Journey was begin
18 Tahun yang lalu
Sebuah Kota kecil di ujung barat pulau sumatra.
"Pemerintah Nusantara Telah Berbohong Gunung emas itu ada!!!" Teriak seseorang yang hendak di eksekusi.
Selang beberapa saat orang itupun di tembak mati tak sampai disitu ia kemudian di penggal kepalanya. Kemudian kepala dan badannya di bawa terpisah ke tempat tersembunyi karena kabarnya ia menguasai Rawa Rontek yaitu sebuah ilmu yang dimana penggunanya tidak dapat di bunuh begitu saja.
Setelah kejadian itu kota pun kacau banyak pertokoan di bakar oleh orang-orang tidak bertanggung jawab, Banyak orang pergi berkelana untuk mencari apa yang dikatakan orang itu.
18 Tahun kemudian
Sebuah Kota kecil di ujung barat pulau sumatra.
Alun-Alun kota Way ramai sebab ada surat kabar yang memberitakan bahwa akan di laksanakan eksekusi beberapa orang penjahat yang tertangkap.
Seseorang dengan pakaian serba hitam berjalan di antara kerumunan orang-orang.
Kemudian matanya tertuju pada salah seorang penjahat itu.
"Bukankah itu pemanah terhebat di sumatra bagian barat" Ucapnya dalam hati Lalu ia berdiri membelakangi tiang listrik.
Selang beberapa saat kemudian ledakan terjadi di salah satu jalan menuju alun-alun.
"Jika aku terus di sini pasti aku akan di curigai, Sebaiknya aku masuk ke toko ini dan melihat kejadian ini dari dalam" Ia lantas masuk ke sebuah toko sambil menutupi mulutnya dengan kain hitam.
Ia kemudian duduk di lantai dua toko tersebut dan sembari meminum dari botol di depan meja tempat ia duduk.
Sementara itu di alun-alun.
Ketika warga berhamburan untuk menyelamatkan diri, Dari arah ledakan itu muncul se kelompok perampok.
"Prajurit serang mereka" Teriak kapten Pieter di atas panggung hukuman mati.
Para prajurit kenudian menyerang kelompok perampok tersebut.
Tiba tiba seseorang melompat dari arah peperang itu menuju panggung itu.
"Aku kesini hendak membalaskan dendam istriku yang di bunuh olehmu Dananjaya" Ucap laki-laki itu.
Ia kemudian menebaskan pedangnya ke arah Dananjaya namun tanpa di duga kapten Pieter menahan serangan itu dengan pedangnya.
"Hak Membunuh dia adalah milik pemerintah bukan milik orang kotor sepertimu" Ucap Kapten Pieter setelah menangkis serangan perampok itu.
"Tidak usah banyak bicara kau" Jawab Perampok itu sambil menganyunkan kembali senjatanya ke arah Pieter.
Pieter berhasil menghindari serangan itu lalu ia menendang orang itu ke tanah
"Jika kau ingin membunuhnya lawanlah aku terlebih dahulu" Ucap Pieter yang sembari menendang perampok itu ke tanah.
Perampok itu jatuh ke tanah lalu berdiri kembali dan kemudian kapten Pieter melompat sambil membuka helm yang menutupi wajahnya.
"Tak ku sangka aku akan melawan kapten Pieter dari Barat Sumatra, Tapi aku tidak peduli lagi pula jika itu kau mati namaku akan terangkat" Ucap perampok yang bersiap menahan serangan kapten pieter.
"Tidak usah banyak bicara" kapten pieter lalu berlari kearah perampok itu.
Pertempuran berlangsung sengit, Begitupun orang misterius yang duduk di lantai dua toko.
"Nampaknya ini kesempatan bagiku, Aku akan membebaskan Dananjaya agar ia bisa ikut bersamaku" Ucap pria misterius itu yang kemudian melompat dan pergi ke arah panggung.
Orang itu hendak membebaskan Dananjaya namun bos Perampok itu sadar lantas menendang kapten pieter lalu kemudian menyerang Orang tersebut dari belakang. Namun Orang itu memiliki kecepatan yang luar biasa ia melompat dan kebelakang badan bos perampok itu.
"Aku tidak akan menyerangnya sebaiknya aku membaca pergerakan mereka berdua" Ucap kapten pieter yang diam melihat bos perampok dan orang misterius.
"Nampaknya kau terlalu lambat" Ucap pria misterius itu sambil mengeluarkan pedang dari punggungnya.
"Wind: Wind Cut"
Dengan di duga tangan kiri bos perampok jatuh ke tanah.
"s****n sebenarnya siapakah dia, Apa mungkin ia adalah anak siluman seperti yang di rumorkan dahulu, Sebaiknya aku diam jika aku melawan maka aku akan mati" Ucap Pieter dalam hatinya, Pieter saat itu hanya duduk karena lukanya.
"Ahhh tanganku" Teriak bos perampok yang secara perlahan lahan terjatuh, Pada saat terjatuh Orang misterius kembali menggunakan teknik
"Wind: Wind cut"
Sekarang yang terpisa adalah kepala dan badannya.
Pieter semakin takut namun ia mencoba berdiri, kemudian pria itu menatap ke arah pieter duduk.
"Sebaiknya kau diam disitu, Aku tidak ingin membunuh orang lagi" Ucap Pria misterius dengan wajah yang hanya terlihat matanya saja.
Sementara itu perang terus berlanjut yaitu Prajurit melawan kelompok perampok itu, Namun setelah melihat bosnya terbunuh para perampok memilih untuk lari tapi tetap saja sebagian terbunuh ketika berlari untuk kabur.
Para prajurit bersuka cita atas kemenangan itu meskipun ada beberapa teman mereka yang menjadi korban, Semua prajurit yang tersisa kemudian merapat dan mengeliling Alun-Alun. Dari kumpulan prajurit keluarlah seorang algojo dengan menggunakan penutup wajah.
Ia memberikan Ekspresi mengancam kepada Orang Misterius itu.
"Hey bodoh, Jangan kau lakukan kau tidak tahu apa yang terjadi" Teriak Pieter yang sedang di bantu berdiri oleh beberapa prajurit.
Algojo itu nampak tidak peduli ia berjalan ke arah panggung, Orang misterius melompat ke panggung dan membebaskan DananJaya dengan memutuskan borgol Dananjaya menggunakan pedangnya.
"Sebaiknya kau cari senjatamu, Biarkan aku yang menghadapi algojo" Ucap orang misterius itu yang kemudian melompat kembali ke tanah untuk bertarung dengan Algojo.
Sementara itu DananJaya pergi dari panggung eksekusi untuk mencari Senjatanya, Namun Kapten bataylon tidak tinggal diam ia mengejar Danan.
Orang Misterius terus bertarung melawan Algojo.
"Untuk seorang Algojo kau cukup kuat juga" Ucap Orang Misterius yang terus menerus menahan serang membabi buta algojo itu, Ia terus menghindarinya.
Suara-suara pedang yang bergesekan terus terdengar. Di lain tempat Dananjaya terpojok di antara g**g sempit yang buntu.
"s****n aku terpojok disini" Ucap Dananjaya menghadap tembok lalu berbalik.
Dari ujung g**g tempat ia masuk Kapten batalyon sudah menunggu.
"Inilah akhir darimu" Ucap kapten bataylon yang perlahan mendekat ke arah Danan.
Tiba tiba seseorang dari atas toko sebelah kanan melemparkan tali, Tanpa pikir danan memegang tali itu dan Memanjatnya. Ketika Danan naik kapten bataylon hendak mengejarnya namun orang di atas toko itu lompat ke bawah untuk menghalau kapten bataylon.
Orang misterius itu memukul badan kapten bataylon yang dimana kapten bataylon langsung terjatuh.
"Nak bantulah orang yang menyelamatkannu, Senjatamu sudah ada di atas sana" Ucap orang itu ke Danan.
Orang itu lalu mendekati kapten bataylon dan berhenti di depannya.
"Hari ini kau beruntung anak baru" Ucap orang itu.
Kapten bataylonpun melihat orang itu dan betapa terkejutnya dia bahwa orang itu adalah orang paling di cari di Nusantara.
"Kau...Kau kenapa kau ada disini" Ucap kapten bataylon yang menahan sakit di perutnya.
Selang beberapa saat sebuah kabut muncul di g**g itu, Orang itu hilang bersama kabut itu.
Danan lalu berlari diatas pertokoan menuju ke arah alun-alun dimana Orang yang menolongnya sedang bertarung. Ia kemudian memanah algojo yang sedang bertarung dengan orang yang membantunya.
"Ayo cepat kita harus pergi dari sini" Ucap Danan yang kemudian melompat untuk menghampiri orang itu, Mereka kemudian berlari ke arah gerbang kota (Arah Timur).
Nampaknya di gerbang kota sudah di jaga oleh para prajurit.
Seorang prajurit lalu berteriak.
"Atas nama keadilan dan Pemerintahan Nusantara kalian berdua di tangkap" Ucap prajurit itu.
"Tidak ku sangka Mayjen Albert berada disini" Ucap Danan yang mengarahkan panahnya kepada Albert.
Namun tidak di duga kabut misterius muncul kembali, Kabut itu muncul dan membawa Orang misterius dan Danan keluar dari kota.
Para prajurit panik akan hal itu namun setelah kabut menghilang mereka melihat orang lain di tempat Danan tadi, Albert mengenali orang itu.
"Aku tidak menyangka pasti ada alasan kau menyelamatkan mereka berdua" Ucap Albert yang kemudian berlari untuk menyerang orang itu.
Orang itu hanya tersenyum kecil.
"Kalian semua sebaiknya mencari buronan itu biarkan aku disini yang menghadapi dia, Dia bukan orang sembarangan" Ucap Albert yang masih berlari ke arah itu.
Kemudian Albert mengayunkan pedangnya ke arah orang itu, Namun ia hanya mengenai asap bukan badan dari orang itu.
Sementara itu
"Aku tidak mengetahui siapa engkau?" Ucap danan pada orang di sampingnya sambil berlari ke arah hutan
"Oh iya aku lupa memperkenalkan namaku, Namaku Astaka" jawab orang di samping Danan.
Mereka berdua berlari ke arah hutan, Para Prajurit tidak mengejar mereka lagi.
Para prajurit lantas kembali ke kota dan melapor kepada Albert, Mereka melapor kepada Albert bahwa buronan telah berhasil lolos. Albert langsung marah kepada mereka.
Astaka dan Danan terus berjalan melintasi hutan.
"Kita akan berjalan ke arah timur" Ucap Astaka sambil melihat kompas yang ia bawa.
"Baiklah aku terserah kau saja Astaka" Jawab Danan yang berada di samping kirinya.
"Tahan dulu Astaka" Lanjut Danan yang mengangkat tangan kanannya ke badan Astaka.
"Kenapa?" Jawab Astaka yang tidak tahu apa-apa.
"Siapkan senjatamu, Aku Rasa kita sedang di awasi" Danan lalu mengeluarkan panahnya dan mengarahkannya ke atas.
"Baiklah" Jawab Astaka yang mengeluarkan pedangnya dari punggungnya.
Danan lalu menembakkan anak panahnya ke beberapa dahan pohon. Ternyata salah satu anak panah itu mengenai seseorang yang kemudian jatuh, Lalu sekelompok orang muncul dari dahan pohon lainnya.
"Hahahahaha, Ternyata benar apa yang orang-orang katakan kau cukup sigap terhadap aura musuh DANANJAYA, Tapi kau Kurang waspada" Ucap salah seorang dari kelompok itu.
Astaka dan Danan kemudian jatuh saat itu juga, Ternyata mereka terkena sumpit yang bisa membuat pingsan.
Ketika mereka sadar mereka sudah berada di sebuah Perkemahan.
"Bangun..Bangun" Ucap Seseorang yang menyiramkan ember berisi air.
Astaka dan Dananjaya kemudian bangun. Tangan dan kaki mereka berdua dalam keadaan terikat serta mereka berada di sebuah tenda. Di depannya terdapat singgasana dimana orang yang berbicara dengan Danan tadi sedang duduk.
"DananJaya seorang Pemanah terhebat di barat sumatra" Ucap orang itu sambil bertepuk tangan.
"Dan kau, Aku tidak tahu namamu tapi aku tahu tanda yang berada di tangan kirimu" Lanjutnya.
Astaka dan Danan hanya diam tidak memperdulikan ucap orang itu.
"Aku akan menunjukanmu satu hal Danan, Dukunku masuklah" Lanjut orang itu sambil memanggil seorang dukun.
"Hamba disini tuan" Jawab dukun di pintu tenda.
"Bacakan segel tumbal" Lanjut orang itu.
Kemudian dukun tersebut mendekati Astaka lalu ia duduk di sebelah kiri Astaka, Sambil mengucapkan Mantta-Mantra.
Selang beberapa menit efek dari segel itu mulai bereaksi, Tangan Astaka berubah menjadi Hitam lalu mata sebelah kiri Astaka berubah menjadi Merah.
Astaka berteriak saat itu
"Arghhhhhh, Lepaskan Aku. Aku akan menguasai Nusantara melalui raga ini" Teriak Astaka.
Danan yang berada di sebelah kanan Astaka seakan tak percaya dengan hal itu.
Orang itu lalu mendekati Danan.
"Apakah kau Tahu Danan? Orang ini adalah tumbal Pemerintah 15 Tahun lalu yang berhasil kabur sebelum di persembahkan kepada penguasa lautan" Ucap orang itu.
"Aku tidak akan menghalangi tujuanmu, Karena tujuanku sama denganmu yaitu mencari pulau Emas" Ucap orang itu.
"Sebaiknya kau berhati-hati dengan temanmu itu, Jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya maka dirimu lah yang akan pertama di bunuh" Lanjut orang sambil berjalan kembali ke singgasanya.
Tak di sangka ternyata tali yang mengikat Astaka putus lalu Astaka berdiri, Ia memegang kepala dukun yang berada di sebelah kiri dengan menggunakan tangan kirinya, kemudian ia mengangkatnya dan memecahkannya dan melemparkan tubuh dukun itu.
"Kekuatan macam apa itu" Ucap Danan dalam hatinya.
Tanpa ada yang menyadari Astaka sudah berada di depan orang yang duduk di singgasan tersebut.
"Mulutmu harimau mu, Tanganku adalah kematianmu" Ucap Danan dengan suara yang berbeda.
Orang itu langsung terbunuh, Kemudian Astaka dengan seketika berada di depan Danan dan mengangkat Danan lalu pergi dari sana, Setelah mereka jauh dari Perkemahan itu Astaka langsung Pingsan.