Penampilan dan riasan Anna yang terlalu berlebihan membuat Winaga ragu kalau gadis di depannya adalah Anna, gadis kecil yang dulu begitu polos. "Apa hanya karena gadis ini memiliki mata berwarna biru lalu aku merasa dia Anna?", Winaga bergumam dalam hatinya.
"Siapa namamu? Mengapa kamu berada di tempat ini?"
"Apa aku harus memberitahu bahwa aku Anna Balcon? Gadis dari masa lalunya? Ataukah memperkenalkan diriku sebagai Aletta?", gumamnya.
"Mengapa kamu melamun? Katakan siapa namamu?"
"Saya A... Aletta."
Tapi tiba-tiba anak buah Winaga yang berada diluar memberi peringatan tanda bahaya, kemungkinan ada polisi yang datang kemari.
Winaga beserta anak buahnya yang berada di dalam segera bersiap pergi meninggalkan tempat itu. Dan Aletta segera meraih tangan Winaga tanpa berpikir panjang. Di pikiran Aletta sekarang hanyalah bisa berada dekat dengan Winaga.
"Izinkan aku ikut dengan Anda."
Mata Aletta menatap begitu lembut membuat Winaga tak mampu menolaknya. Winaga seperti terhipnotis dan mengiyakan permintaan Aletta.
Winaga menggenggam tangan Aletta dan mereka segera pergi menuju mobil.
Tetapi Aletta tidak satu mobil dengan Winaga melainkan berada di mobil lainnya. Di mobil Winaga terus berpikir tentang Aletta.
"Anna, Aletta, apa mereka orang yang sama? Tapi tidak mungkin, Anna berada di markas Carlos. Siapa sebenarnya gadis itu?"
Sedangkan Aletta di mobil lain tetap waspada dan akhirnya sampailah mereka di markas Winaga. Markas ini merupakan tempat tinggal Winaga dan banyaklah pengawal di sana.
"Bawalah gadis ini dan tetap kawal dia."
"Baik Bos."
Aletta dikawal sampai masuk ke dalam markas Winaga. Markasnya seperti benteng yang dibangun dengan megah. Di benteng ini pula Jeane dan Wesley tinggal.
Jeane sedang berada di ruang tamu saat Winaga dan Aletta datang. Jeane yang melihat Aletta bersama Winaga sangat terkejut.
"Kamu??? Mengapa berada disini?"
"Naga, mengapa gadis murahan ini bisa bersamamu?"
"Apa maksudmu?"
"Dia ini seorang pekerja seks di rumah bordil. Kemarin dia sudah menggoda Wesley dan mereka hampir tidur bersama."
"Maaf Jeane tapi Wesley itu bukanlah seorang pria yang setia."
"Jaga mulut kotormu itu."
"Naga, singkirkanlah gadis kotor ini."
Winaga menatap tajam ke arah Aletta namun Aletta membalasnya dengan tatapan lembut.
"Mungkinkah gadis ini seperti yang Jeane katakan? Aku harus membuktikannya sendiri."
Winaga menarik tangan Aletta lalu membawanya ke kamar pribadinya. Aletta hanya bisa menurutinya.
"Habislah kau gadis murahan."
Di dalam kamar, Winaga langsung mendorong Aletta ke dinding dan mengunci tubuhnya agar tidak bisa lari.
Mata mereka saling menatap dan gairah pun menyala. Aletta yang begitu merindukan Winaga dan Winaga yang terhanyut dengan mata itu.
Aletta yang terlebih dahulu mencium bibir Winaga. Sekali, 2 kali, 3 kali gerakan membuat Winaga tak percaya gadis di depannya adalah Anna. Winaga berpikir semua yang dikatakan Jeane benar kalau Aletta pekerja seks.
Namun ciuman Aletta membangkitkan gairah Winaga yang terpendam begitu lama. Winaga selama ini tidak pernah bercinta apalagi berpikir memiliki pasangan karena di hatinya hanya ada Anna dan niat untuk membalas dendam.
Winaga merangkul pinggang Aletta dengan kedua tangannya yang kekar dan membalas ciuman Aletta dengan garang.
Ciuman bertubi-tubi terjadi diantara bibir mereka dan Winaga mulai membuka kemejanya. Terlihat tubuh kekar Winaga namun terdapat banyak luka. Aletta melihat semua luka di tubuh Winaga dan merasa haru, "Berapa banyak luka yang telah kau dapatkan selama ini? Itu pasti karena aku. Aku akan membayar segala lukamu itu dengan selalu menemanimu", gumam Aletta dan Aletta semakin erat memeluk Winaga.
Pakaian Aletta terlepas satu persatu oleh Winaga dan kini tak tersisa sehelaipun. Mulailah Winaga bermain di bagian d**a Aletta. Winaga mengecup, meremas dan kadang menggigit lembut.
Aletta merasa sedikit canggung karena ini adalah pertama kalinya dia berhubungan intim namun Aletta berusaha tenang.
Winaga pun melepas celana boxernya yang mana senjata miliknya sudah teramat tegang ingin segera mencari lubang untuk dimasuki.
Meskipun Winaga tidak berpengalaman dalam bercinta tapi dia dapat merasakan lubang milik Aletta yang masih rapat seperti sama sekali belum pernah dijelajahi.
"Apa dia masih....? Tapi bagaimana mungkin?"
Winaga yang sudah setengah berjelajah tak mungkin menghentikannya dan terus masuk sampai ke pangkal.
"Ahhh...ahhh....", Aletta menahan sedikit rasa sakit karena keperawanannya telah diberikan kepada lelaki yang dia cintai. Tak ada penyesalan yang ada hanya kebahagiaan.
Winaga berjelajah dengan nikmatnya dan sampai pada titik puncaknya. Cairan miliknya berhambur keluar saling kejar mengejar dan mulai menyusut.
Setelah itu, darahpun terlihat di senjatanya dan juga di sprei putihnya menandakan bahwa dia telah merenggut keperawanan gadis yang sekarang tepat di depannya.
"Maaf, mungkin Jeane salah menilaimu."
"Winaga aku tidak menyesal."
Winaga menatap dalam mata Aletta lalu mengambil pakaiannya. Winaga mengenakan kembali pakaiannya dan meminta Aletta juga segera berpakaian.
"Berpakaianlah, aku akan mengantarmu pulang."
Tiba-tiba Jeane berteriak memanggil Winaga, "Naga, Naga polisi mengepung markas kita. Kita harus segera pergi."
"Bergegaslah, ikut denganku."
Winaga membuka pintu dan Jeane langsung menariknya.
"Naga, kita harus ke ruang rahasia sekarang."
"Tunggu Aletta."
Jeane melihat Aletta yang sedang berpakaian, "Naga, kamu sudah tidak waras. Mungkin dia mata-mata. Bagaimana mungkin kita bisa membawanya ke ruang rahasia kita? Tinggalkan dia Naga."
Dan akhirnya Naga mendengarkan Jeane dan meninggalkan Aletta yang belum selesai berpakaian.
Tak lama, muncullah seseorang dari pintu saat Aletta masih mengenakan bra dan orang itu adalah Axel, polisi yang pernah Aletta temui di kantor polisi.
Aletta segera menutupi dadanya dengan pakaiannya. Axel yang melihatnya pun langsung membalikkan tubuhnya. Dia sangat mengingat Aletta, gadis cantik yang membuat jantungnya berdebar. Aletta lalu segera mengenakan pakaiannya.
"Maafkan aku tapi mengapa kamu bisa berada di sini? Ini adalah markas Naga."
"Saya hanya melakukan pekerjaan saya."
"Kemana Naga pergi?"
"Saya tidak tahu."
"Kamu harus ikut saya ke kantor."
Axel dan anak buahnya menggeledah ke seluruh tempat tapi tak menemukan jejak mereka. Akhirnya mereka pergi dan Axel membawa Aletta di mobilnya.
"Kamu Aletta bukan? Apa kamu mengingatku? Aku Axel yang bekerja di kantor polisi."
Aletta mencoba mengingat Axel dan bila Axel ini ingin menangkap Winaga maka dia harus melindungi Winaga.
"Iya, saya ingat."
"Coba kamu jelaskan mengapa kamu berada di sana kepadaku. Biar kita selesaikan masalah ini di sini saja tanpa harus ke kantor."
"Saya hanya pekerja seks dan habis melakukan pekerjaan saya."
Axel tak percaya dengan yang Aletta ucapkan, "Kamu pekerja seks? Gadis sepertimu...?"
Axel mendadak mengerem dan memperhatikan Aletta dari dekat.
"Tidak mungkin, katakan kalau kamu bercanda."
"Saya tinggal di rumah bordil Madam Cecilia. Jika Anda ragu maka Anda bisa antarkan saya ke sana sekarang."
Axel merasa patah hati ternyata gadis yang dia sukai adalah seorang pekerja seks di rumah bordil. Axelpun mengantar Aletta ke rumah bordil. Di sana sudah ada Andreas yang cemas dengan keadaannya. Andreas yang melihat Aletta langsung menghampiri dan memeluknya.
"Aletta, kamu kemana saja? Aku mencemaskanmu."
Axel semakin berpikiran kacau, melihat keakraban Aletta dan Andreas.
"Aku salah menilai seorang gadis. Lebih baik aku lupakan dia dan fokus dengan tugasku untuk menangkap Naga dan gengnya."
Sementara itu, Naga tidak bisa berhenti memikirkan Aletta. Wajah Aletta selalu terbayang dan menghantuinya.
"Aletta, Apakah aku jatuh cinta kepadanya?"