikal. Dia berjalan mendekati Haikal. Duduk disampingnya masih dengan mempertahankan wajah datarnya. "Bagaimana keadaanmu?" "Baik," jawab Haikal dengan singkat. Ambar terdiam. Dia mengangguk saja dan tak memutuskan untuk bertanya lagi. "Bagaimana dengan mobilku ya." Haikal menepuk jidatnya pelan. Dia melupakan keberadaan mobio mewahnya. "Masih di bengkel," jawab Ambar. "Siapa yang mengurusnya?" "Kamu pengen tahu atau pengen tahu banget?" Haikal berdecak kesal saat mendengar perkataan songong Ambar. "Banget," jawabnya pada akhirnya. "Aku sudah mengurus semuanya. Tunggu kabar dari mereka saja untuk mengambilnya." Haikal tersenyum tetapi sangat tipis hingga Ambar tak mengetahuinya. Haikal kini tahu bahwa Ambar juga ikut menjaga dirinya. Salahnya yang terlalu suudzon dulu. Padahal Ambar juga ikut menjaganya. "Terima kasih," kata Haikal dengan senyuman lebar. "Untuk?" "Untuk kamu yang mau menjagaku, untuk kamu yang membantuku mengurus mobil, untuk kamu yang mau menjengukku." Ambar mengangguk pelan. Dia meremas kedua tangannya. Kini tinggal dia dan Haikal yang berada dalam satu ruangan. Dia bingung mau ngapain. Kenapa juga suasana menjadi canggung. "Kamu tak habiskan buburmu itu?" tanya Ambar saat melirik bubur yang masih lumayan banyak. Haikal menggelengkan kepala. "Sudah tak selera." "Heh, kamu mau sembuh atau tidak? Kenapa pula bisa tak sadarkan diri selama dua hari," omel Ambar membuat Haikal tertawa. "Ya, namanya juga kaget. Ini pertama kalinya aku memiliki pengalaman seperti ini. Tentu saja aku merasa kaget." "Pengalaman?" Haikal mengangguk. "Pengalaman pertamaku." "Hei, itu kisah menyedihkan. Kenapa kamu menganggapnya pengalaman?" Ambar menahan tawa. Bibirnya berkedut. "Kamu mau suapin?" Ambar gelagapan. "Suapin?" Haikal mengangguk. "Menyuapiku makan, kamu mau 'kan?" Ambar menganggukkan kepala pelan. Haikal sudah baik mau membantunya, kenapa dia harus menolak untuk sekedar menyuapi Haikal yang sedang sakit. Dia masih heran kenapa orang tua Haikal yang justru memikirkan kesibukannya dalam bekerja tanpa memikirkan keadaan anaknya. Mana ada orang tua yang tak khawatir melihat keadaan anaknya secara langsung setelah mengalami kecelakaan. Sungguh malang nasib Haikal yang sepertinya kurang kasih sayang. Namun, setidaknya lelaki itu tidak melampiaskannya ke dalam hal-hal yang buruk. Justru memanfaatkan waktunya untuk membuka bisnis kuliner. "Rasanya enak sekali jika kamu yang menyuapiku," kata Haikal. "Jualan gombal?" "Iya, lumayan nambah cuan." Ambar menahan tawa mendengarnya. Lelaki humoris. Entah bagaimana takdir bisa mempertemukan dirinya dengan Haikal. Yang pasti dia merasa hari-harinya begitu berwarna. Walaupun tak jarang sering berdebat. "Mendadak miskin?" Haikal menggelengkan kepala dengan tegas. "Cuanku banyak." "Ya, ya, ya." Ambar mengangguk saja mendengarnya.  "Lumayan bisa mengajak kamu keliling dunia." Ambar mendengkus kesal. Lelaki ini sungguh memiliki kepercayaan yang tinggi. Haikal tak sekaya itu hingga bisa mengajaknya keliling dunia.  "Kamu tidak ingin membuka hatimu untuk yang lain?" "Maksudnya?" tanya Ambar bingung. "Iya, kamu pasti tahu apa maksudku." Ambar mengangguk mengerti. "Persoalan cinta bukan utama bagiku. Mengembangkan karir, dan menemukan kebenaran itu adalah misiku saat ini." Haikal tertawa. Dia pura-pura patah hati. "Aku tidak memiliki kesempatan itu ya untuk sekarang? Oh, sungguh kamu telah mematahkan hatiku." Ambar menganggap Haikal hanya bercanda dan dia menahan tawa. Padahal kenyataannya Haikal benar-benar mengagumi wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN